TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Rekomendasi Saham Pekan Ini

Achmad Adhito
14 September 2026 | 08:46
rubrik: Capital Market
Hari Ini, Transaksi Saham Bernilai Rp 6,7 Triliun

Bursa Efek Indonesia (Dhi/TopBusiness)

Jakarta, TopBusiness—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pekan 7-11 September 2026 di level 6.541,37 atau turun -1,43% secara mingguan. Koreksi ini terjadi setelah indeks sebelumnya berhasil mendekati area resistance 6.705, sehingga tekanan pekan lalu itu dapat dilihat sebagai kombinasi profit taking dan meningkatnya ketidakpastian global. Kenaikan harga minyak dan meningkatnya perhatian terhadap arah kebijakan moneter global menjadi katalis yang membuat investor cenderung lebih defensif.

Analis saham Indo Premier Sekuritas (Ipot), Imam Gunadi, dalam riset yang diterima pagi ini oleh Majalah TopBusiness, menjelaskan: ada sejumlah sentimen global yang memengaruhi arah IHSG pekan lalu, dalam hal itu dinamika sentimen global diwarnai oleh eskalasi risiko pasokan energi serta respons geopolitik dari blok ekonomi berkembang.

OPEC+ memutuskan untuk menahan kenaikan produksi minyak pada Oktober 2026 di tengah gangguan pasokan signifikan di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb, yang melengkapi penurunan produksi 11 anggota OPEC hingga 19,71 juta bpd (barrels per day) pada Agustus akibat ketegangan kawasan.

Di saat bersamaan, KTT BRICS 2026 menghasilkan New Delhi Declaration yang menyerukan perlindungan jalur energi global, penolakan sanksi sepihak, dedolarisasi pragmatis melalui transaksi mata uang lokal, penguatan supply chain, hingga memicu perbaikan hubungan ekonomi antara India dan China.

Di sisi lain, tekanan inflasi makro ekonomi global terus memanas di dua kekuatan utama dunia. Di Amerika Serikat, lonjakan sektor energi, terutama kenaikan solar (+24,1% mom) dan bensin mendorong kenaikan PPI ke 5,4% (yoy) dan CPI bulanan ke 0,4% (mom), sehingga melambungkan ekspektasi pasar hingga 82%–90% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertengahan September 2026.

Sementara itu, ekonomi China juga menghadapi tekanan dari sisi hulu setelah PPI melonjak ke 3,8% (yoy) selama enam bulan berturut-turut, berdampingan dengan penguatan CPI konsumen di level 0,8% (yoy).

BACA JUGA:   Saham Mitratel Resmi Melantai di BEI

Sementera itu dari domestik, ada sentimen Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia pada Agustus 2026 yang mulai menunjukkan pemulihan awal (early recovery) dengan naik 1,7 poin ke level 118,5, ditopang oleh menguatnya porsi belanja konsumsi masyarakat (dari 72,7% menjadi 74,2%) serta meningkatnya minat pembelian barang tahan lama (durable goods).

“Perbaikan keyakinan ini utamanya didorong oleh tergerusnya porsi simpanan tabungan konsumen (turun dari 16,8% menjadi 15,8%) alih-alih kenaikan pendapatan riil, dan pemulihannya masih belum merata karena kenaikan IKK hanya terjadi di 6 dari 18 kota yang disurvei Bank Indonesia,” tegas Imam.

Kendati demikian, imbuhnya, konsumen tetap optimistis terhadap prospek ekonomi ke depan, terbukti dari Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang melonjak ke posisi 127,6, jauh melampaui Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang berada di level 109,4.

Rekomendasi Pekan Ini

Memasuki pekan 14-18 September 2026 perhatian pasar global akan tertuju pada keputusan kebijakan moneter dua bank sentral utama, yakni Federal Reserve (The Fed) dan Bank of Japan (BoJ).

The Fed memiliki agenda utama dengan keputusan suku bunga yang akan diumumkan pada Kamis, 17 September 2026 pukul 01.00 WIB. Konsensus pasar saat ini memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps). Ekspektasi tersebut semakin menguat setelah data inflasi bulanan Amerika Serikat pada Agustus 2026 dari 0,1% pada juli, naik ke 0,4%, begitu juga dengan inflasi inti yang naik dari 0,2% ke 0,3%.

Perhatian kemudian berlanjut ke Bank of Japan (BoJ) yang dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Jumat, 18 September 2026. Konsensus juga memperkirakan BoJ menaikkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 1,25%, yang akan menjadi level tertinggi dalam sekitar 31 tahun. Ekspektasi kenaikan ini didukung oleh masih tingginya inflasi, pelemahan yen dan kenaikan harga energi.

BACA JUGA:   Pagi Ini Indeks Saham Balik ke 6000-an

“Kenaikan suku bunga BoJ juga perlu diperhatikan karena dapat memicu perubahan posisi pada yen carry trade, sementara keputusan The Fed akan menjadi penentu utama arah likuiditas global dan appetite terhadap risk asset,” tandas Imam.

Selain itu, investor juga perlu mencermati bukan hanya apakah kenaikan 25 bps terealisasi sesuai konsensus, tetapi juga apakah komunikasi kedua bank sentral memberikan sinyal hawkish atau dovish untuk pertemuan berikutnya.

Barbicara tentang proyeksi IHSG, Imam menegaskan memasuki pekan 14-18 September, katalis IHSG masih cenderung mixed. Di satu sisi, pasar akan mendapatkan kepastian arah kebijakan The Fed yang diperkirakan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis point, setelah tekanan inflasi AS kembali meningkat. Di sisi lain, keputusan Bank of Japan (BoJ) juga menjadi perhatian karena pasar memperkirakan kenaikan 25 basis poin menjadi 1,25%.

“Kenaikan suku bunga kedua bank sentral berpotensi menekan appetite terhadap aset berisiko, terutama apabila komunikasi keduanya lebih hawkish dari ekspektasi.”

Ia menegaskan secara teknikal, momentum jangka pendek memang mengalami pelemahan, terlihat dari IHSG yang ditutup di bawah MA20 di sekitar 6.623. Akan tetapi, pelemahan tersebut belum cukup untuk mengonfirmasi perubahan tren menjadi bearish.

“Hal yang menarik justru terlihat pada candle terakhir. IHSG sempat turun hingga 6.462, tetapi berhasil ditutup kembali di 6.541, sehingga membentuk lower shadow yang relatif panjang. Pola ini menunjukkan adanya rejection terhadap tekanan jual di area bawah.”

Ia menambahkan meskipun secara warna candle masih merah, karakteristiknya menyerupai bullish hammer, sehingga penembusan MA20 masih dapat dikategorikan sebagai false break atau liquidity grab apabila IHSG mampu kembali naik di atas MA20 pada perdagangan berikutnya.

BACA JUGA:   Rekomendasi Minggu Ini: Saham-saham Bullish

Imam kemudian merekomendasikan saham dan reksa dana ini:

  1. Buy ASII (Entry: 4840-4910, Target Price: 5275, Stop Loss: < 4720). Penjualan mobil nasional menunjukkan pemulihan yang semakin solid. Berdasarkan data GAIKINDO, penjualan wholesales Agustus 2026 mencapai 81.756 unit, naik 32,4% yoy dan 0,8% mom, sekaligus menjadi level bulanan tertinggi sepanjang 2026. Dari sisi retail, penjualan juga tumbuh 25,5% yoy menjadi 83.422 unit. Secara kumulatif Januari-Agustus 2026, wholesales telah mencapai 599.491 unit atau tumbuh 20,1% yoy, sementara retail sales mencapai 594.984 unit atau naik 13,9% yoy.
  2. Buy CPIN (Entry: 3160, Target Price: 3380, Stop Loss: <3050). Pemulihan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak 14 Juli turut menjadi salah satu faktor yang mendorong permintaan broiler. Kami memperkirakan harga broiler FY26F dapat bertahan di sekitar Rp21.300/kg, naik 10,5% yoy, sehingga kami menaikkan estimasi laba FY26F CPIN sebesar 18%, dengan proyeksi pertumbuhan laba sekitar 27,4% yoy. Margin pakan berpotensi tetap terjaga. Ini penting karena ada risiko El Niño meningkatkan harga jagung lokal. Namun, dengan harga broiler yang kuat, CPIN diperkirakan memiliki kemampuan lebih baik untuk melakukan pass-through kenaikan biaya input.
  3. Buy EXCL (Entry: 2630, Target Price: 2810, Stop Loss: < 2540). Pada 4 September 2026, XLSMART menaikkan capitalized capex 2026 menjadi sekitar Rp20 triliun. Ini menunjukkan perseroan masih agresif mengalokasikan investasi untuk pengembangan jaringan dan integrasi paska merger.
  4. Buy Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD). Dengan kondisi pasar yang masih sensitif terhadap arah suku bunga dan volatilitas IHSG, ETF berbasis high dividend bernama Power Fund Series (PFS) XIHD relatif menarik bagi investor yang mencari income/yield.
Tags: ipotrekomendasi saham mingguan
Previous Post

Awal Pekan Ada Potensi Rebound, Yuk Trading Saham Ini: BBRI, DEWA, JPFA, TPIA, BIPI, dan INKP

Next Post

Awal Pekan Ini, IHSG Dibuka Melemah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR