Jakarta, TopBusiness – PT Multi Citra Rasa (Rasa Group) mempercepat ekspansi bisnis ke pasar global dengan membidik kawasan Timur Tengah, Australia, Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat. Langkah tersebut dilakukan setelah perusahaan memperkuat distribusi produk di sejumlah negara Asia Tenggara dalam dua tahun terakhir.
Ekspansi tersebut didukung oleh peluncuran House of Rasa di PIK 2, Tangerang, yang difungsikan sebagai pusat inovasi dan kolaborasi industri food and beverage (F&B).
CEO Rasa Group Sherley Ruslie mengatakan strategi perusahaan tidak hanya berfokus pada peningkatan ekspor produk, tetapi juga membangun kehadiran merek Indonesia di pasar internasional.
“Dengan dibukanya Flagship House of Rasa ini mengizinkan kami membuka pintu ke internasional lainnya seperti Middle East, USA market, Australia market, Korea, Jepang, dan lain-lain,” ujar Sherley dalam keterangan tertulis, Senin (20/7/2026).
Menurut dia, sejak 2024 perusahaan telah mengembangkan pasar ekspor ke sejumlah negara Asia Tenggara seperti Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Kamboja, dan Malaysia. Ke depan, perusahaan akan memperluas jangkauan distribusi ke pasar yang lebih besar di luar kawasan tersebut.
Sherley menegaskan pendekatan yang dilakukan perusahaan berbeda dengan eksportir komoditas pada umumnya. Rasa Group, kata dia, berupaya membawa merek Indonesia agar dapat dikenal dan bersaing di pasar global.
Saat ini, salah satu produk unggulan perusahaan, yakni sirup merek Dripp, telah dipasarkan ke Thailand dan Filipina dengan volume pengiriman mencapai belasan kontainer setiap bulan untuk masing-masing negara. Selain itu, produk kopi perusahaan juga telah menembus pasar China.
Di tengah upaya ekspansi internasional, Indonesia tetap menjadi pasar utama perusahaan. Namun, pertumbuhan industri F&B di kawasan Asia Tenggara dinilai masih menawarkan peluang yang besar untuk dikembangkan.
Untuk mendukung strategi tersebut, House of Rasa dibangun tidak hanya sebagai kantor pusat perusahaan, tetapi juga sebagai Innovation & Collaboration Hub yang mempertemukan berbagai pelaku industri dalam satu ekosistem.
Fasilitas tersebut mencakup Beverage Lab, Culinary Lab, Coffee Experience Center, Training Center, serta ruang kolaborasi dan pengembangan jaringan bisnis yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku industri, pemasok, komunitas, hingga talenta F&B.
Rasa Group juga membuka peluang kerja sama strategis dan pengembangan bisnis lintas negara sebagai bagian dari rencana pertumbuhan jangka panjang. Meski demikian, perusahaan memastikan belum memiliki rencana melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO) pada tahun ini.
Di tengah tantangan berupa kenaikan biaya logistik, inflasi, dan harga bahan baku, perusahaan tetap optimistis dapat membukukan pertumbuhan kinerja dua digit hingga akhir 2026.
“Kami target optimistis bisnis pasti masih tumbuh double digit,” kata Sherley.
Peresmian House of Rasa turut dihadiri Direktur Kriya, Kuliner, Desain, dan Fesyen Kementerian Ekonomi Kreatif Yuke Sri Rahayu. Menurutnya, sektor kuliner masih menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif nasional dengan porsi sekitar 41 persen pada 2025.
Yuke mengatakan pemerintah terus mendorong hilirisasi produk lokal agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi merek asing, tetapi juga mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi dengan merek yang kuat dan berdaya saing global.
Ia menambahkan, tiga subsektor utama ekonomi kreatif, yakni kuliner, fesyen, serta televisi dan radio/video, berkontribusi sekitar 69,42 persen terhadap total PDB ekonomi kreatif nasional yang mencapai Rp1.757,87 triliun pada 2025 dengan pertumbuhan 6,86 persen.
