Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini diperkirakan akan kembali berada di tren penguatan. Hal ini karena dipicu oleh pelemahan USD akibat kondisi makro di AS yang tak positif.
Mengutip Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka di posisi Rp14.217 atau menguat 22 poin dari penutupan hari kemarin di level Rp14.239. Memang sepanjang (18/3/2019) kemarin, mata uang NKRI itu ditutup menguat 0,14% di level Rp 14.239. Sementara dalam kurs tengah Bank Indonesia (BI) rupiah terapresiasi 0,47% menjadi Rp 14.242 per USD.
Dan pada perdagangan hari ini, menurut analis pasar uang dari Samuel Sekuritas Indonesia, Ahmad Mikail, rupiah masih akan melanjutkan penguatan karena laju USD juga masih di teritori negatif. “Dollar indeks diperkirakan melemah ke level 96.0-96.5 terhadap hampir semua mata uang kuat utama dunia,” tandas dia di Jakarta, Selasa (19/3/2019).
Depresiasi USD itu lebih dipicu oleh melemahnya data Industrial Production Index (IPI) menjadi 0,1% (month on month/mom) di bulan Februari dibandingkan konsensus yang sebesar 0,2%. “Rendahnya pertumbuhan IPI ini menunjukan pelemahan yang semakin jelas terhadap ekonomi AS di triwulan pertama 2019,” tandas dia.
Sementara itu, lanjut Mikail, untuk Poundsterling akan meningkat terhadap USD setelah parlemen Inggris telah memutukan untuk menolak proposal “no-deal” dalam proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit).
“Dengan kondisi tersebut, rupiah kemungkinan akan menguat seiring pelemahan USD serta surplusnya data neraca perdagangan Februari lauebesar US$ 330 juta,” kata dia.
Untuk itu, dirinya memproyeksi pergerakan mata uang Garuda itu kemungkinan akan menguat ke kisaran Rp14.200 per USD hingga Rp 14.250 per USD.
Penulis: Tomy
