
Jakarta, businessnews.id — Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, mengatakan bahwa di 2014, fokus kerja makroprudensial di bank sentral akan mengarah ke mitigasi risiko kredit dan risiko likuiditas perbankan.
Pernyataan itu terkait upaya BI mengawal risiko sistemik yang berpotensi lebih besar untuk ditransmisikan oleh risiko kredit dan risiko likuiditas. “Pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dari pertumbuhan dana yang dihimpun, menyebabkan meningkatnya risiko likuiditas,” katanya di Jakarta (19/5/2014).
Menurut dia, peningkatan risiko likuiditas perbankan disebabkan oleh semakin terbatasnya likuiditas yang pada gilirannya menciptakan persaingan antarbank untuk menghimpun dana pihak ketiga (DPK). “Sehingga, ini juga mendorong kenaikan suku bunga jangka pendek yang mengakibatkan risiko suku bunga,” ujar Agus Marto.
Meski demikian, jelas dia, secara umum kondisi likuiditas perbankan hingga akhir 2013 dinilai masih memadai untuk mengantisipasi potensi penarikan dana oleh nasabah. Bahkan, lanjut Agus, risiko suku bunga masih terbilang baik.
“Perlambatan pertumbuhan kredit, menurut penilaian kami cukup konsisten dan sesuai dengan kondisi perekonomian Indonesia yang sedang melambat. Ketidakpastian pasar keuangan global dan potensi risiko di sektor keuangan masih tetap perlu diwaspadai, terutama pada risiko kredit dan risiko likuiditas,” paparnya.
Agus menyebutkan, hingga akhir 2013 sistem keuangan tercatat masih terkendali, karena ditopang oleh kinerja positif yang dicapai sektor perbankan. Hal ini tercermin dari rasio kecukupan modal (CAR) perbankan di akhir tahun lalu yang sebesar 18,36 persen.
Sedangkan, ujar dia, pertumbuhan kredit perbankan di 2013 melambat menjadi 21,06 persen atau lebih rendah dibandingkan dengan posisi di akhir 2012 yang sebesar 23,1 persen. “Non performing loan (kredit bermasalah/NPL) gross rendah pada 2013, sebesar 1,77 persen,” ucap Agus Marto.
Sementara itu, menurut dia, risiko ekonomi dunia yang perlu diwaspadai adalah, potensi penurunan harga komoditas ekspor Indonesia dan perlambatan ekonomi China. “Selain itu, adanya ketidakpastian normalisasi kebijakan The Fed yang bisa berdampak pada perekonomian dan sistem keuangan domestik,” katanya. (ZIZ)
EDITOR: DHI