TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Bio Farma dan 23 Century Medical Group Jajaki Kolaborasi Terapi Sel Punca

Nurdian Akhmad
12 October 2026 | 16:38
rubrik: Business Info
Bio Farma dan 23 Century Medical Group Jajaki Kolaborasi Terapi Sel Punca

Jakarta, TopBusiness – PT Bio Farma (Persero) memperluas penjajakan bisnis di sektor bioteknologi kesehatan melalui kemitraan dengan 23 Century Medical Group Sdn Bhd asal Malaysia. Kedua perusahaan menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) untuk menjajaki registrasi, komersialisasi, dan distribusi produk berbasis sel punca (stem cell) dan sekretom (secretome) di Indonesia.

Penandatanganan MoU berlangsung di Jakarta pada 9 Oktober 2026. Direktur Riset dan Pengembangan Bio Farma, Dicky Mahardhika Taryono, dan Managing Director 23 Century Medical Group, Datok Seri Dr. David Mah, menandatangani kesepakatan tersebut.

Acara ini turut disaksikan Staf Khusus Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Didi Apriadi, Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya, serta CEO 23 Century Medical Group Dr. Angelina Tiah.

Kerja sama ini menjadi langkah awal untuk mengeksplorasi peluang pengembangan terapi seluler dan pengobatan regeneratif di Indonesia. Kedua pihak akan mempelajari kesiapan pasar, persyaratan regulasi, model komersialisasi, serta sistem distribusi yang sesuai dengan standar mutu dan kebutuhan sistem kesehatan nasional.

Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya mengatakan, penjajakan tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas kapabilitas di bidang terapi seluler dan pengobatan regeneratif. Langkah ini sekaligus mendukung transformasi Bio Farma dalam memperkuat bisnis life science.

“Bagi Bio Farma, pengembangan bidang ini merupakan langkah strategis yang sejalan dengan pengalaman panjang kami dalam pengembangan vaksin dan produk farmasi konvensional. Dari perspektif riset dan pengembangan, kami memandang kemitraan ini sebagai peluang untuk meningkatkan pengetahuan serta membangun kapabilitas yang akan memperkuat ekosistem bioteknologi Indonesia,” ujar Shadiq dalam keterangannya, Senin (12/10/2026).

Menurut dia, pengalaman Bio Farma dalam industri vaksin dan farmasi menjadi modal untuk menjajaki pengembangan teknologi kesehatan baru. Namun, penguatan kemampuan di bidang terapi seluler tetap membutuhkan proses bertahap, termasuk peningkatan kompetensi riset, pemenuhan standar mutu, dan kesiapan industri.

BACA JUGA:   Mulai Juli, Bio Farma Mampu Pasok 1 Juta Vaksin per Hari

Shadiq juga mengapresiasi dukungan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM dalam mendorong investasi sektor bioteknologi dan kesehatan, khususnya untuk memperkuat kemampuan manufaktur dalam negeri.

Direktur Riset dan Pengembangan Bio Farma Dicky Mahardhika Taryono menambahkan, penguatan kompetensi di bidang bioteknologi merupakan bagian dari agenda jangka panjang untuk membangun ketahanan dan kemandirian kesehatan nasional.

Upaya tersebut, kata dia, perlu dikembangkan secara bertahap, mulai dari riset dan pengembangan, peningkatan kapasitas tenaga ahli, hingga penguatan sistem mutu layanan kesehatan.

Sementara itu, CEO 23 Century Medical Group Dr. Angelina Tiah Shy Yng menilai perkembangan dunia medis semakin mengarah pada pendekatan yang berupaya memulihkan fungsi biologis tubuh, bukan hanya menangani gejala penyakit.

“Penjajakan dengan Bio Farma membuka peluang untuk memahami kebutuhan dan persyaratan di Indonesia terkait produk berbasis sel punca dan sekretom, serta memory-like natural killer cells. Kami berharap kerja sama ini menjadi langkah awal untuk mempelajari peluang pengembangan kapabilitas lokal dengan mengutamakan bukti ilmiah, mutu, keselamatan pasien, dan kepatuhan terhadap ketentuan regulasi,” jelas Angelina.

Produk berbasis sel punca dan sekretom menjadi bagian dari bidang bioteknologi yang memerlukan perhatian terhadap bukti ilmiah, keamanan, mutu, serta persyaratan regulasi sebelum dapat dipasarkan dan digunakan secara luas. Karena itu, penjajakan kedua perusahaan tidak hanya mencakup peluang bisnis, tetapi juga pemahaman atas ketentuan yang berlaku di Indonesia.

Melalui MoU ini, Bio Farma dan 23 Century Medical Group akan mengeksplorasi peluang kerja sama dengan mempertimbangkan kesiapan pasar dan kemungkinan pengembangan kapabilitas lokal. Kesepakatan tersebut masih merupakan tahap penjajakan, sehingga realisasi komersialisasi akan bergantung pada hasil kajian dan pemenuhan persyaratan yang berlaku.

Sebagai badan usaha milik negara dalam ekosistem Danantara Indonesia, Bio Farma terus mendorong transformasi melalui penguatan tata kelola, riset, inovasi, dan daya saing. Penjajakan kemitraan internasional ini diharapkan dapat memperluas peran perusahaan dalam ekosistem life science nasional sekaligus mendukung penguatan kemandirian kesehatan Indonesia.

Tags: 23 Century Medical GroupPT Bio Farma
Previous Post

Penutupan Awal Pekan Ini, IHSG Anjlok 2,59 Persen

Next Post

BIKE Akuisisi 45% Saham Tambang Batu Bara, Bidik Produksi 4 Juta Ton pada 2029

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR