Jakarta, TopBusiness – PT Harta Djaya Karya Tbk (IDX: MEJA) semakin mendekati langkah ekspansi ke sektor pertambangan batubara melalui rencana akuisisi 45% saham PT Trimata Coal Perkasa (TCP). Transaksi tersebut akan dilakukan melalui mekanisme pertukaran saham (swap share) antara pemegang saham pengendali kedua perusahaan.
Rencana transaksi ini merupakan tindak lanjut dari Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang ditandatangani pada 22 Desember 2025 antara PT Triple Berkah Bersama selaku pemegang saham pengendali MEJA dan pemegang saham pengendali TCP.
Direktur Utama TCP, Subagio Wirjoatmojo, menyatakan perseroan telah menyelesaikan sejumlah tahapan penting guna mendukung proses transaksi serta memenuhi kebutuhan dokumen yang diperlukan sebelum MEJA menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) terkait aksi korporasi tersebut.
“TCP sudah siap untuk melakukan swap share dengan MEJA melalui mekanisme sesuai ketentuan yang berlaku di pasar modal,” ujar Subagio, dalam keterbukaan informasi BEI, Kamis (25/6/2026).
Sebagai bagian dari persiapan, TCP telah menunjuk Kantor Akuntan Publik Eric Sentosa Hadiwinata untuk melakukan audit laporan keuangan tahun buku 2025. Hasil audit tersebut dijadwalkan terbit pada awal Juli 2026.
Selain itu, TCP juga telah menunjuk Competent Person (CP) independen, yakni Harry Hadi Syahputra dan Murdiansyah Oktavian, untuk melakukan studi estimasi sumber daya dan cadangan batubara pada konsesi tambang milik perusahaan di Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.
Berdasarkan laporan Competent Person yang diterbitkan pada 1 Juni 2026, TCP memiliki cadangan batubara yang dapat ditambang (mineable reserve) sekitar 400 juta ton. Konsesi tersebut berada dalam wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi yang berlaku hingga November 2033.
Temuan tersebut menjadi salah satu fondasi utama dalam pengembangan bisnis TCP ke depan. Perseroan juga telah menyusun rencana bisnis pengembangan tambang dengan skema pembiayaan yang mengandalkan contractor financing.
Dari hasil kajian tersebut, proyek menunjukkan indikator ekonomi yang dinilai sangat menarik, dengan Net Present Value (NPV) positif, Internal Rate of Return (IRR) mencapai 239,03%, serta periode pengembalian investasi (payback period) sekitar 1 tahun 11 bulan.
Selain itu, nilai ekuitas (equity value) TCP diperkirakan mencapai US$474,9 juta dengan rasio EV/EBITDA sebesar 58,14 kali.
Subagio menambahkan bahwa TCP juga telah menyiapkan sejumlah kerja sama pendukung operasional, termasuk penandatanganan nota kesepahaman dengan kontraktor tambang, investor pembangunan jetty, serta calon pembeli batubara (offtaker).
“TCP telah membuat MOU dengan kontraktor, investor jetty dan offtaker batubara serta siap beroperasi,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama MEJA, Richie Adrian Hartanto, menyampaikan bahwa perseroan saat ini tengah melakukan proses kajian menyeluruh sebelum melanjutkan transaksi akuisisi tersebut.
Menurut Richie, berdasarkan dokumen yang diterima dari TCP, perkembangan persiapan proyek menunjukkan kemajuan signifikan, mulai dari proses audit, studi cadangan tambang, hingga penyusunan rencana bisnis dan kerja sama operasional.
“Perseroan saat ini sedang melakukan proses kajian menyeluruh (due diligence), valuasi independen, serta evaluasi aspek hukum dan kepatuhan sesuai ketentuan pasar modal yang berlaku,” ujar Richie.
Ia menegaskan seluruh tahapan transaksi akan dilakukan dengan mengedepankan prinsip keterbukaan informasi, tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG), serta perlindungan terhadap kepentingan seluruh pemegang saham.
“Perseroan akan memastikan bahwa setiap tahapan transaksi dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip keterbukaan, tata kelola perusahaan yang baik, serta kepentingan seluruh pemegang saham Perseroan,” katanya.
MEJA juga memastikan akan memenuhi seluruh ketentuan regulator apabila transaksi tersebut nantinya masuk kategori transaksi material, transaksi afiliasi, maupun memerlukan persetujuan pemegang saham sesuai regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Rencana masuknya TCP ke dalam ekosistem bisnis MEJA dinilai menjadi langkah strategis bagi perseroan untuk memperluas portofolio usaha ke sektor sumber daya alam. Dengan cadangan batubara yang besar serta kesiapan operasional yang telah dipersiapkan, transaksi swap share ini berpotensi menjadi salah satu aksi korporasi yang menarik perhatian pasar pada tahun ini.
Perseroan menyatakan akan terus menyampaikan perkembangan proses transaksi kepada publik sesuai ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku di pasar modal Indonesia.
