TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Mini LNG Plant di Tuban Resmi Beroperasi, Siap Produksi LPG 9.800 Ton per Tahun untuk Perkuat Pasokan Energi Nasional

Albarsyah
29 June 2026 | 11:37
rubrik: Business Info
Potensi Produksi Gas WK Sengkang Berpotensi Kehilangan Penerimaan Negara

Jakarta, TopBusiness – Pemerintah terus memperkuat pemanfaatan gas bumi sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional. Langkah tersebut ditandai dengan peresmian Mini LNG Plant milik PT Sumber Aneka Gas (SAG) di Tuban, Jawa Timur, oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada Kamis (25/6/2026).

Fasilitas pengolahan gas bumi ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam domestik sekaligus memperkuat pasokan energi bagi sektor industri, pembangkit listrik, dan pasar ritel di berbagai wilayah Indonesia.

Mini LNG Plant PT SAG merupakan fasilitas pengolahan gas dengan konsep multi-produk yang menghasilkan Liquefied Natural Gas (LNG), Compressed Natural Gas (CNG), Liquefied Petroleum Gas (LPG), kondensat, serta dirancang untuk memproduksi CO2 cair (liquid CO2) pada tahap berikutnya.

Pasokan gas untuk fasilitas ini berasal dari Lapangan Sumber yang dikelola PT Pertamina Hulu Energi Tuban East Java dengan volume mencapai 15 juta kaki kubik standar per hari (15 MMSCFD) hingga tahun 2035.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan keberadaan fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan pemanfaatan gas bumi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG.

“Ini kan menghasilkan ada LNG, ada LPG, ada kondensat, dan ada CNG juga. Nah ini merupakan bentuk daripada bauran energi dalam mengurangi impor LPG,” ujar Bahlil dalam keterangan resmi Kementerian ESDM.

Mini LNG Plant tersebut memiliki kapasitas produksi LNG maksimal setara 55.300 ton per tahun dengan dukungan tangki penyimpanan berkapasitas 1.600 meter kubik.

Selain LNG, fasilitas ini juga mampu memproduksi sekitar 9.800 ton LPG per tahun, 19.600 barel kondensat per tahun, serta dirancang menghasilkan hingga 21.000 ton CO2 cair per tahun.

BACA JUGA:   Indonesia Arlines, Maskapai Baru Asal Singapura Ini Siap Hadir di Indonesia

Seluruh hasil produksi direncanakan akan disalurkan untuk memenuhi kebutuhan sektor industri, pasar ritel, hingga pembangkit listrik di wilayah Jawa, Bali, dan Sulawesi. Infrastruktur penyimpanan dan distribusi juga dirancang untuk mendukung rantai pasok LNG berbasis transportasi darat.

Menurut Bahlil, keberadaan tambahan pasokan LNG domestik menjadi penting di tengah dinamika penyediaan gas bumi di sejumlah wilayah. Ia mencontohkan, pasokan gas untuk kawasan industri di Jawa Timur masih relatif stabil, sementara beberapa wilayah seperti Jawa Barat, Banten, Bekasi, dan Jakarta mulai mengalami penurunan pasokan gas akibat menurunnya produksi (lifting) sehingga harus memanfaatkan LNG sebagai alternatif.

“Ini sangat membantu industri dalam rangka memberikan kepastian terhadap bahan baku. Sekarang di Jawa Timur masih oke, harganya masih oke. Di Jawa Barat, Banten, Bekasi, Jakarta, itu terjadi koreksi karena HGBT kita lagi menurun, karena lifting di sana lagi menurun. Terpaksa kita pakai LNG, sehingga harganya memang agak naik. Nah ini yang kita harus cari jalan tengah untuk mendorong ke sana,” jelasnya.

Pemerintah berharap beroperasinya Mini LNG Plant PT SAG mampu meningkatkan pemanfaatan gas bumi untuk kebutuhan domestik, memperkuat keandalan pasokan energi nasional, sekaligus mengurangi penggunaan bahan bakar yang lebih mahal dan menghasilkan emisi lebih tinggi.

Di sisi lain, fasilitas ini juga diharapkan mampu meningkatkan daya saing industri nasional melalui ketersediaan energi yang lebih terjamin.

Dalam kesempatan tersebut, Bahlil juga meminta PT Pertamina Hulu Energi Tuban East Java sebagai pemasok gas agar menjaga kesinambungan pasokan hingga masa kontrak berakhir pada tahun 2035. Kepastian suplai dinilai menjadi faktor penting bagi keberlangsungan investasi yang telah ditanamkan pada proyek tersebut.

“Jangan sampai kalian dua tahun terus macet-macet kan, tidak boleh. Orang sudah investasi besar ini, jadi support terus, pegang itu kontrak, jangan diubah-ubah kontraknya supaya mereka ada kepastian dalam melakukan investasi dalam ke depan,” tegas Bahlil.

BACA JUGA:   Rapat Dewan Gubernur BI ke Depan Tak Dampak IHSG

Dengan mulai beroperasinya Mini LNG Plant di Tuban, pemerintah berharap pemanfaatan gas bumi dapat semakin optimal dalam mendukung kebutuhan energi nasional sekaligus memperkuat ekosistem industri berbasis gas di berbagai wilayah Indonesia.

Tags: kementerian esdm
Previous Post

Stabilitas Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global, Menko Airlangga: Perekonomian Nasional Masih dalam Track yang Positif

Next Post

BLES Optimistis Pertahankan Pertumbuhan Kinerja hingga Akhir 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR