TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Pelemahan Rupiah juga Dipicu Ekspor yang Lesu

Nurdian Akhmad
29 May 2026 | 16:35
rubrik: Business Info
Tarif Impor 1.147 Produk Dinaikkan Hingga 10 Persen

aktivitas ekspor dan impor barang di pelabuhan/foto: istimewa

Jakarta, TopBusiness – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah saat ini tidak semata-mata berasal dari gejolak global dan arus keluar modal asing. PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai melemahnya permintaan ekspor dari negara-negara mitra dagang utama Indonesia turut memperburuk tekanan terhadap mata uang domestik.

Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, mengatakan kondisi tersebut tercermin dari memburuknya indikator sektor eksternal Indonesia sepanjang kuartal I-2026.

Menurut dia, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat defisit sebesar US$9,1 miliar pada kuartal pertama tahun ini. Sementara itu, defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) melebar menjadi 1,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menjadi yang terdalam sejak kuartal III-2020.

“Tekanan terhadap rupiah tidak semata berasal dari faktor global, tetapi juga dari external imbalance domestik yang semakin lebar,” ujar Jessica dalam keterangannya yang dikutip, Jumat (29/5/2026).

Ia menjelaskan, pelebaran ketidakseimbangan eksternal tersebut diperberat oleh melemahnya permintaan ekspor dari sejumlah mitra dagang utama Indonesia, seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.

Perlambatan ekonomi di negara-negara tersebut berdampak pada penurunan permintaan terhadap berbagai komoditas dan produk ekspor Indonesia, sehingga mengurangi aliran devisa yang masuk ke dalam negeri. Kondisi ini pada akhirnya ikut menekan stabilitas nilai tukar rupiah.

Tekanan terhadap rupiah terlihat pada perdagangan Senin (25/5/2026), ketika mata uang Garuda kembali melemah ke level Rp17.744 per dolar AS.

Di saat yang sama, pasar keuangan domestik juga menghadapi tekanan dari keluarnya dana asing. PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 8,35 persen sepanjang periode 18-22 Mei 2026 dan ditutup di level 6.162,04.

Kapitalisasi pasar juga menyusut 10,07 persen menjadi Rp10.635 triliun atau berkurang sekitar Rp1.190 triliun hanya dalam sepekan.

BACA JUGA:   Booming Batubara Mereda di Tahun Depan? Mirae Asset Sekuritas Sarankan Ini ke Investor

Tekanan terbesar berasal dari rebalancing indeks MSCI yang efektif berlaku mulai 1 Juni 2026. Dalam penyesuaian tersebut, enam saham Indonesia dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index yang berpotensi memicu arus keluar dana asing hingga US$1,7 miliar.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai penguatan IHSG yang terjadi pada awal pekan ini masih bersifat teknikal dan belum mencerminkan perbaikan fundamental.

Pada perdagangan Senin (25/5/2026), IHSG memang sempat menguat 0,72 persen ke level 6.206,35, ditopang kenaikan sejumlah saham berkapitalisasi besar. Namun, penguatan tersebut masih dibayangi aksi jual bersih investor asing (foreign net sell) sekitar Rp2,2 triliun.

“Selama volatilitas rupiah masih tinggi dan foreign outflow belum mereda, investor global cenderung tetap defensif terhadap aset domestik. Penguatan pasar saat ini masih relatif rapuh,” kata Rully.

Menurut dia, perhatian pasar kini tidak lagi hanya tertuju pada arah suku bunga, tetapi juga pada prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah meningkatnya biaya dana dan tekanan eksternal.

Hal tersebut tercermin dari fenomena pendataran kurva imbal hasil (flattening yield curve) obligasi pemerintah setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin.

Kenaikan yield obligasi tenor pendek menunjukkan likuiditas domestik yang semakin ketat akibat kebijakan moneter yang lebih agresif. Sebaliknya, yield tenor panjang yang relatif tertahan mengindikasikan pasar mulai mengantisipasi perlambatan pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah.

“Pasar masuk ke fase di mana investor tidak hanya memperhatikan arah suku bunga, tetapi juga sustainability pertumbuhan ekonomi domestik di tengah biaya dana yang meningkat dan tekanan eksternal yang masih tinggi,” ujarnya.

Untuk meredam tekanan terhadap rupiah, pemerintah bersama Bank Indonesia tengah menyiapkan implementasi aturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang mulai berlaku pada 1 Juni 2026.

BACA JUGA:   Genjot Investor Aktif Pasar Modal, Mirae Asset Luncurkan Aplikasi M-STOCK

Melalui aturan tersebut, eksportir diwajibkan menempatkan devisa hasil ekspor di dalam negeri selama 12 bulan. Selain itu, 50 persen dari devisa hasil ekspor juga wajib dikonversi ke rupiah melalui perbankan domestik.

Jessica menilai kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan permintaan terhadap rupiah dan memperkuat cadangan devisa nasional. Namun, efektivitasnya masih akan menjadi perhatian utama pelaku pasar dalam beberapa bulan mendatang.

“Efektivitas implementasinya akan menjadi salah satu faktor yang dicermati pasar dalam beberapa bulan ke depan,” katanya.

Mirae Asset memperkirakan Bank Indonesia masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25 persen hingga akhir 2026 guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mempertahankan daya tarik instrumen keuangan domestik di tengah tingginya ketidakpastian global.

Tags: Mirae Asset Sekuritaspelemahan rupiah
Previous Post

IHSG Menguat di Akhir Pekan, Saham Perbankan dan Energi Jadi Penggerak Utama

Next Post

Hutama Karya Pantau Trafik Jalan Tol Trans Sumatera Selama Libur Panjang Idul Adha, Waisak, dan Hari Lahir Pancasila Periode 28 Mei 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR