Jakarta, TopBUsiness – Laju IHSG kemarin ditutup naik 0.04%, tapi masih disertai dengan net sell asing ~160 Miliar. Saham yang paling banyak dijual asing adalah TLKM, BRMS, ASII, BBCA dan ENRG.
Untuk perdagangan hari ini, menurut Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, laju IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan karena sudah 2 hari ini kuat bertahan di support kuat 6000.
“Dengan kondisi itu, level Support IHSG diproyeksi di kisaran 6000-6025 dan level Resist IHSG diramal di rentang 6060-6120,” ujar dia dalam risetnya, Kamis (16/7/2026).
Trading Idea hari ini: BBRI, BREN, AMMN, VKTR, DSSA, dan TPIA
- BBRI Spec Buy dengan area beli di 2810-2830, cutloss di bawah 2800. Target dekat di 2860-2900.
- BREN Spec Buy dengan area beli di 3430, cutloss di bawah 3380. Target dekat di 3490-3520.
- AMMN Spec Buy dengan area beli di 3730-3760, cutloss di bawah 3720. Target dekat di 3820-3920.
- VKTR Buy if Break 720, dengan target dekat di 745-760. Cutloss di bawah 705.
- DSSA Spec Buy dengan area beli di 795-800, cutloss di bawah 790. Target dekat di 810-820.
- TPIA Buy on Weakness dengan area beli di 1865-1910, cutloss di bawah 1850. Target dekat di 1925-1965.
Global Overnight Review
Wall Street Menguat, Saham Big Tech Kembali Bersinar. Indeks-indeks saham Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Rabu (15/7).
Penguatan didorong rally saham-saham teknologi berkapitalisasi besar setelah data terbaru menunjukkan tekanan inflasi AS terus mereda, sehingga meningkatkan optimisme terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.
Indeks S&P 500 naik 0,38%, Nasdaq Composite menguat 0,62%, dan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,29%.
Saham Apple memimpin penguatan dengan lonjakan 4%. Selain itu, Amazon, Alphabet, dan Microsoft masing-masing naik sekitar 3%.
Sedangkan, saham Micron Technology anjlok 8%, diikuti Intel turun lebih dari 4%. Saham Advanced Micro Devices (AMD) dan Lam Research melemah sekitar 3%, dan VanEck Semiconductor ETF (SMH) turun lebih dari 1%.
Sentimen positif datang setelah Presiden The Fed New York John Williams menyatakan terdapat alasan yang cukup kuat untuk meyakini inflasi telah mencapai puncaknya dan akan terus menurun dalam beberapa kuartal mendatang.
Optimisme pasar semakin menguat setelah data Indeks Harga Produsen (PPI) AS secara tak terduga turun 0,3% pada Juni, berlawanan dengan konsensus yang memperkirakan tidak berubah. Sementara, inflasi produsen tercatat 5,5% YoY.
Bursa Asia Menguat, Inflasi AS Turun Redakan Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed. Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Rabu (15/7) setelah inflasi AS secara tak terduga melambat.
Kondisi tersebut meredakan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed, sehingga mendorong sentimen positif pada pasar saham dan obligasi global.
Rally pasar dipimpin oleh indeks KOSPI Korea Selatan yang melonjak 6,2%%, dan Kosdaq melesat 5,8% seiring optimisme investor menjelang laporan keuangan ASML, perusahaan pemasok peralatan semikonduktor terbesar di dunia yang menjadi barometer industri AI.
Sementara itu, indeks Nikkei Jepang 225 naik 1,5%, dan Topix menguat 1,2%. Sentimen positif terutama datang dari data inflasi AS.
Indeks harga konsumen (CPI) AS turun 0,4% pada bulan Juni, menjadi penurunan MoM pertama sejak pandemi Covid-19.
Sementara itu, inflasi inti melambat menjadi 2,6% YoY, lebih rendah dari konsensus sebesar 2,8%.
Di sisi lain, data ekonomi China menjadi penahan optimisme pasar. PDB negeri tersebut hanya tumbuh 4,3% YoY pada 2Q26, lebih rendah dari ekspektasi.
Perlambatan disebabkan lemahnya permintaan domestik dan dampak kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah, meski produksi industri dan ekspor masih cukup kuat. (Source: Investor Daily, Kontan, Bloomberg)
