Jakarta, TopBusiness – PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (IDX: RANS) akhirnya memberikan penjelasan terkait polemik penyelenggaraan RANS Carnival di Yogyakarta pada 31 Oktober–1 November 2026.
Perseroan membenarkan sejumlah musisi yang semula dijadwalkan tampil memutuskan tidak berpartisipasi. Namun, perusahaan membantah terlibat dalam dugaan pengerahan warga dengan imbalan sejumlah uang.
Klarifikasi tersebut disampaikan RANS sebagai tanggapan atas permintaan penjelasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui surat nomor S-13702/BEI.PP2/11-2026 tertanggal 2 November 2026. Jawaban perseroan disampaikan melalui surat yang ditandatangani Corporate Secretary RANS, Chintami Maranata Sihombing pada 3 November 2026.
Dalam penjelasannya, RANS menyatakan bahwa sejumlah pengisi acara belum dapat berpartisipasi berdasarkan pertimbangan masing-masing pihak dalam menyikapi perkembangan situasi menjelang kegiatan tersebut. Perseroan menyatakan menghormati keputusan para musisi dan melakukan penyesuaian terhadap susunan pengisi acara maupun rangkaian kegiatan.
“Perseroan menghormati keputusan para musisi tersebut. Sebagai langkah antisipasi, Perseroan menyesuaikan susunan pengisi acara dan rangkaian kegiatan dengan tetap melibatkan musisi lokal, pelaku UMKM, serta komunitas kreatif di Yogyakarta,” demikian penjelasan RANS dalam keterbukaan informasi yang disampaikan kepada BEI, dikutip Rabu (4/11/2026).
Bantah Pengerahan Warga Berbayar
Selain persoalan mundurnya sejumlah musisi, RANS juga menanggapi dugaan pengerahan warga dengan imbalan Rp50.000 yang menjadi perhatian publik dan pemberitaan media massa.
Perseroan secara tegas membantah tudingan tersebut. RANS menyatakan tidak pernah menginstruksikan, menginisiasi, maupun mendanai kegiatan pengerahan warga dengan imbalan uang sebagaimana disebutkan dalam pemberitaan dan pesan WhatsApp yang beredar.
“Perseroan menegaskan bahwa Perseroan tidak menginstruksikan, menginisiasi, maupun mendanai kegiatan tersebut,” demikian pernyataan perusahaan.
RANS juga menegaskan tidak memberikan instruksi kepada pihak kepolisian, perangkat kelurahan, perangkat desa, maupun pihak lainnya untuk melakukan kegiatan pengerahan warga tersebut.
Dalam penjelasannya, perseroan menyebut RANS Carnival Yogyakarta merupakan kegiatan hiburan yang terbuka dan gratis bagi masyarakat. Acara tersebut dirancang dengan melibatkan musisi, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta komunitas kreatif lokal.
Polemik yang berkembang menjelang acara turut dikaitkan dengan kehadiran Raffi Ahmad dalam kegiatan peringatan Sumpah Pemuda di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, pada 29 Oktober 2026. Mengutip klarifikasi Polda Metro Jaya selaku penyelenggara kegiatan tersebut, RANS menyebut Raffi Ahmad hadir sebagai tamu undangan.
Perkembangan situasi itu, menurut perseroan, turut memengaruhi persiapan RANS Carnival, termasuk perubahan keikutsertaan sejumlah pengisi acara dan penyesuaian partisipasi pelaku usaha.
Acara Tetap Berlangsung
Meski menghadapi dinamika menjelang pelaksanaan, RANS menyatakan RANS Carnival tetap berlangsung sesuai jadwal pada 31 Oktober hingga 1 November 2026 di Sleman, Yogyakarta.
Perseroan melakukan penyesuaian dengan menyederhanakan konsep acara dan mengatur kembali susunan pengisi acara. Pelaksanaan kegiatan tetap melibatkan musisi lokal, pelaku UMKM, serta komunitas kreatif di Yogyakarta.
Menurut RANS, penyesuaian tersebut dilakukan dengan tetap memperhatikan aspek keamanan dan kenyamanan seluruh pihak. Perusahaan juga menyebut acara tetap memberikan ruang partisipasi dan peluang ekonomi bagi pelaku UMKM serta komunitas kreatif setempat.
Namun, dalam jawaban kepada BEI, perseroan tidak menyampaikan data terperinci mengenai jumlah pengunjung, tingkat kehadiran, maupun realisasi keseluruhan kegiatan. Dengan demikian, dampak perubahan susunan acara terhadap jumlah pengunjung dan aktivitas ekonomi selama kegiatan belum dapat diukur dari informasi yang disampaikan.
Dampak Keuangan dan Mitigasi Risiko
Dari sisi bisnis, salah satu hal yang menjadi perhatian adalah dampak penyesuaian acara terhadap pendapatan dan beban penyelenggaraan. BEI meminta RANS menjelaskan pengaruh persoalan tersebut terhadap kegiatan operasional, kinerja keuangan, arus kas, serta kemampuan perseroan memenuhi kewajiban keuangannya.
Menanggapi hal itu, RANS menyatakan masih mengevaluasi dampak penyesuaian acara melalui penyusunan laporan realisasi keuangan kegiatan. Evaluasi tersebut mencakup pendapatan dan beban penyelenggaraan, termasuk biaya yang telah maupun akan ditanggung perseroan.
Meski perhitungan keuangan belum rampung, perusahaan menyatakan berdasarkan penilaian hingga tanggal penyampaian tanggapan, kondisi tersebut tidak memberikan dampak material terhadap operasional maupun kondisi keuangan perseroan.
“Berdasarkan penilaian Perseroan sampai dengan tanggal tanggapan ini, kondisi tersebut tidak berpengaruh material terhadap kegiatan operasional, kinerja keuangan, arus kas, maupun kemampuan Perseroan dalam memenuhi kewajiban keuangannya,” demikian penjelasan RANS.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu poin penting dalam klarifikasi kepada BEI. Pasalnya, penyesuaian acara berpotensi menimbulkan perubahan pada komponen biaya maupun pendapatan yang sebelumnya direncanakan. Namun, besaran dampak finansialnya masih menunggu hasil evaluasi internal perusahaan.
Selain itu, RANS menyatakan akan memperkuat penerapan manajemen risiko ke depannya dalam penyelenggaraan kegiatan agar persoalan serupa dapat diantisipasi.
Sejumlah langkah yang disiapkan antara lain menyusun rencana kontingensi apabila terjadi perubahan atau pembatalan pengisi acara, meningkatkan koordinasi dengan aparat keamanan dan pemerintah daerah, serta memperkuat pemantauan isu di media massa dan media sosial yang berpotensi memengaruhi pelaksanaan kegiatan.
Perseroan juga akan memperkuat prosedur persetujuan dan pengawasan terhadap kegiatan promosi, publikasi, pemberian fasilitas, serta aktivitas yang melibatkan masyarakat.
Selain itu, evaluasi terhadap aspek operasional, keamanan, reputasi, hukum, dan keuangan akan menjadi dasar perbaikan penyelenggaraan kegiatan berikutnya.
Dalam surat klarifikasi tersebut, RANS menyatakan hingga 3 November 2026 tidak terdapat informasi atau kejadian material lain yang belum diungkapkan kepada publik dan berpotensi memengaruhi harga saham maupun kelangsungan usaha perseroan.
Bagi RANS, evaluasi atas RANS Carnival Yogyakarta tidak hanya berkaitan dengan keberlangsungan sebuah acara hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan tata kelola dan manajemen risiko dalam menjalankan kegiatan usaha. Perseroan kini masih perlu menuntaskan perhitungan realisasi keuangan acara untuk memberikan gambaran lebih jelas mengenai dampak bisnis dari berbagai penyesuaian yang dilakukan.
