TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Potensi Yield Obligasi Tinggi, Pefindo Sebut Penerbitan Surat Utang di Paruh Kedua Masih Semarak

Busthomi
8 July 2026 | 17:50
rubrik: Capital Market
Pasar Obligasi Menarik, Permintaan ke SBN Masih Tinggi

FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness — Di tengah suku bunga perbankan yang masih tinggi, ternyata tak membuat pasar surat utang, termasuk obligasi menyusut. Menurut ramalan Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO), salah satu penyebab masih semaraknya penerbitan obligasi ini tak lepas dari Tkebutuhan untuk pembiayaan kembali (refinancing).

Direktur Pemeringkatan PEFINDO, Hendro Utomo mengatskan, salah satu faktor utama yang akan menopang penerbitan surat utang pada semester II-2026 adalah besarnya kebutuhan pembiayaan kembali (refinancing).

“Jatuh tempo surat utang korporasi pada semester II-2026 mencapai Rp107,51 triliun,” ungkap Hendro dalam acara Media Forum PEFINDO yang digelar secara daring, Rabu (8/7/2926).

Pefindo memproyeksi nilai penerbitan obligasi mencapai rentang Rp154,00 triliun hingga Rp196,86 triliun, dengan proyeksi tengah mencapai Rp175,77 triliun.

Sebagai gambaran, hingga akhir Juni 2026, jata dia, realisasi penerbitan surat utang telah mencapai Rp87,35 triliun.

Jika laju tersebut berlanjut hingga akhir tahun, total penerbitan diperkirakan mencapai sekitar Rp174,70 triliun.

Kata dia, besarnya nilai surat utang yang jatuh tempo tersebut diperkirakan akan mendorong banyak perusahaan kembali masuk ke pasar obligasi untuk memperoleh pendanaan baru.

Selain kebutuhan refinancing, PEFINDO menilai terdapat sejumlah faktor lain yang mendukung prospek penerbitan surat utang tahun ini, antara lain:

Pertama, pertumbuhan ekonomi nasional yang diperkirakan tetap stabil, didukung kebijakan fiskal yang ekspansif serta kebijakan moneter yang menjaga stabilitas pasar keuangan.

Dan kedua, minat investor terhadap instrumen pendapatan tetap yang masih tinggi, seiring tekanan yang masih membayangi pasar saham, sehingga obligasi menjadi alternatif investasi yang menarik.

Di tempat yang sama, Kepala Divisi Riset Ekonomi sekaligus Chief Economist PEFINDO, Suhindarto, mengatakan pasar surat utang domestik mulai menunjukkan sinyal kewaspadaan terhadap perlambatan ekonomi.

BACA JUGA:   Kantongi Kas Setara Rp38,3 T, Likuiditas Bank Permata Dinilai Superior

Menurutnya, fenomena inversi yield mulai terlihat, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap dampak suku bunga tinggi yang berkepanjangan.

“Terjadi inversi spread yield domestik pada awal Juni 2026. Tekanan di pasar surat utang perlu diwaspadai,” ingat Suhindarto.

Ia menambahkan, peningkatan premi risiko serta penyempitan selisih yield Indonesia dibanding negara sejenis (peers) membuat pasar domestik semakin rentan terhadap koreksi harga maupun arus keluar modal asing (capital outflow).

Di sisi lain, pasokan surat utang pemerintah masih tinggi, sementara SRBI semakin memperketat persaingan di instrumen bebas risiko (risk-free instrument).

“Demand memang masih ditopang Bank Indonesia, tetapi arus investor tetap sangat selektif,” jelasnya.

Menurut Suhindarto, yield obligasi India yang masih menarik serta tingginya imbal hasil SRBI membuat pasar surat utang Indonesia harus menawarkan premi yang cukup besar untuk menarik minat investor asing maupun investor institusi seperti perbankan.

Selain itu, aliran dana asing ke pasar obligasi domestik masih terbatas. Investor domestik, termasuk perbankan, juga cenderung berhati-hati dalam melakukan investasi.

PEFINDO pun menilai terdapat sejumlah faktor utama yang akan menentukan arah pasar surat utang nasional pada paruh kedua tahun ini, yaitu:


1. Risiko geopolitik dan suku bunga tinggi, yang berpotensi menjaga volatilitas pasar sekaligus menahan yield tetap tinggi.

2. Pertumbuhan ekonomi dan inflasi domestik, karena perlambatan ekonomi yang disertai kenaikan inflasi dapat menekan aktivitas dunia usaha dan kebutuhan pembiayaan

3. Pergerakan nilai tukar rupiah, di mana penguatan rupiah akan menjadi sentimen positif bagi pasar obligasi.

4. Defisit fiskal pemerintah, yang apabila tetap terjaga di bawah 3% dari PDB akan meningkatkan kredibilitas fiskal sekaligus mengurangi tekanan penerbitan utang baru.

BACA JUGA:   Pefindo Catat Penerbitan EBUS di Semester I Masih Tinggi, Mayoritas untuk Refinancing

5.. Besarnya jatuh tempo dan penerbitan surat utang pemerintah, yang berpotensi mempertahankan yield pada level tinggi.

6. Penerbitan SRBI dengan imbal hasil tinggi, yang akan terus memengaruhi kenaikan yield jangka pendek di pasar.

7. Jatuh tempo surat utang korporasi sebesar Rp107 triliun pada semester II-2026, yang diperkirakan menjaga aktivitas penerbitan obligasi tetap tinggi karena kebutuhan refinancing

8. Pergerakan yield obligasi korporasi dibanding suku bunga kredit perbankan, karena kenaikan yield di tengah bunga kredit yang relatif stabil dapat mengurangi daya tarik penerbitan obligasi, khususnya bagi emiten dengan peringkat kredit lebih rendah.

“Pasar surat utang korporasi masih memiliki peluang tumbuh pada semester II-2026, terutama ditopang kebutuhan refinancing yang sangat besar,” katanya. 

Namun demikian, keberhasilan penerbitan obligasi akan sangat ditentukan oleh stabilitas pasar keuangan, arah kebijakan moneter global, serta kemampuan emiten menawarkan imbal hasil yang kompetitif di tengah meningkatnya selektivitas investor.

Tags: pefindoPenerbitan obligasisurat utang
Previous Post

SPayLater Dorong Akses Pembiayaan Digital yang Lebih Mudah dan Inklusif

Next Post

IndoBuildTech Expo Part 1 2026 Resmi Dibuka, Perkuat Kolaborasi Industri Bangunan Menuju Masa Depan yang Lebih Inovatif

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR