Jakarta, TopBusiness — Kawasan timur Indonesia terus mempercepat langkahnya untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Salah satu proyek strategis yang tengah dikebut adalah pengembangan Kawasan Industri Malili di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, yang mencakup pembangunan pelabuhan terintegrasi berskala besar.
Salah satu emiten pracetak, PT Wijaya Karya Beton Tbk (WIKA Beton) memasok kebutuhan pondasi Pelabuhan tersebut. Pada Rabu (1/7) dikabarkan ratusan tiang pancang (spun pile) dikirim perdana dari Pabrik Bogor menuju lokasi proyek pelabuhan milik PT Indonesia Huabao Industrial Park (IHIP).
Sebagai infrastruktur yang kelak menjadi akses utama bagi padatnya aktivitas Kawasan Industri Malili, pelabuhan ini menuntut spesifikasi material yang ekstra kuat. Merespons kebutuhan tersebut, WIKA Beton secara khusus memproduksi 633 batang tiang pancang berukuran masif dengan spesifikasi diameter 1,2 meter dan panjang 20 meter.
Penggunaan spesifikasi jumbo tersebut merupakan bagian dari kalkulasi teknis konstruksi. Dengan dimensi raksasa, tiang pancang dirancang mampu menembus lapisan tanah keras di dasar laut secara stabil, kuat menahan beban tonase operasional industri, serta memiliki tingkat resistensi yang tinggi terhadap ancaman korosi air laut.
Menariknya, di balik ukurannya yang masif dan kaku, produk beton ini diklaim tetap memenuhi standar keberlanjutan. Tiang pancang yang diproduksi melalui cetakan Jalur 8 di Pabrik Bogor tersebut berstatus produk “hijau” karena telah mengantongi dua sertifikasi ramah lingkungan berstandar internasional, yakni Environmental Product Declaration (EPD) dan Greenship Solution Endorsement (GSE).
Penyelesaian proyek pelabuhan ini diproyeksikan akan segera membuka keran kemajuan ekonomi dan mempermudah rantai pasok di kawasan timur Indonesia. Di sisi lain, bagi WIKA Beton, keterlibatan dalam proyek berskala besar ini menjadi katalis penting di dalam ekosistem BUMN dan Danantara guna menggenjot kinerja dan mencetak rapor positif perusahaan ke depannya.
