Jakarta, BusinessNews Indonesia – Di tengah kondisi fundamental ekonomi yang diklaim terus membaik, ternyata tak berdampak positif terhadap laju nilai tukar rupiab terhadap dollar AS (USD) dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus terjun bebas.
Pergerakan rupiah saat ini hampir melewati batas Rp15.000/USD dan telah mencapai titik terendahnya pasca krisis moneter 1998 silam.
Sementara IHSG terus melorot di bawah 6.000. Pada hari ini, laju IHSG malah terjun bebas sebesar 4,46 persen ke posisi 5.641,57. Segala sentimen dalam negeri sepertinya tak menjadi katalis postif.
Namun begitu, di saat laju rupiah dan IHSG yang masih di zona merah itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengaku terus melakukan pengawasan secara intensif. Regulator pasar keuangan itu mengaku terus memonitor kondisi di sektor tersebut.
“OJK terus mengintensifkan pengawasan di sektor jasa keuangan sebagai bagian monitoring secara reguler baik secara onsite maupun offsite supervisory,” tandas Juru Bicara OJK, Sekar Putih Djarot, di Jakarta, Rabu (5/9/2018).
Langkah monitoring secara reguler itu, kata dia, dilakukan pihaknya terhadap seluruh kegiatan industri jasa keuangan, termasuk terkait transaksi valuta asing (valas).
“Terutama pengawasan yang ketat dan intensif untuk memastikan transaksi valas dilakukan berdasarkan kebutuhan sesuai dengan underlying-nya,” ujar dia.
Mengutip Bloomberg, IHSG dibuka di posisi 5.868,78, tapi hingga jam 15.00 WIB sudah di level 5.643,52 anjlok 4,45 persen. Sedang rupiah dibuka di posisi 14.925 memang menguat ketimbang kemarin di 14.935. Tapi hingga saat ini sudah ke level 14.933.
