Jakarta, TopBusiness—Konektivitas terhadap infrastruktur transportasi massal kini semakin menjadi faktor penentu utama kinerja sektor perkantoran di Jakarta, yang secara fundamental mengubah preferensi penyewa serta strategi investasi.
Di tengah meningkatnya tantangan mobilitas di kawasan Jabodetabek, perusahaan mulai mendefinisikan ulang strategi tempat kerja mereka.
“Aksesibilitas terhadap sistem transportasi terintegrasi seperti MRT, LRT, KRL Commuter Line, dan TransJakarta Bus Rapid Transit kini telah menjadi faktor penentu yang memengaruhi keputusan penyewaan serta kinerja aset secara keseluruhan,” kata Bagus Adikusumo, Head of Office Services Colliers Indonesia, dalam analisis yang diterima Redaksi Majalah TopBusiness (17/6/2026).
Ia mengatakan bahwa konektivitas berperan dalam mentransformasi nilai aset real estat. Gedung kantor yang terintegrasi dengan infstruktur transportasi menunjukkan daya tarik permintaan yang lebih tinggi serta ketahanan yang lebih baik, bahkan di tengah kondisi pasar yang dinamis.
Berdasarkan insight terbaru Colliers, ada beberapa temuan utama yang diidentifikasi dalam pasar perkantoran di Jakarta. Yakni: salah satu pendorong utama permintaan perkantoran di Jakarta adalah aksesibilitas, yang semakin melampaui berbagai pertimbangan lainnya; tingkat okupansi yang 8%–9% lebih tinggi tercatat pada gedung perkantoran di Jakarta yang memiliki akses ke MRT dan LRT dibandingkan dengan yang tidak memiliki konektivitas tersebut.
Lalu, ada konektivitas yang kuat antara gedung perkantoran di Jakarta dan jaringan transportasi terintegrasi mendukung prioritas utama penyewa; sinkronisasi antara simpul transportasi dan klaster perkantoran di Jakarta menciptakan “connectivity premium”.
Implikasinya tidak hanya terbatas pada aspek kenyamanan. Ketersediaan akses terhadap jaringan transportasi terintegrasi, berkontribusi pada peningkatan produktivitas, pengurangan tingkat stres di perjalanan, serta mendukung retensi karyawan, yang merupakan faktor semakin penting dalam lingkungan persaingan talenta yang kompetitif.
Bagi gedung kantor yang berada di luar koridor utama transportasi, penerapan strategi adaptif menjadi semakin krusial. “Pemilik gedung dapat meningkatkan data saing melalui cara seperti strategi harga yang kompetitif, penyediaan layanan antar-jemput ke simpul transit, peningkatan fasilitas, serta penyediaan opsi ruang kerja yang fleksibel,” kata Bagus.
