TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Benar telah Amankah?

Achmad Adhito
19 July 2026 | 08:48
rubrik: Featured
Benar telah Amankah?

Sumber Foto: Magnific.com

Berlangsung sejak akhir Februari 2026, perang Iran versus AS-Israel telah menimbulkan gangguan produksi, distribusi, dan rantai pasok perdagangan antarnegara. Pula, menurunkan prospek perekonomian global.

Pukulan beruntun ke perekonomian Indonesia terlihat mereda tipis di sekira minggu terakhir Juni 2026. Sebagai contoh, nilai tukar Rupiah ke USD yang sempat terperosok di Rp18.000-an, menguat tipis ke level Rp17.000-an.

Kemudian, IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) sudah masuk fase rebound setelah terkoreksi panjang—walau tentu belum pulih seperti sedia kala.

Musabab hal itu yakni meredanya ketegangan di Timur Tengah, bukan? Ya, begitulah, pada akhirnya, perang antara Iran versus AS-Israel berakhir melalui sebuah perjanjian damai. Seiring itu, Selat Hormuz kembali bisa dilalui kapal dari berbagai negara, harga minyak pun tak membubung lebih tinggi.

Benar, angin topan ke ekonomi Indonesia memang berkurang. Tetapi bisa dikatakan belum sepenuhnya lenyap tak berbekas. Di ranah bursa saham, pengumuman dari MSCI Inc., yang menyatakan bahwa bursa saham Indonesia masih bisa diturunkan levelnya ke frontier market di akhir 2026 (kini level emerging market masih dipertahankan), menggoyang kembali IHSG.

Tak ayal, dalam akun medsosnya, pengamat saham Andri Zakarias Siregar menyebut bahwa pengumuman MSCI itu tak ubahnya ‘lampu kuning’ buat pasar saham Indonesia.

Adapun nilai tukar Rupiah ke USD kembali bergerak mendekati level Rp18.000-an.

Sedikit Lega

Lahirnya perjanjian damai antara Iran dengan AS-Israel memang mendinginkan perekonomian global. Namun, tentu saja bukan berarti bahwa generator perdamaian di Timur Tengah akan berjalan mulus. Ya, kemungkinan berikutnya masih ditunggu oleh masyarakat global—sudah tentu yang diharapkan yakni bahwa api perang itu tak lagi berkobar.

Mari kita andaikan bahwa, nantinya, perundingan tersebut menghasilkan kesepakatan damai. Tentu, dunia bisa sedikit bernapas lega karena kemungkinan banyaknya korban perang dan kemerosotan ekonomi, bisa berkurang banyak.

BACA JUGA:   Agar UMKM kian Hijau

Namun, apakah frasa ‘berkurang banyak’ itu sinonim dengan frasa ‘pemulihan yang mulus’? Mungkin belum tentu begitu.

Pasalnya, sebelum adanya perundingan di Swiss itu, berbagai dampak akibat perang itu sudah muncul. Antara lain: harga minyak yang dalam tren naik, level suku bunga bank yang naik secara global, dan lain-lain. Dan, dampak seperti itu tentunya tak bisa langsung raib.

Adapun petinggi Bank Indonesia (BI) memprediksi bahwa ketidakpastian global akibat perang di Timur Tengah tetap tinggi, meskipun sedikit mereda setelah dilakukannya interim deal antara Amerika Serikat (AS)-Iran tanggal 14 Juni 2026.

Perang yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026 telah menimbulkan gangguan produksi, distribusi, dan rantai pasok perdagangan antarnegara serta menurunkan prospek perekonomian global.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 diprakirakan tetap rendah sebesar 3,0% dan diikuti naiknya tekanan inflasi menjadi sekitar 4,4%.

Sejumlah bank sentral mulai menaikkan suku bunga kebijakannya untuk merespons kenaikan inflasi tersebut.

Suku bunga kebijakan moneter AS, Fed Funds Rate, saat ini dipertahankan pada level 3,50-3,75%, dan ke depan terdapat kemungkinan akan naik seiring dengan prospek inflasi AS yang lebih tinggi.

Imbal hasil (yield) US Treasury tetap tinggi mencapai 4,49% (tenor 10 tahun) dan 4,18% (tenor 2 tahun) pada tanggal 17 Juni 2026 didorong oleh defisit fiskal yang membesar.

Indeks dolar AS terhadap negara maju (DXY) dan negara berkembang (ADXY) tetap kuat. Akibatnya, preferensi penempatan investor global ke negara Emerging Markets (EMs) belum kuat dan beralih ke aset aman (safe-haven assets) di negara maju.

Ke depan, perkembangan negosiasi antara AS dan Iran terkait kesepakatan penyelesaian konflik di Timur Tengah diperkirakan masih dinamis sehingga memerlukan kewaspadaan. “Serta perlu penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memerkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” kata Perry.

BACA JUGA:   Pasar ‘Wah’ yang Berderap Walau Pelan

Jadi, sangat mungkin bahwa ekonomi global atau juga ekonomi RI masih perlu waktu untuk transisi ke arah pemulihan/percepatan, bila perdamaian itu memang terjadi.

Walau begitu, bersyukurlah bahwa pertumbuhan ekonomi makro Indonesia terbilang masih aman-terkendali. Pihak Kebun Sirih alias BI pun membilang bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga baik didukung oleh permintaan domestik.

Investasi juga meningkat tecermin pada Purchasing Manager Index (PMI) yang berada pada zona ekspansi, terutama didukung investasi bangunan terkait proyek Pemerintah. Sementara dari sisi eksternal, ekspor perlu terus didorong guna memanfaatkan tingginya harga komoditas dunia, di tengah melambatnya prospek pertumbuhan ekonomi global. 

Ke depan, berbagai program stimulus Pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat serta implementasi program prioritas terus dioptimalkan untuk mendorong sumber-sumber pertumbuhan ekonomi dari permintaan domestik. “Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 berada dalam kisaran 4,9–5,7%,” kata Perry Warjiyo ke media massa.

Amien, semoga saja prediksi tersebut tepat dan ekonomi nasional tak lagi tersedak oleh angin topan ekonomi global, ya.

*Tulisan Ini Sebelumnya juga Dimuat di Majalah TopBusiness Edisi Juli 2026

Tags: dampak ekonomi perang iran-as
Previous Post

Menteri Dody Sapa Siswa dan Tinjau Fasilitas Modern Sekolah Rakyat di Semarang

Next Post

Pertamina Drilling Sukses Laksanakan Water Injectivitiy Test Perdana di Lapangan Jatibarang

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR