TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Global Tak Menentu, OJK Sebut Sistem Keuangan Terjaga

Achmad Adhito
29 March 2019 | 08:58
rubrik: Business Info
Emiten Ini Perbesar Pinjaman Ratusan Miliar ke Anak Usaha

Ilustrasi: Istimewa

Jakarta, TopBusiness—Di tengah kondisi perekonomian global yang masih tak menentu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melihat hal itu tak terlalu mengganggu sistem keuangan nasional.

Untuk itu, usai Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK, regulator menilai stabilitas dan likuiditas sektor jasa keuangan dalam kondisi masih terjaga.

“Kinerja intermediasi dan profil risiko lembaga jasa keuangan stabil di bulan Februari 2019,” ujar keterangan resmi OJK yang diterima, di Jakarta, Kamis (28/3/2019) malam.

Kondisi global yang selama ini menjadi ancaman yaitu, perlambatan ekonomi global yang diikuti kebijakan moneter negara-negara utama yang lebih longgar (dovish), serta adanya indikator perekonomian AS, Eropa, Jepang dan Tiongkok yang cenderung berada di bawah ekspektasi.

Kondisi tersebut, telah mendorong berlanjutnya inflow ke emerging markets termasuk Indonesia khususnya di pasar surat utang dan meningkatkan likuiditas di pasar keuangan. Apalagi Bank Indonesia juga tetap mempertahankan suku bunga kebijakannya.

Dengan kondisi itu, dianggap masih berdampak positif ke sektor keuangan. Meski di pasar saham dan nilai tukar rupiah di Februari melemah tipis masing-masing sebesar 1,37% dan 0,64% mtm, dengan investor nonresiden membukukan net sell di pasar saham sebesar Rp3,4 triliun, namun pertumbuhannya masih positif.

“Sehingga, secara ytd IHSG masih meningkat sebesar 4,02% dengan investor nonresiden membukukan net buy sebesar Rp10,5 triliun,” ujar dia.

Secara sektoral, kontributor terbesar penurunan IHSG di Februari berasal dari sektor aneka industri dan pertanian.

Untuk pasar SBN menguat dengan yield rata-rata di Februari turun 26,7 bps. Investor di pasar SBN tercatat membukukan net buy sebesar Rp32,8 triliun, pada Februari, kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan meneruskan tren perbaikan.

Pertumbuhan kredit perbankan melanjutkan tren peningkatan dan di Februari tercatat tumbuh sebesar 12,13% yoy. Pertumbuhan kredit/pembiayaan di dorong oleh tingginya pertumbuhan di kegiatan investasi. Ini memberikan harapan peningkatan aktivitas ekonomi ke depan. Dengan DPK tumbuh sebesar 6,57% yoy.

BACA JUGA:   Artomoro Tawarkan Kemudahan E-Commerce bagi UMKM

Sementara itu, asuransi jiwa dan asuransi umum/reasuransi berhasil menghimpun premi masing-masing sebesar Rp15,4 triliun dan Rp8,5 triliun pada Februari 2019.

Di pasar modal, korporasi berhasil menghimpun dana Rp13,4 triliun di sepanjang Februari 2019, dengan jumlah emiten baru sebanyak 2 perusahaan. Dana kelolaan investasi juga tercatat Rp767triliun, meningkat 5,68% dibandingkan posisi yang sama tahun 2018.

Perbaikan kinerja intermediasi tersebut disertai dengan terjaganya profil risiko lembaga jasa keuangan. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross perbankan tercatat sebesar 2,59% (NPL net: 1,17%). Sementara itu, rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan stabil pada level 2,70%.

Risiko pasar perbankan juga berada pada level yang rendah, dengan rasio Posisi Devisa Neto (PDN) perbankan sebesar 1,92%, di bawah ambang batas ketentuan.

Pertumbuhan intermediasi juga didukung likuiditas perbankan yang memadai, tercermin dari liquidity coverage ratio dan rasio alat likuid/non-core deposit masing-masing sebesar 218,45% dan 107,25%.

“Jumlah total aset likuid perbankan mencapai sebesar Rp1.162 triliun pada akhir Februari 2019, dinilai berada pada level yang memadai untuk mendukung pertumbuhan kredit ke depannya,” kata dia.

Selain itu, pertumbuhan industri jasa keuangan juga didukung oleh permodalan yang kuat. Capital Adequacy Ratio perbankan meningkat menjadi sebesar 23,86% pada Februari 2019.

Sementara itu, Risk-Based Capital industri asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing sebesar 316% dan 442%, jauh di atas ambang batas ketentuan.

Ke depan, OJK terus akan memantau pengaruh dovish-nya kebijakan moneter negara-negara utama serta perkembangan perundingan dagang AS-Tiongkok dan kesepakatan Brexit terhadap stabilitas sistem keuangan serta kondisi likuiditas di pasar domestik.

“OJK bersama otoritas terkait senantiasa memperkuat koordinasi untuk mengambil langkah-langkah terkait untuk memacu pertumbuhan dan mengantisipasi potensi risiko di sektor jasa keuangan ke depan,” pungkas keterangan itu.

BACA JUGA:   BI akan Dorong Pelaku Bisnis Lebih Ekspansif

Penulis: Tomy

Tags: ekonomi global
Previous Post

BRI Agro Setuju Bagikan Dividen Rp 40,84 Miliar

Next Post

Ketidakpastian Global Menggerus Rupiah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR