Jakarta, TopBusiness — PT Bank Sahabat Sampoerna (BSS) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sektor usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui pembaruan strategi tata kelola Human Capital (HC). Sebagai bank yang berfokus pada pembiayaan UMKM dan layanan Digital Banking, BSS meyakini bahwa keunggulan pelayanan bisnis berakar dari kapabilitas sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni, terukur, dan terintegrasi.
Anak perusahaan dari grup Sampoerna ini—dengan kepemilikan saham mayoritas oleh PT Sampoerna Investama (57,265%), Xendit Pte Ltd (24,192%), PT Cakrawala Mulia Prima (12,726%), Abakus Global Pte Ltd (2,270%), Sutan Agung Mulyadi (2,222%), Eka Dharmajanto Kasih (0,707%), dan Melvin Wangkar (0,618%)—saat ini didukung oleh 51 jaringan kantor operasional dan non-operasional di seluruh Indonesia.
Dalam paparannya di hadapan dewan juri Top HC Award 2026, Selasa (29/9/2026), Chief Human Capital Officer BSS, Adriana R. Novitasari, menegaskan pentingnya peranan Human Capital Management System (HCMS) berbasis digital dan data dalam menentukan arah pertumbuhan bisnis bank secara berkelanjutan.
1. Keterlibatan Aktif Manajemen (Board Ownership) dalam Pengembangan Leader
BSS menerapkan keterlibatan langsung Board of Management (BOM) dalam seluruh siklus kepemimpinan untuk memastikan kualitas talenta internal:
- Program “Sahabat Menyapa”: Sesi bulanan pengembangan profesional dan kepemimpinan di mana jajaran BOM bergantian menjadi pemateri.
- Pengawalan Jalur Talenta (SMDP): CEO dan BOM bertindak sebagai komite seleksi, mentor, hingga penguji debrief akhir untuk Sahabat Management Development Program (SMDP).
- Komite Promosi dan Proyek Strategis: Pejabat senior level Group Head ke atas melalui penilaian komite, sementara proyek strategis mendapatkan pengarahan langsung dari pimpinan puncak.
- Evaluasi Kepemimpinan: Pelaksanaan Leadership 360 Survey secara periodik untuk level BOM dan 1-down BOM guna menjaga transparansi dan efektivitas gaya kepemimpinan.
2. Penguatan Tata Kelola & Digitalisasi Layanan HC
Tata kelola HC di BSS diselaraskan dengan kebutuhan regulasi dan kemajuan teknologi:
- Kepatuhan dan Kebijakan: Kebijakan HC (Peraturan Perusahaan, SOP, dan Juklak) disusun patuh terhadap regulasi Kemnaker, OJK, dan Bank Indonesia melalui uji kepatuhan (compliance test).
- Penyelarasan Strategi (Strategy Alignment): Penyelarasan indikator kinerja individu dan unit kerja dengan Corporate KPI.
- Transformasi Digital dan AI: Layanan administrasi berbasis Human Capital Information System (HCIS) berprinsip paperless (e-transaction) yang kini mulai diarahkan pada integrasi Artificial Intelligence (AI). Pengambilan keputusan strategis didukung data People Dashboard yang valid dan real-time.
3. Human Capital Scorecard & Pengembangan Kompetensi
Sepanjang tahun 2025, BSS mencatatkan pencapaian signifikan dalam peningkatan kapasitas SDM dan pengelolaan kerja:
- Pengembangan & Pelatihan: Terselenggara pelatihan fungsional yang diikuti 5.703 partisipan, 502 penerima sertifikasi, serta pencapaian rasio pelatihan rata-rata 3 kali per karyawan dalam setahun.
- Fasilitas Pembelajaran: Tersedianya Digital Library untuk pembelajaran mandiri serta modul soft skill dan fungsional yang relevan.
- Remunerasi & Kesejahteraan: Penilaian kinerja dilakukan dua kali per tahun secara transparan. Pengelolaan remunerasi dan penggajian disusun secara akurat, kompetitif melalui salary survey berkala, serta patuh pada regulasi ketenagakerjaan dan perpajakan (termasuk UUCK). Program wellness juga diselenggarakan secara rutin untuk menjaga kesejahteraan karyawan.
4. Optimalisasi Talent Mobility dan Produktivitas Organisasi
BSS berfokus memanfaatkan potensi internal untuk memenuhi kebutuhan talenta (right talent, right capability, right business demand) guna mengurangi ketergantungan pada external hiring:
- Rekrutmen Internal & Promosi: Melalui Internal Job Posting (IJP) sepanjang tahun 2025, terdapat 15 pembukaan posisi yang diikuti lebih dari 50 kandidat. Sebanyak 26 karyawan berhasil mendapatkan promosi jabatan internal (24 posisi middle manager dan 2 posisi senior manager).
- Rotasi Jabatan & Program SMDP: Peserta SMDP menjalani rotasi kerja melalui On the Job Training (OJT) dan project assignment selama 2,5 tahun dari total masa program 2 tahun 8 bulan.
- Efisiensi & Produktivitas Cabang: Optimalisasi struktur organisasi di cabang ESME berhasil ditingkatkan hingga 37,5%. Efisiensi headcount fungsi credit (dari 8 menjadi 5 orang per cabang) mampu meningkatkan produktivitas persetujuan kredit (credit approval) dari 3,3 menjadi 5,3 proposal per orang per bulan.
“Dengan SDM yang siap menghadapi tantangan masa depan dan didukung keunggulan tata kelola HC, Bank Sahabat Sampoerna optimistis bisnis perbankan kami dapat terus tumbuh sekaligus memberikan kontribusi nyata dalam mendorong UMKM di Indonesia naik kelas,” tutup Adriana.
