Jakarta, TopBusiness – Di tengah dinamika tersebut, Samuel Aset Manajemen melihat semakin luasnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan sebagai perkembangan positif. Namun, peningkatan akses masih perlu diimbangi dengan pemahaman investasi yang lebih baik.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026, indeks inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 93,61%, sementara indeks literasi keuangan berada di 69,57%.
Selisih sekitar 24 poin menunjukkan bahwa penggunaan produk dan layanan keuangan telah semakin luas, tetapi belum seluruh pengguna memiliki tingkat pemahaman yang sejalan dengan akses tersebut.
Kesenjangan tersebut juga terlihat pada generasi muda. Pada kelompok usia 18–25 tahun, tingkat inklusi keuangan telah mencapai 95,69%, sedangkan tingkat literasinya berada di 73,32%.
Di sisi lain, sekitar 78% investor pasar modal berusia di bawah 40 tahun, memperlihatkan semakin besarnya peran generasi muda dalam perkembangan pasar modal nasional.
Pertumbuhan jumlah investor juga terus berlanjut. Berdasarkan SID, jumlah investor pasar modal telahmencapai 31,14 juta pada akhir Agustus 2026, tumbuh 52,9% sejak awal tahun.
Reksa dana menjadi salah satu pintu masuk utama ke pasar modal, sementara Nilai Aktiva Bersih industri reksa dana tercatat sebesar Rp652,88 triliun per 31 Agustus 2026.
Menurut Chief Marketing Officer PT Samuel Aset Manajemen, Sisilia Dhone, kondisi pasar yang volatil tidak berarti investor harus sepenuhnya menjauh dari investasi. Sebaliknya, investor dapat menyesuaikan alokasi aset dengan profil risiko serta tingkat volatilitas yang dapat ditoleransi.
“Di tengah kondisi pasar seperti sekarang, ketika volatilitas di pasar saham cukup tinggi, kami melihat reksa dana pasar uang (RDPU) dapat menjadi salah satu alternatif bagi calon investor yang ingin menjaga risiko tetap terkelola. Investor yang merasa kurang nyaman dengan volatilitas saat ini juga dapat mempertimbangkan melakukan switching ke pasar uang maupun fixed income sesuai dengan profil risiko dan tujuan investasinya,” ujar Sisilia dalam Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia, di Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Ia menilai instrumen dengan volatilitas yang relatif lebih rendah dapat memberikan ruang bagi investor untuk tetap berada di pasar sambil menunggu kondisi yang lebih kondusif.
“Kami meyakini pasar Indonesia tidak akan mengalami collapse. Kita masih memiliki regulator yang mampu merespons perkembangan pasar dengan cukup cepat dan tentunya memiliki kepentingan yang sama untuk menjaga stabilitas serta kepercayaan terhadap pasar,” tambah Sisilia.
Pendekatan investasi yang lebih terencana tersebut sejalan dengan arah pengembangan ReksadanaSAM 3.0. Samuel Aset Manajemen menilai tantangan investasi saat ini bukan lagi sebatas kemudahan akses, melainkan bagaimana teknologi dapat membantu investor memahami untuk apa mereka berinvestasi, produk apa yang sesuai dengan profil risikonya, serta berapa dana dan waktu yang diperlukan untuk mencapai tujuan keuangan.
