TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Pembiayaan Tumbuh 159%, GRC Jadi Pengawal Ekspansi LiuGong Finance

Nurdian Akhmad
14 August 2026 | 14:15
rubrik: Business Info, Event, GCG
Pembiayaan Tumbuh 159%, GRC Jadi Pengawal Ekspansi LiuGong Finance

Jakarta, TopBusiness – PT LiuGong Finance Indonesia (LFI) mencatat akselerasi kinerja dalam fase awal pengembangan bisnis pembiayaan alat berat. Hingga Juni 2026, nilai pembiayaan perseroan telah mencapai Rp 605,8 miliar, meningkat 159,3% dibandingkan akhir 2025.

Ekspansi tersebut diikuti peningkatan jumlah customer aktif dari lima menjadi 30 perusahaan dan membawa LiuGong Finance menempati peringkat ketujuh di industri pembiayaan alat berat di Indonesia.

Yang menarik, pertumbuhan agresif tersebut tetap diiringi dengan pengendalian risiko. Perseroan mampu mempertahankan NPF dan overdue di atas 0 hari pada level 0%, diikuti peningkatan ROA sebesar 2,16 percentage point dan perbaikan BOPO.

Kinerja tersebut menjadi salah satu bukti bahwa strategi pertumbuhan LiuGong Finance berjalan beriringan dengan penguatan governance, risk management, dan compliance (GRC) sebagai bagian dari strategi bisnis perusahaan.

Hal itu dipaparkan manajemen PT LiuGong Finance Indonesia dalam sesi presentasi penjurian TOP GRC Awards 2026 yang dilakukan secara daring, Kamis (13/8/2026). Tim LiuGong Finance yang hadir dalam penjurian ini, Rachmat Hidayat (Legal and Compliance Department Head dan Raditya Rezki Pradipta (Risk Management Department Head).

Risk Management Department Head PT LiuGong Finance Indonesia Raditya Rezki Pradipta mengatakan, perseroan memperoleh izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Juli 2025 dan mulai menyalurkan pembiayaan pertama pada September tahun yang sama. “Start kita license itu Juli 2025, cuma first financing kita ada di bulan September 2025,” ujar Rezki.

Menurut dia, pertumbuhan yang dicapai dalam waktu relatif singkat tersebut tidak terlepas dari perkembangan bisnis LiuGong di pasar alat berat Indonesia.

Hingga 30 Juni 2026, penjualan alat berat LiuGong tercatat mencapai 1.557 unit dengan nilai sekitar Rp 1,8 triliun. Ekosistem bisnis tersebut didukung sembilan dealer di Indonesia dan sekitar 30 perusahaan pembiayaan.

LiuGong Finance mengambil posisi sebagai bagian dari ekosistem tersebut dengan fokus pada pembiayaan alat berat dan parts bermerek LiuGong untuk kebutuhan produktif.

Masuk Peringkat Ketujuh

Pertumbuhan portofolio bisnis juga membawa perubahan terhadap posisi LiuGong Finance dalam industri pembiayaan alat berat.

Rezki mengatakan, pada Desember 2025 perseroan belum masuk jajaran tiga besar perusahaan pembiayaan alat berat. Namun, pada Juni 2026 posisi perusahaan telah mencapai peringkat ketujuh.

BACA JUGA:   GRC Sebagai Fondasi Keberlanjutan di Waskita Beton Precast

“Desember kita masih belum masuk ke top company heavy equipment financing. Dan posisi Juni 2026 kita sudah langsung masuk ke top 10 perusahaan pembiayaan alat berat di urutan ketujuh,” katanya.

Menurut dia, pencapaian tersebut menunjukkan adanya akselerasi bisnis yang cukup cepat sejak perseroan mulai beroperasi.

Produk pembiayaan yang ditawarkan meliputi finance lease, sale and leaseback, factoring with recourse, factoring without recourse, instalment financing, hingga project financing. Fokus utama diarahkan pada kebutuhan pembiayaan alat berat untuk kegiatan produktif.

Risiko Jadi Bagian dari Ekspansi

Di tengah ekspansi tersebut, manajemen menempatkan kualitas pembiayaan sebagai salah satu indikator utama keberhasilan bisnis.

Raditya mengatakan, LiuGong Finance tidak hanya mengandalkan pemeriksaan pada saat pembiayaan diberikan, tetapi melakukan pemantauan secara berkelanjutan terhadap kondisi customer dan sektor usahanya.

“Secara asset quality, posisi sekarang kita masih maintain di zero NPF. Bahkan overdue lebih dari 0 hari itu kita juga masih belum ada,” ujarnya.

Materi penjurian mencatat kualitas portofolio tersebut didukung oleh proses underwriting dan continuous monitoring yang disiplin. Dengan demikian, pertumbuhan bisnis tetap diarahkan dalam batas risk appetite yang telah ditetapkan perusahaan.

Pendekatan pengelolaan risiko juga dilakukan dengan melihat kondisi eksternal. Perseroan memantau sejumlah indikator makroekonomi, mulai dari pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, inflasi, suku bunga hingga kondisi fiskal.

“Makro level itu ada indikator makro yang kita monitor seperti GDP, forex, inflasi, interest rates dan fiskal Indonesia,” kata Rezki.

Pemantauan kemudian dilanjutkan pada level industri dan customer. LiuGong Finance melihat perkembangan industri jasa keuangan, posisi perusahaan dibandingkan kompetitor, pertumbuhan aset, kualitas pembiayaan, hingga market share.

Antisipasi Risiko Komoditas

Karakteristik bisnis alat berat membuat risiko sektor komoditas menjadi perhatian penting dalam manajemen risiko LiuGong Finance.

Customer perseroan antara lain bergerak pada sektor batu bara, nikel, dan kelapa sawit. Karena itu, perubahan harga komoditas berpotensi memengaruhi arus kas dan kemampuan bayar customer.

Untuk mengantisipasinya, perseroan melakukan stress test baik pada level perusahaan maupun customer. “Jadi kita melakukan stress test terkait commodity price tidak hanya kepada company stress, tapi kita juga melakukan customer sensitivity,” jelas Rezki.

BACA JUGA:   Panin Asset Management Perkuat GRC Terintegrasi untuk Menjaga Ketahanan Bisnis Berkelanjutan

Ia mengatakan, pengujian tersebut digunakan untuk melihat seberapa sensitif customer terhadap perubahan harga komoditas. “Seberapa besar sensitivitas customer kita atas volatility commodity price untuk bisnis,” ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, perseroan dapat mengidentifikasi potensi tekanan terhadap portofolio sebelum risiko berkembang menjadi masalah kualitas pembiayaan.

Efisiensi Ikut Menguat

Selain pertumbuhan pembiayaan dan kualitas aset, LiuGong Finance juga mencatat perbaikan pada sejumlah indikator efisiensi.

Materi penjurian menunjukkan ROA meningkat 2,16 percentage point, sementara BOPO mengalami perbaikan secara material. Perbaikan tersebut terjadi seiring bertambahnya aset dan efisiensi yang dilakukan perseroan pada 2026.

“Secara profitability, dari end of year 2025 kita ada kenaikan return on asset and equity, dikarenakan memang penambahan aset yang kita buat dari amount finance dan penurunan BOPO. Ada efisiensi yang kita lakukan di tahun 2026,” kata Rezki.

Dari sisi permodalan, ia memastikan posisi perusahaan masih berada dalam koridor yang ditetapkan.

“Secara capital adequacy ratio kita juga masih within our risk appetite, masih dalam kategori sehat berdasarkan internal appetite maupun OJK,” ujarnya.

GRC Dibangun Sejak Pendirian

Penguatan GRC menjadi salah satu fondasi yang telah disiapkan LiuGong Finance sejak awal. Legal and Compliance Department Head PT LiuGong Finance Indonesia Rachmat Hidayat menjelaskan, struktur governance, risk management, dan compliance telah dibangun sejak proses pengajuan izin kepada OJK.

“Dalam prosesnya, kita mulai dari perizinan saat kita mengajukan perizinan ke OJK. OJK ternyata requirement-nya sudah langsung harus full. Fungsi-fungsinya harus sudah lengkap, kebijakan-kebijakannya harus sudah lengkap,” ujar Rachmat.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat GRC menjadi bagian dari desain perusahaan sejak awal, bukan fungsi yang baru dibangun setelah perusahaan berkembang.

“Jadi memang sejak awal implementasi dari tata kelola, risk management, dan compliance itu sudah ada,” katanya.

Materi perseroan menunjukkan fondasi governance tersebut antara lain diwujudkan melalui struktur organisasi yang jelas, penerapan Three Lines of Defense, fungsi Internal Audit, Risk Management, dan Compliance, serta keberadaan sejumlah komite pengawasan. Struktur organisasi juga disusun untuk memenuhi ketentuan POJK No. 46 Tahun 2024.

Rachmat juga menekankan pentingnya independensi fungsi compliance. Perseroan menerapkan segregation of duties dan memiliki direktur yang secara khusus bertanggung jawab terhadap fungsi kepatuhan.

BACA JUGA:   Hanwha Life Perkuat GRC untuk Jaga Kepercayaan Nasabah dan Keberlanjutan Bisnis

“Pertama yang dilakukan adalah adanya segregation of duties, di mana fungsi kepatuhan mulai dari direktur kita punya direktur khusus untuk fungsi kepatuhan,” jelasnya.

Fungsi compliance juga tidak diperbolehkan merangkap dengan fungsi marketing, operation, maupun finance. “Compliance function ini dilarang untuk merangkap jabatan ke fungsi marketing, fungsi operation, dan fungsi keuangan,” katanya.

Pengawasan diperkuat dengan keberadaan Audit Committee, Risk Monitoring Committee, serta Remuneration and Nomination Committee. Selain itu, Dewan Direksi dan Dewan Komisaris memiliki agenda rapat berkala untuk memastikan pengawasan terhadap kegiatan perusahaan berjalan konsisten.

Menuju GRC Berbasis Data

Seiring pertumbuhan bisnis, LiuGong Finance juga mulai mengarahkan GRC menuju sistem yang lebih terintegrasi dan berbasis data.

Dalam roadmap perusahaan, 2024 menjadi fase Foundation, 2025 Managed, 2026 Integrated, dan mulai 2027 diarahkan menuju tahap Intelligent. Pada tahap terakhir, GRC akan dikembangkan menuju pemanfaatan predictive insight dan continuous assurance.

Pengembangan tersebut mencakup pemanfaatan dashboard, analitik, stress testing, ECL, risk-based pricing, pemetaan regulasi, serta sistem EMOTICON untuk mempercepat deteksi dan eskalasi risiko.

Dari sisi kepatuhan, Rachmat mengungkapkan bahwa semakin kompleksnya regulasi industri pembiayaan juga menuntut perusahaan memiliki sistem monitoring yang lebih kuat.

“Ada juga advice dari Dewan Komisaris kita yang menyarankan perusahaan untuk memiliki yang namanya compliance regulatory system,” ujar Rachmat.

Selain membangun sistem internal, perusahaan juga memperkuat kolaborasi dengan asosiasi industri dan regulator agar implementasi ketentuan baru dapat dilakukan secara tepat.

Penerapan GRC tersebut turut tercermin dalam penilaian eksternal maupun internal perusahaan. LiuGong Finance mencatat Company Soundness Score 1,84 dengan kategori Healthy. Untuk periode Desember 2025, tingkat kesehatan komposit perusahaan berada pada Level 2 – Healthy.

Perseroan juga memperoleh peringkat kredit idAA+ dengan Stable Outlook dari PEFINDO. Peringkat tersebut menunjukkan kapasitas yang sangat kuat dalam memenuhi komitmen keuangan jangka panjang dan didukung oleh ekosistem bisnis serta pemegang saham utama, Guangxi LiuGong Machinery.

Berkat pencapaian tersebut, LiuGong Finance Indonesia tahun ini terpilih menjadi kandidat peraih TOP GRC Awards2026.

Tags: PT LiuGong Finance IndonesiaTOP GRC Awards 2026
Previous Post

Pertamina Drilling Bidik Pasar Global, Siapkan Ekspansi ke Aljazair dan Irak

Next Post

Dari Siapa Bandara Kediri Ketambahan Modal Rp200 Miliar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR