TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

GRC Jadi Kompas Krakatau Sarana Infrastruktur Kawal Pertumbuhan Bisnis dan Transformasi Kawasan Industri

Busthomi
1 September 2026 | 12:12
rubrik: Event, GCG
GRC Jadi Kompas Krakatau Sarana Infrastruktur Kawal Pertumbuhan Bisnis dan Transformasi Kawasan Industri

FOTO: TopBusiness

Jakarta, TopBusiness – Di balik geliat kawasan industri, ada persoalan yang tidak kalah penting dari sekadar membangun infrastruktur: bagaimana memastikan seluruh ekosistem bisnis tetap berjalan, tumbuh, sekaligus tahan menghadapi risiko.

Bagi PT Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI), pertanyaan tersebut dijawab melalui penguatan governance, risk management, and compliance (GRC). Bukan ditempatkan sebagai perangkat administratif yang bekerja setelah keputusan dibuat, GRC justru didorong masuk lebih awal ke dalam proses bisnis dan pengambilan keputusan.

Pendekatan tersebut menjadi semakin penting karena KSI bukan hanya mengelola kawasan industri. Sebagai subholding infrastruktur PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, KSI mengelola ekosistem yang mencakup kawasan industri, kepelabuhanan, logistik, air industri, listrik, properti, perhotelan, pergudangan, perkantoran, teknologi informasi hingga berbagai jasa pendukung.

VP Corporate Secretary PT Krakatau Sarana Infrastruktur Ahmad Iqbal mengatakan, perusahaan tidak ingin menempatkan GRC sebatas sebagai instrumen pemenuhan kewajiban.

“GRC di PT KSI bukan sekadar kepatuhan administratif, melainkan alat bantu pengambilan keputusan yang cerdas untuk mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,” katanya saat penjurian TOP GRC Awards 2026, Kamis (27/8/2026).

Menurut dia, komitmen tersebut dimulai dari tingkat tertinggi perusahaan melalui tone at the top, dengan Direksi memberikan arahan terhadap penerapan GRC dan Dewan Komisaris menjalankan fungsi pengawasan.

KSI juga membangun pembagian peran yang jelas melalui Three Lines Model. Lini pertama berada pada unit kerja atau pemilik proses bisnis yang secara langsung mengidentifikasi dan mengelola risiko. Lini kedua dijalankan fungsi risk management dan compliance, sedangkan lini ketiga merupakan Internal Audit yang memberikan assurance secara independen.

Dengan model tersebut, risiko tidak lagi dipandang sebagai urusan satu divisi. Risk owner dan risk agent ditempatkan di berbagai unit kerja, sehingga pengelolaan risiko menjadi bagian dari proses bisnis sehari-hari.

Risiko Masuk Sejak Awal Keputusan Bisnis

Penerapan GRC yang lebih terintegrasi terlihat dari keterlibatan fungsi manajemen risiko dalam berbagai proyek dan aksi korporasi.

IT & Management System Manager PT KSI Aries Pratama Putra mengatakan, kompleksitas pengelolaan risiko tidak bisa dilepaskan dari perkembangan kawasan industri yang dikelola perusahaan.

“Semakin besar dan terintegrasi kawasan yang dikelola, semakin kompleks pula risiko yang dihadapi.”

BACA JUGA:   Hadapi Industri Semen yang Sarat Tekanan, Semen Gresik Andalkan GRC dan AI Perkuat Ketahanan Bisnis

KSI sendiri tengah mengembangkan kawasan industri di Anyer, Serang, Banten, yang diarahkan untuk menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Pengembangan tersebut mengusung konsep smart and green industrial park dan dikaitkan dengan agenda hilirisasi serta industrialisasi.

Dalam konteks kawasan industri, KSI melihat setidaknya tiga kepentingan yang harus dijaga secara bersamaan, yakni daya saing ekonomi, keandalan operasional, dan keberlanjutan.

Daya saing menyangkut tarif, kemudahan investasi tenant, efisiensi dan konektivitas rantai pasok. Sementara keandalan operasional mencakup listrik, air, gas, infrastruktur, business continuity hingga keamanan siber. Di sisi lain, aspek keberlanjutan mencakup efisiensi energi, pengelolaan limbah, energi terbarukan dan dekarbonisasi.

Karena itu, manajemen risiko KSI tidak menunggu sebuah proyek berjalan untuk kemudian melakukan penilaian. Fungsi tersebut dilibatkan sejak tahap awal, mulai dari identifikasi peluang bisnis, analisis komersial dan finansial, risk assessment, kajian compliance dan legal, keputusan manajemen hingga value creation.

Salah satu contohnya adalah proses pengajuan Kawasan Industri Krakatau 3 menjadi KEK. Perspektif risiko dimasukkan sejak awal agar keputusan manajemen memiliki gambaran yang lebih komprehensif mengenai potensi risiko dan manfaat proyek.

Pendekatan itu memperlihatkan perubahan posisi GRC. Fungsi tersebut tidak hanya bertugas mengawasi dari belakang, tetapi ikut memberikan perspektif ketika perusahaan akan mengambil keputusan strategis.

Ketika Risiko Masuk ke Layar Digital

Transformasi GRC KSI juga berjalan melalui digitalisasi. Perusahaan mengembangkan SMARTDIGI, sistem manajemen risiko terintegrasi digital yang digunakan untuk pengelolaan risiko di KSI dan grup, termasuk pelaporan risiko proses bisnis dan proyek.

Sistem ini dilengkapi early warning system untuk mendeteksi potensi risiko lebih awal, memungkinkan tindakan preventif, sekaligus menyediakan informasi bagi manajemen untuk mengambil keputusan secara cepat dan akurat.

Bagi perusahaan yang mengelola infrastruktur industri, kecepatan menjadi penting. Risiko operasional yang terlambat diketahui dapat berujung pada gangguan layanan, biaya tambahan hingga terganggunya hubungan dengan pelanggan.

Karena itu, SMARTDIGI dilengkapi dashboard dan pemetaan risiko yang memungkinkan proses eskalasi dilakukan sesuai tingkat risiko.

KSI juga mengembangkan SIBAJA (Sistem Batasan Jaminan) untuk memantau kepatuhan terhadap berbagai covenant pembiayaan. Sistem tersebut ditujukan untuk memastikan seluruh persyaratan pembiayaan terpantau sekaligus memberikan peringatan dini sebelum terjadi potensi breach atau default.

BACA JUGA:   PDSI Andalkan GRC untuk Mendorong Efisiensi, Profitabilitas, dan Ekspansi Bisnis

Dalam sistem tersebut, KSI menetapkan target 100% covenant terpantau, early warning 30–90 hari sebelum potensi breach, serta zero covenant breach. Aplikasi SIBAJA juga telah tercatat memiliki hak cipta di Kementerian Hukum dan HAM.

Digitalisasi juga masuk ke fungsi audit melalui Internal Audit Management System (IAMS).

Aplikasi ini mengintegrasikan proses audit mulai dari perencanaan, persiapan, pelaksanaan, pelaporan, tindak lanjut hingga monitoring. Dengan demikian, setiap temuan dapat tercatat dan dipantau status penyelesaiannya. IAMS juga telah tercatat memiliki hak cipta di Kementerian Hukum dan HAM.

Audit Bukan Sekadar Mencari Temuan

Di sisi lain, Internal Audit ditempatkan sebagai bagian dari mekanisme assurance yang memberikan insight bagi manajemen.

Internal Audit Manager PT KSI Rizqi Liliaty menjelaskan, fungsi audit tidak berhenti pada pemeriksaan kepatuhan, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat tata kelola dan membantu manajemen dalam mengambil keputusan.

“Internal Audit memastikan pelaksanaan audit berjalan efektif serta memberikan assurance dan insight untuk memperkuat tata kelola dan mendukung pengambilan keputusan manajemen.”

Sepanjang 2025, KSI merealisasikan kegiatan assurance sesuai rencana audit internal dan juga melakukan kegiatan consulting. Dalam materi penjurian, kegiatan tersebut antara lain mencakup audit petty cash, evaluasi whistleblowing system, audit pembebasan lahan, evaluasi pelaksanaan Good Corporate Governance, serta pengelolaan kearsipan.

Dengan dukungan sistem digital, fungsi assurance diharapkan tidak hanya mampu menemukan persoalan, tetapi juga memastikan tindak lanjutnya tidak terputus.

Governance Dibangun dari Aturan hingga Budaya

Penguatan GRC KSI juga ditopang fondasi kebijakan yang cukup lengkap. Perusahaan memiliki Board of Director Manual, Board of Commissioner Manual, GCG Manual, pedoman etika bisnis dan etika kerja, pedoman manajemen risiko, pedoman whistleblowing system, pedoman gratifikasi, pedoman benturan kepentingan, prosedur audit internal terintegrasi hingga pedoman IAMS.

Namun, aturan saja tidak cukup. KSI juga membangun budaya risiko melalui forum Unit Pengelola Manajemen Risiko serta pelatihan bagi risk agent.

Dalam roadmap ERM 2026–2030, KSI menetapkan tahapan pengembangan dari control and feasibility, risk-revenue linkage, predictive risk and group integration, hingga value creator and market leader. Sasaran akhirnya adalah menjadikan manajemen risiko sebagai bagian dari keunggulan kompetitif perusahaan.

BACA JUGA:   Mang Jasri, Upaya PLN NP Muara Karang Dukung Bisnis Berkelanjutan

Hasil penguatan tata kelola tersebut tercermin dari skor GCG internal KSI yang meningkat dari 82,26 pada 2019 menjadi 88,95 pada 2025, dengan predikat Baik. Sebelumnya, pada periode 2010–2015, KSI juga tercatat memperoleh predikat Trusted Company dalam penilaian eksternal.

GRC Menopang Bisnis yang Lebih Tangguh

Pada akhirnya, efektivitas GRC menjaga bisnis tetap berjalan positif. Hal tersebut terlihat dari kinerja KSI pada 2025. Pendapatan perusahaan tumbuh 19,6% dibandingkan 2024, sementara EBITDA meningkat 8,2%. Di saat yang sama, kenaikan beban penjualan, umum, dan administrasi dibatasi 2,6%, sedangkan beban keuangan berhasil ditekan 28,7%. Total aset tumbuh 4,7% dan ekuitas meningkat 3,2%.

Ketahanan bisnis juga menjadi perhatian khusus mengingat kawasan industri KSI berada di zona megathrust Selat Sunda.

Karena itu, KSI menerapkan Business Continuity Planning dengan menetapkan Maximum Acceptable Outage (MAO) berdasarkan tingkat prioritas gangguan. Untuk kondisi ekstrem, toleransi gangguan ditetapkan kurang dari 12 jam.

Dari GRC Menuju Smart and Green Industrial Estate

KSI juga menempatkan ESG sebagai bagian dari strategi bisnis dan risiko jangka panjang melalui ESG Roadmap 2025–2045 yang mencakup 18 fokus keberlanjutan dalam aspek environment, social, dan governance. Tujuan akhirnya adalah membangun sustainable integrated smart and green industrial estate.

Implementasinya antara lain melalui penanaman 1.000 pohon di wilayah operasional, transisi penggunaan kendaraan listrik dan pemanfaatan panel surya. KSI juga menjalankan program pembinaan UMKM Gipang.

Dengan seluruh fondasi tersebut, GRC KSI kini bergerak melampaui fungsi pengendalian internal. Sistem risiko, kepatuhan, audit, ESG, teknologi informasi, dan business continuity ditempatkan dalam satu kerangka untuk memastikan ekspansi bisnis tetap memiliki pijakan yang kuat.

Bahkan, inovasi GRC KSI mulai direplikasi di dalam ekosistem Krakatau Group. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk disebut telah mengajukan permintaan penerapan SMARTDIGI di tingkat induk perusahaan. Sementara PT Krakatau Baja Konstruksi juga melakukan benchmarking penerapan manajemen risiko dan tata kelola dengan KSI.

Di titik inilah GRC memperoleh makna yang lebih strategis bagi KSI: bukan sekadar pagar untuk mencegah kesalahan, melainkan kompas untuk menentukan arah pertumbuhan.

Tags: PT Krakatau Sarana InfratsrukturTOP GRC Awards 2026
Previous Post

BTN Dukung Rumah Cahaya, 30 Pahlawan Indonesia Terima Hunian Layak

Next Post

Saluran Sekunder Tambun Dinormalisasi, 875,68 Hektare Sawah Karawang Terairi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR