TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Konsentrasi Saham dan Trading Terkoordinasi juga Terjadi di AS dan Singapura, Gema Kritik MSCI

Nurdian Akhmad
27 October 2026 | 07:24
rubrik: Business Info, Capital Market
Konsentrasi Saham dan Trading Terkoordinasi juga Terjadi di AS dan Singapura, Gema Kritik MSCI

Jakarta, TopBusiness – Pengamat pasar modal dan pasar keuangan, Asst. Prof. Dr. Gema Goeyardi, mempertanyakan konsistensi Morgan Stanley Capital International (MSCI) dalam menyoroti persoalan integritas pasar modal Indonesia. Pasalnya, menurut dia, konsentrasi kepemilikan saham dan praktik perdagangan terkoordinasi juga terjadi di Amerika Serikat (AS) dan Singapura.

Gema menilai penggunaan isu bad actors atau pelaku pasar bermasalah sebagai alasan untuk mempertimbangkan penurunan status pasar modal Indonesia menjadi standalone market merupakan argumen yang menyesatkan jika tidak disertai penerapan standar yang konsisten terhadap negara lain.

“Bad actors merupakan alasan yang misleading dan ini adalah blunder daripada MSCI,” ujar Gema dalam pernyataannya yang dikutip dari Youtube Astronacci, Selasa (27/10/2026).

Menurut dia, salah satu persoalan yang disoroti dalam evaluasi pasar modal Indonesia adalah konsentrasi kepemilikan saham pada kelompok konglomerasi. Namun, ia mempertanyakan apakah persoalan tersebut hanya terjadi di Indonesia.

Gema mencontohkan Amerika Serikat dan Singapura yang, menurut dia, juga memiliki persoalan transparansi kepemilikan melalui perusahaan cangkang atau shell company berlapis. Struktur tersebut dapat membuat pemilik manfaat akhir atau beneficial owner sulit diidentifikasi.

“Kalau kita bicara tentang pasar modalnya mereka sendiri untuk urusan concentrated shareholding stocks, itu banyak sekali dan pemiliknya sudah tidak bisa diketahui lagi karena mereka menggunakan perusahaan cangkang multiple layer,” kata Gema.

Ia juga menyoroti praktik coordinated trading atau perdagangan terkoordinasi yang menurutnya tidak hanya ditemukan di Indonesia. Gema mengangkat kasus GameStop di Amerika Serikat pada 2021, ketika koordinasi investor ritel melalui forum Reddit ikut mendorong lonjakan harga saham perusahaan tersebut.

Selain itu, ia menyinggung kasus saham berkapitalisasi kecil di Singapura pada 2013 yang melibatkan Blumont Group, Asiasons Capital, dan LionGold. Gejolak harga saham dalam kasus tersebut menjadi salah satu contoh yang menurut Gema menunjukkan bahwa persoalan integritas perdagangan juga pernah muncul di pusat keuangan regional.

BACA JUGA:   MSCI Pertahankan Indonesia di Emerging Market, Reformasi Pasar Modal OJK Tuai Pengakuan Global

“Kalau di negara itu ada, kenapa mereka hanya menunjuk Indonesia tetapi tidak berani menurunkan rating di Singapura?” ujarnya.

Gema menduga terdapat pertimbangan ekonomi dan konsekuensi hukum yang membuat lembaga indeks global lebih berhati-hati ketika mengevaluasi pasar negara besar. Menurut dia, perubahan klasifikasi pasar dapat memengaruhi aliran dana pasif global yang mengikuti indeks, termasuk dana pensiun dan portofolio manajer investasi.

Selain konsentrasi kepemilikan dan perdagangan terkoordinasi, Gema menyoroti praktik spoofing, yakni pemasangan pesanan transaksi yang tidak dimaksudkan untuk dieksekusi, serta penggunaan teknologi perdagangan berfrekuensi tinggi atau high-frequency trading (HFT).

Menurut dia, praktik tersebut juga menjadi tantangan pengawasan di pasar saham Amerika Serikat. Ia mempertanyakan apakah penegakan sanksi terhadap pelaku pelanggaran di berbagai negara telah berjalan secara konsisten.

Gema menilai, evaluasi terhadap pasar modal Indonesia seharusnya mempertimbangkan berbagai aspek secara menyeluruh, mulai dari transparansi kepemilikan, pola transaksi, hingga efektivitas penegakan hukum. Ia juga mengingatkan agar persoalan integritas pasar tidak digunakan sebagai dasar penilaian tanpa pembuktian yang memadai.

JP Morgan Serok Saham Saat Harga Tertekan

Di tengah polemik evaluasi MSCI, Gema turut menyoroti transaksi investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan data transaksi periode 16–20 Oktober 2026 yang dipaparkannya, JP Morgan tercatat sebagai sekuritas dengan net buy terbesar, diikuti sejumlah sekuritas asing lainnya.

Ia menyebut pembelian tersebut mencakup sejumlah saham yang tengah mengalami tekanan harga, termasuk satu saham yang menurutnya terkena sanksi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Gema mempertanyakan aktivitas pembelian tersebut di tengah sorotan terhadap dugaan praktik perdagangan tidak wajar di pasar modal Indonesia. Ia menduga investor asing berpeluang memanfaatkan penurunan harga saham untuk mengakumulasi aset pada valuasi yang lebih rendah.

BACA JUGA:   MSCI Usulkan Status Standalone: Bagaimana Dampaknya ke IHSG dan Rupiah? Ini Kata Analis Global

“Kalau itu benar-benar alasan kenapa JP Morgan pun ikut membeli saham yang dianggap ada coordinated trading atau manipulasi, tetapi mereka masuk ketika sahamnya hancur berantakan, ini menunjukkan bahwa sebenarnya dugaan terkuatnya mereka hanya ingin membeli aset Indonesia dengan harga murah,” kata Gema.

Namun, data net buy saja tidak membuktikan motif investor dalam bertransaksi ataupun menunjukkan adanya upaya mengambil keuntungan dari polemik MSCI. Penilaian tersebut memerlukan informasi lebih lanjut mengenai saham yang dibeli, nilai transaksi, serta strategi investasi yang mendasarinya.

Struktur kepemilikan MSCI disebut-sebut melibatkan institusi keuangan global seperti JP Morgan dan BlackRock yang memiliki pengaruh besar terhadap arus dana asing.

Gema menilai, polemik MSCI perlu menjadi momentum untuk memperkuat transparansi dan pengawasan pasar modal Indonesia, sekaligus mendorong penerapan standar evaluasi yang konsisten terhadap berbagai negara.

Tags: Gema GoeyardiMSCI
Previous Post

Credit Bureau Indonesia Perkenalkan 4 Solusi Baru, Ada yang Berbasis AI

Next Post

Perundingan Saudi-Iran Turunkan Harga Minyak ke USD101,5

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR