Transportasi publik yang efisien selalu menciptakan nilai tambah bagi properti di sekitarnya.
Dwi Sulistyo merupakan pekerja pariwisata yang mencicipi enaknya transportasi MRT di Jakarta. Dari rumah kontrakannya di kawasan Petogogan, Jakarta Selatan, ia bisa menggunakan MRT dari Blok M menuju kawasan Sudirman; ia tentu tak bersua kemacetan lalu-lintas berkat kereta tersebut. Dari kawasan Sudirman, barulah pemandu wisata kawakan tersebut beralih ke Bus TransJakarta tujuan ke kawasan Kota Tua.
Dan ada hal menarik lainnya, yakni bahwa MRT pun mengguyurkan kenikmatan ke sektor properti. Pagi hari di Jakarta tak lagi sekadar soal berangkat kerja. Di beberapa titik kota, orang-orang kini bergerak dengan ritme baru—turun ke peron, naik ke gerbong, lalu muncul kembali di simpul-simpul yang makin hidup. Disanalah, diam-diam, geliat properti ikut menebal. Jalur MRT bukan cuma lintasan kereta, melainkan jalur rezeki.
Menurut Cushman & Wakefield, denyut baru ini mulai terasa jelas. Kawasan yang dilewati MRT Jakarta perlahan menjelma menjadi magnet—bukan hanya bagi penumpang, tapi juga bagi investor, pengembang, dan pelaku bisnis. “Transportasi publik yang efisien selalu menciptakan nilai tambah bagi properti di sekitarnya,” ujar Direktur Cushman and Wakefield, Arief Rajardjo, dalam paparan riset ke media massa, belum lama ini.
Dalam lanskap kota yang semakin padat, kedekatan dengan stasiun bukan lagi keunggulan tambahan—ia telah menjadi kebutuhan utama.
Di pusat bisnis Jakarta, misalnya, gedung-gedung perkantoran yang bersisian dengan jalur MRT tampak lebih cepat terisi. Tingkat hunian meningkat, bahkan melampaui gedung-gedung yang berdiri sedikit lebih jauh dari rel. Ada semacam logika sederhana: waktu adalah mata uang baru, dan MRT membantu menghematnya.
Sepanjang 2025, penyerapan ruang kantor di kawasan CBD mencapai 105.000 meter persegi. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari perubahan preferensi. Penyewa kini tak lagi sekadar mencari ruang, tapi juga konektivitas. Mereka ingin dekat dengan denyut kota—dan MRT adalah nadinya.
Tak hanya perkantoran. Ritel ikut merasakan berkah. Di titik-titik seperti Blok M, Cipete, hingga kawasan Glodok dan Mangga Dua yang akan tersambung fase berikutnya, pusat-pusat belanja mulai menemukan kembali gairahnya. Kafe, restoran, hingga merek internasional berdatangan, seolah mengikuti arus manusia yang turun dari stasiun.
Tingkat okupansi ritel Jakarta pun bertahan di kisaran 77,2%. Bahkan, kawasan yang berada di sepanjang jalur MRT mencatat peningkatan okupansi rata-rata 1,4% per tahun pascapandemi. Angka kecil yang menyimpan cerita besar: aksesibilitas adalah segalanya.
Di sektor hunian, cerita serupa terulang. Apartemen dan kondominium yang dekat dengan stasiun MRT menunjukkan performa penjualan yang lebih tinggi. Tingkat serapan bisa mencapai 97,2%, melampaui rata-rata kawasan Jabodetabek. Hunian bukan lagi soal luas bangunan, melainkan seberapa dekat ia dengan mobilitas.
Insentif pemerintah seperti PPN DTP memang membantu menjaga daya beli. Namun, kedekatan dengan transportasi publik tetap menjadi faktor pembeda. Hunian yang terhubung dengan MRT, LRT, atau KRL terasa lebih “hidup”—lebih mudah disewakan, lebih cepat terjual, dan lebih menarik bagi investor.
Sektor hotel pun tak ketinggalan. Tingkat hunian rata-rata mencapai 65% pada akhir 2025, dengan hotel-hotel di sepanjang jalur MRT mencatat performa lebih baik. “Para tamu, baik wisatawan maupun pebisnis, kini semakin mempertimbangkan kemudahan akses saat memilih tempat menginap,” ujar Arief lagi.
Sementara itu, geliat di sektor industri bergerak ke arah berbeda—ke timur, menuju Subang dan Purwakarta. Namun tetap, konektivitas menjadi kata kunci. Jalan tol, pelabuhan, hingga jaringan transportasi massal menjadi penentu arah ekspansi.
Di balik semua itu, konsep Transit Oriented Development (TOD) menjadi benang merah. Kawasan tidak lagi dibangun secara terpisah, melainkan terintegrasi—menggabungkan hunian, perkantoran, ritel, dan transportasi dalam satu ekosistem. Kota tak lagi melebar tanpa arah, melainkan tumbuh mengikuti rel.
Jakarta, dengan segala kompleksitasnya, seperti sedang menata ulang dirinya. Dari jalan raya ke rel bawah tanah, dari kemacetan ke konektivitas. Dan di sepanjang jalur MRT, properti menemukan “rasa gurihnya”—perpaduan antara lokasi, akses, dan peluang.
Barangkali, di masa depan, orang tak lagi bertanya “di mana alamatnya?”, melainkan “seberapa dekat dengan MRT?”.
Properti di Koridor MRT Jakarta
| Sektor | Indikator | 2025 | Proyeksi 2026 |
| Perkantoran CBD | Penyerapan bersih | 105.000 m² | Lebih tinggi dari 2025 |
| Tingkat hunian | 76,7% | 78,8% | |
| Harga sewa | Rp173.900/m²/bulan | +4% YoY | |
| Ritel | Okupansi | 77,2% | Stabil |
| Pasokan baru | – | 61.000 m² | |
| Harga sewa | Rp834.900/m²/bulan | Stabil | |
| Kondominium | Pasokan baru | – | 11.300 unit |
| Tingkat serapan | ~94% | Tetap kuat | |
| Apartemen Sewa | Okupansi | Meningkat | Stabil naik |
| Hotel | Tingkat hunian | 65% | Meningkat |
| Pertumbuhan tarif | – | 2–3% | |
| Industri | Permintaan lahan | 250 ha | Meningkat |
| Harga lahan | – | Rp2,98 juta/m² |
Sumber: Riset Cushman and Wakefield; Diolah Menggunakan Open AI
*Tulisan Ini Menggunakan Dukungan Open AI dan Ditinjau oleh Penulis Sebelum Ditayangkan. Pun, Sebelumnya Dimuat di Majalah TopBusiness.
