
Jakarta, businessnews.id — Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap USD tidak memiliki korelasi langsung dengan hasil Pemilihan Umum Presiden (Pilpres). Namun, lebih dipengaruhi oleh berlarut-larutnya defisit neraca perdagangan.
Penilaian tersebut seperti dikemukakan ekonom IEI (Indonesia Economic Intelegence), Sunarsip, di Jakarta kemarin.
“Rupiah selalu menunjukkan tren terdepresiasi jika kondisi makroekonomi mengalami sedikit guncangan.”
Untuk dapat menjaga stabilitas nilai tukar, sudah seharusnya pemerintah memiliki terobosan jangka pendek untuk memerbaiki neraca perdagangan. Langkah yang paling tepat dan cepat untuk menekan defisit perdagangan adalah mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM), papar Sunarsip.
Menopang kebijakan pengurangan impor BBM tersebut, pemerintah harus berani menaikan harga BBM bersubsidi dan mengefektifkan upaya membatasi konsumsi BBM.
“Pemerintahan baru seharusnya bisa memerbaiki kebijakan pemerintah sekarang yang belum berhasil menekan konsumsi,” imbuhnya.
Menurut Sunarsip, neraca perdagangan di 2014 yang secara akumulatif mengalami defisit telah memengaruhi sejumlah indikator makroekonomi domestik menjadi lebih buruk. “Sehingga, kondisi ini memberikan sentimen negatif ke pasar yang menyebabkan Rupiah melemah terus,” kata Sunarsip.
Berdasarkan data historis, ujar dia, defisit neraca perdagangan yang terjadi sejak 2012 merupakan defisit untuk pertama kalinya sejak masa Orde Baru. “Jadi, defisit neraca perdagangan ini yang lebih menyebabkan Rupiah melemah. Bukan karena proses politik di dalam negeri,” tutur Sunarsip.
Selain faktor neraca perdagangan domestik, kata Sunarsip, pelemahan Rupiah sejak kemarin juga dipengaruhi oleh rencana The Federal Reserve AS yang akan melakukan normalisasi kebijakan, seiring dengan membaiknya perekonomian di dalam negeri AS.
“Belakangan ini USD terus menguat, tentu dampaknya pada Rupiah yang melemah,” ucapnya. (Abdul Aziz)
Editor: Achmad Adhito