Jakarta, BusinessNews Indonesia – Salah satu pemain bisnis belanja online ternama, PT Shopee International Indonesia atau Shopee diminta untuk bisa melakukan penawaran perdana saham (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini perlu dilakukan karena bisnis perseroan juga terus mengalami pertumbuhan.
Permintaan itu disampaikan oleh Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (4/9/2018). Menurut dia, jika Shopee bisa listing di pasar modal Indonesia, maka mereka dapat memacu laju bisnis sekaligus mengedepankan tata kelola perusahaan yang lebih baik di masa mendatang.
“Ini (Shopee) lagi dibujuk. Karena induknya sudah tercatat di (Bursa) New York. Jadi kita harapkan bisa dual listing atau mungkin salah satu anak perusahaannya yang berhubungan dengan Indonesia bisa dicatatkan di Indonesia,” ungkap Laksono.
Seperti diketahui, induk usaha Shopee yang berada di Negeri Paman Sam yakni Sea Ltd telah mencatatkan saham perusahaannya di New York Stock Exchange pada 2017 lalu. Makanya saat ini, sebut Laksono, pihak bursa tengah membujuk Shopee untuk melakukan IPO tersebut.
Sejauh ini, Indonesia menjadi pasar besar bagi perseroan. Dengan alasan itu, sudah selayaknya masyarakat Indonesia tidak hanya menjadi konsumen di Shopee saja melainkan juga menjadi pemilik perusahaan tersebut.
“Dengan menjadi perusahaan terbuka di BEI, masyarakat Indonesia merasa memiliki saham di perusahaan itu,” jelasnya.
Di tempat yang sama, Komisaris Utama Shopee International Indonesia Pandu Sjahrir menyebut pihaknya terus membuka kesempatan untuk proses IPO tersebut. Apalagi jika aksi korporasi tersebut dapat meningkatkan nilai perusahaan. “Kami harus terbuka melihat kalau memang itu (IPO) ada kesempatan,” kata Pandu.
Namun demikian, pihaknya tidak akan terburu-buru untuk melakukan proses IPO tersebut. Sehingga aksi korporasi itu tak akan terjadi dalam waktu dekat ini, karena perseroan masih focus untuk mengembangkan bisnisnya.
“Kalau waktu dekat 6-9 bulan ke depan kami fokus bisnisnya dulu. Karena kami masih terus melihat juga momentum pasarnya,” ujar dia.
