TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

GRC Jadi Fondasi InJourney Hospitality Mengawal Konsolidasi Hotel BUMN

Busthomi
15 August 2026 | 14:56
rubrik: Event, GCG
Tarik Pengunjung, The Meru Sanur di KEK Sanur Gelar ‘Melukat dan Pratiti’

Salah satu hotel yang dikelola oleh InJourney Hospitality di Bali. FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness – PT Hotel Indonesia Natour (InJourney Hospitality) menempatkan governance, risk management, dan compliance (GRC) bukan sekadar sebagai perangkat kepatuhan, melainkan sebagai fondasi dalam mengawal strategi bisnis, konsolidasi portofolio hotel, hingga transformasi hospitality yang berkelanjutan.

Langkah tersebut menjadi semakin penting seiring mandat InJourney Hospitality dalam proses konsolidasi hotel BUMN. Perseroan menilai penguatan tata kelola, manajemen risiko, pengendalian internal, dan kepatuhan harus berjalan beriringan dengan ekspansi serta pengembangan bisnis.

Dalam materi penjurian TOP GRC Awards 2026, InJourney Hospitality mengusung tema “Intelligent GRC for Sustainable Hospitality Transformation” dengan menempatkan GRC sebagai sistem yang terintegrasi dengan strategi bisnis dan keberlanjutan.

Komitmen itu antara lain terlihat dari penerapan three lines model, penguatan organ pengelola risiko, penetapan risk appetite dan risk threshold, pemantauan key risk indicators (KRI), stress testing, penguatan regulatory intelligence, hingga integrasi aspek ESG ke dalam tata kelola dan manajemen risiko.

Komisaris Utama PT Hotel Indonesia Natour, Bonny Anang Dwijayanto, mengatakan GRC harus ditempatkan sebagai bagian yang melekat dalam proses pengambilan keputusan perusahaan.

Menurut dia, fungsi pengawasan bukan hanya melihat apakah sebuah kebijakan telah sesuai dengan aturan, tetapi juga memastikan keputusan bisnis memiliki dasar tata kelola dan pengelolaan risiko yang memadai.

“Kalau dari dokumen risiko, kita bisa menarik risiko apa yang memang perlu kita mitigasi agar tujuan perusahaan bisa tercapai,” ujar Bonny dalam sesi penjurian TOP GRC Awards 2026, secara online, Selasa (11/8/2026).

Pernyataan tersebut menggambarkan pendekatan InJourney Hospitality dalam melihat manajemen risiko. Risiko tidak cukup hanya dipetakan berdasarkan tingkatannya, tetapi harus diterjemahkan menjadi langkah mitigasi yang konkret dan berkaitan langsung dengan sasaran perusahaan.

Menurut Bonny, governance, risk management, internal audit, dan compliance merupakan satu rangkaian yang saling berkaitan. Karena itu, penguatan GRC juga harus ditopang struktur organisasi yang jelas, pembagian tugas dan tanggung jawab, serta tone at the top dari jajaran pimpinan.

GRC Kawal Ekspansi dan Konsolidasi

Kebutuhan terhadap GRC yang kuat semakin relevan karena InJourney Hospitality tengah memperkuat portofolio bisnis hospitality.

Dalam presentasinya, perusahaan menjelaskan bahwa InJourney Hospitality merupakan bagian dari ekosistem InJourney dan berperan dalam bisnis perhotelan serta Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur.

Perusahaan memiliki lini bisnis hotel operatorship, hotel ownership, dan pengembangan kawasan The Sanur. Pada 2025, InJourney Hospitality mengelola 36 unit properti yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, dengan sebaran utama di Jawa dan Bali.

BACA JUGA:   Dukung Budaya Bersih di BUMN, Askrindo Tegaskan Komitmen Anti Korupsi

Dalam materi presentasi juga disebutkan bahwa perusahaan tengah menjalankan konsolidasi hotel BUMN tahap pertama.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat portofolio, melakukan standardisasi, mengoptimalkan aset, serta membangun bisnis hospitality yang lebih terintegrasi. Di sinilah, menurut manajemen, GRC memainkan peran strategis.

InJourney Hospitality menegaskan bahwa sebagai perusahaan yang mendapatkan mandat sebagai konsolidator hotel BUMN, perusahaan membutuhkan GRC yang kuat untuk menciptakan transformasi hospitality yang berkelanjutan.

Dalam materi presentasinya, GRC ditempatkan pada empat fungsi utama: melindungi nilai, memungkinkan strategi, memperkuat kepercayaan, dan menciptakan nilai berkelanjutan.

Dari sisi perlindungan nilai, pengelolaan risiko, kepatuhan, dan pengendalian internal diarahkan untuk melindungi aset, reputasi, serta keberlangsungan bisnis.

Dari sisi strategi, GRC diintegrasikan ke dalam investasi, aksi korporasi, dan pengambilan keputusan. Sementara dari sisi kepercayaan, tata kelola yang baik, integritas, akuntabilitas, dan transparansi menjadi fondasi untuk menjaga kepercayaan pemangku kepentingan.

Adapun dalam konteks keberlanjutan, GRC diarahkan untuk mendukung konsolidasi hotel BUMN, standardisasi proses dan layanan, efisiensi serta optimalisasi aset, hingga pertumbuhan portofolio hospitality secara berkelanjutan.

Risiko Masuk ke Dalam Strategi Bisnis

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Hotel Indonesia Natour, Bram Ismail menambahkan, manajemen risiko telah diintegrasikan ke dalam setiap strategi dan keputusan bisnis perusahaan.

Menurut Bram, ketika perusahaan melakukan pengambilalihan atau konsolidasi aset hotel, proses tersebut tidak hanya dilihat dari sisi peluang bisnis, tetapi juga dari sisi risiko dan langkah mitigasinya. “Kita mau mengintegrasikan risiko dan kontrol ke dalam setiap strategi,” kata Bram, saat penjurian offline di Gedung Sarinah, Jakarta, di waktu yang sama.

Dengan pendekatan tersebut, perusahaan terlebih dahulu mengidentifikasi risiko dan peluang, melakukan pemetaan risiko, menentukan top risks, serta menetapkan risk appetite dan risk tolerance.

Proses tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemantauan risiko dan evaluasi secara berkala.

Bram menekankan bahwa pendekatan tersebut penting karena ekspansi dan konsolidasi bisnis tidak dapat dilepaskan dari berbagai risiko, termasuk risiko eksternal.

Karena itu, perusahaan tidak hanya mengidentifikasi risiko, tetapi juga menentukan tindakan mitigasi dan memastikan risiko residual setelah mitigasi tetap berada dalam batas yang dapat diterima.

Dalam materi presentasi, InJourney Hospitality menyebut telah menetapkan 10 risiko utama perusahaan yang dimonitor setiap bulan. Selain itu, terdapat 20 parameter KRI yang digunakan sebagai indikator pemantauan.

Pengelolaan risiko juga dilengkapi dengan early warning system, mekanisme eskalasi, serta management action ketika terdapat risiko yang mendekati atau melewati ambang batas.

BACA JUGA:   PDAM Tirta Ayu Tingkatkan Kemampuan HC, Laba dan Performa Perusahaan Melambung

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan peningkatan kematangan manajemen risiko. Materi perusahaan menunjukkan Risk Maturity Index (RMI) meningkat dari 2,02 pada 2023 menjadi 2,88 pada 2024 dan 2,93 pada 2025.

Delapan Organ Pengelola Risiko

Penguatan GRC juga dilakukan melalui struktur governance yang lebih jelas. Dalam materi presentasi, InJourney Hospitality menyebut telah memenuhi delapan organ pengelola risiko sesuai ketentuan yang menjadi acuan perusahaan, yakni Dewan Komisaris, Dewan Direksi, Komite Audit, Komite Pemantau Risiko, Komite Tata Kelola Terintegrasi, Direktur yang membidangi risiko, Direktur yang membidangi keuangan, dan Satuan Pengawas Intern.

Struktur tersebut kemudian diintegrasikan dengan Three Lines Model. Pada lini pertama, unit bisnis dan fungsi operasional menjadi pemilik risiko sekaligus pelaksana kegiatan sehari-hari untuk mencapai tujuan bisnis.

Lini kedua berperan sebagai pendamping dan pengawas, termasuk menyediakan kerangka kerja, kebijakan, monitoring, serta challenge terhadap pengelolaan risiko dan kepatuhan.

Sementara lini ketiga memberikan independent assurance melalui fungsi Satuan Pengawasan Intern.

Model tersebut dimaksudkan untuk menciptakan kejelasan akuntabilitas, pengawasan yang efektif, serta independent assurance mulai dari tingkat dewan hingga pelaksanaan bisnis.

Bagi Bonny, struktur tersebut harus dibarengi dengan pemahaman yang sama di seluruh organisasi mengenai pentingnya risiko. Karena itu, tone at the top menjadi bagian penting dalam membangun budaya GRC.

Dalam presentasi InJourney Hospitality, Direksi dan Dewan Komisaris disebut secara konsisten menekankan pentingnya GRC dalam berbagai forum perusahaan.

Pesan tersebut disampaikan antara lain melalui town hall meeting dan annual gathering, sehingga GRC tidak berhenti pada tingkat kebijakan, tetapi menjadi pesan yang diteruskan kepada seluruh insan perusahaan.

Setiap risiko utama juga memiliki risk owner yang berasal dari level VP atau fungsi terkait. Dengan demikian, tanggung jawab atas pengelolaan risiko menjadi lebih jelas.

Budaya GRC dan Penguatan Compliance

Budaya GRC kemudian diperkuat melalui sosialisasi rutin serta pengembangan kapabilitas melalui pelatihan dan sertifikasi.

Bonny mengatakan, budaya dan sistem pengendalian harus berjalan bersama. Dalam konteks BUMN, nilai-nilai AKHLAK—Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif—menjadi bagian dari fondasi budaya perusahaan.

Menurutnya, berbagai kebijakan dan prosedur yang dibangun perusahaan pada akhirnya memiliki satu tujuan, yakni meminimalkan risiko yang dapat menghambat pencapaian visi dan misi perusahaan.

Selain manajemen risiko, InJourney Hospitality memperkuat aspek kepatuhan melalui pendekatan regulatory intelligence.

Dalam materi presentasi, proses kepatuhan mencakup identifikasi, pemetaan, dan pemantauan regulasi yang relevan dengan proses bisnis serta kewajiban perusahaan.

BACA JUGA:   Talent Mobility & HCMS Jadi Pilar UNIQLO Indonesia Hadapi Persaingan Ritel

Perusahaan melakukan pembaruan regulasi dari sumber resmi, memetakan regulasi sesuai proses bisnis dan unit kerja, mengidentifikasi kewajiban kepatuhan, serta menentukan dokumen dan bukti yang diperlukan.

Di sisi integritas, perusahaan juga memiliki pedoman etika dan perilaku, Sistem Manajemen Anti-Penyuapan (SMAP), serta Whistleblowing System (WBS).

Sistem pengaduan tersebut terintegrasi dengan InJourney Holding dan memberikan perlindungan terhadap identitas whistleblower.

Menurut materi presentasi, mekanisme speak-up tersebut mencakup tahapan awareness, reporting, verification, hingga follow-up.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa kepatuhan tidak diposisikan sebagai aktivitas administratif semata. Kepatuhan diarahkan menjadi bagian dari sistem pengendalian dan perlindungan perusahaan.

Digitalisasi untuk Keputusan Berbasis Data

Penguatan GRC juga didukung oleh pemanfaatan data dan teknologi. InJourney Hospitality mengembangkan ekosistem digital yang menghubungkan proses bisnis, kinerja, data pasar, risiko, dan kepatuhan.

Dalam operasional bisnis, sistem terintegrasi digunakan untuk mendukung proses keuangan, pengadaan, sumber daya manusia, hingga pengelolaan hotel.

Sementara itu, dashboard eksekutif digunakan untuk memantau kinerja hotel secara real-time.

Perusahaan juga menggunakan data pasar melalui market intelligence dan benchmarking untuk mendukung strategi harga serta optimalisasi pendapatan.

Pada sisi GRC, teknologi dimanfaatkan untuk regulatory intelligence, pelaporan pelanggaran, pemantauan risiko dan KRI, hingga pemberian sinyal awal terhadap risiko okupansi dan average room rate.

Dengan demikian, data tidak hanya digunakan untuk melihat kinerja masa lalu, tetapi juga membantu manajemen mengambil keputusan secara lebih cepat dan berbasis informasi.

GRC dan Perbaikan Kinerja

Manajemen InJourney Hospitality juga mengaitkan peningkatan kematangan GRC dengan perkembangan kinerja perusahaan.

Untuk pendapatan usaha meningkat dari sekitar Rp620,71 miliar pada 2023 menjadi Rp1,145 triliun pada 2025, atau tumbuh dengan CAGR 34,6%. Total aset meningkat dari Rp4,508 triliun menjadi Rp5,221 triliun dalam periode yang sama.

Yang paling mencolok adalah perubahan kinerja laba. Perusahaan mencatat rugi bersih sekitar Rp538,81 miliar pada 2023, kemudian berbalik menjadi laba bersih Rp263,11 juta pada 2024 dan meningkat menjadi sekitar Rp30,60 miliar pada 2025.

EBITDA juga meningkat dari sekitar Rp121,49 miliar pada 2023 menjadi Rp286,13 miliar pada 2025.

“Perbaikan tersebut sejalan dengan peningkatan kematangan GRC dan penerapan tata kelola yang baik. Pada 2025, dari sisi operasional, pendapatan tumbuh 21%, EBITDA meningkat 100%, dan laba bersih tumbuh 160%. Sementara average room rate hotel operatorship meningkat 12%. Jadi, penguatan fundamental bisnis perlu berjalan beriringan dengan penguatan tata kelola dan pengelolaan Risiko,” pungkas Bram.

Tags: HINInJourney HospitalityTOP GRC Awards 2026
Previous Post

Asuransi Sinar Mas Dorong UMKM Bandar Lampung Cermat Kelola Keuangan dan Risiko

Next Post

BEI: Data Perdagangan Periode 10 – 14 Agustus Ditutup Bervariasi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR