
Jakarta, businessnews.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan, upaya pengembangan keuangan mikro harus diawali dengan penerapan bunga murah bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selanjutnya, diikuti dengan pengembangan demand side dan infrastruktur di sektor micro-finance.
Menurut Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D. Hadad, di Jakarta hari ini, upaya peningkatan akses masyarakat ke sektor keuangan akan percuma, kalau bunga untuk micro-finance mahal.
“Sehingga, bunga murah untuk UMKM menjadi penting untuk diperhatikan,” katanya.
Ia mencontohkan, sejauh ini pengembangan keuangan inklusif yang diterapkan China dan Vietnam tengah fokus pada penyediaan kredit untuk UMKM. “Baik China dan Vietnam itu, tantangannya serupa dengan yang terjadi pada sektor keuangan kita. Tetapi, mereka memiliki tujuan akhir menyejahterakan UMKM,” ujar Muliaman.
Lebih lanjut Muliaman menegaskan, upaya pengembangan keuangan mikro tidak melulu mengedepankan pengembangan supply-side. Pasalnya, jelas dia, tanpa adanya peningkatan demand-side, maka sektor keuangan sulit untuk berkembang.
“Satu hal penting lainnya, adalah perlunya memerbaiki infrastruktur keuangan bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang berada di pelosok-pelosok,” tutur Muliaman.
Dia berharap, bank badan usaha milik negara (BUMN) ikut berpartisipasi aktif dalam pengembangan keuangan mikro.
Namun, Muliaman menilai, sejauh ini masih ada tiga tantangan utama yang dihadapi bank BUMN untuk meningkatkan perannya di sektor keuangan mikro. “Pertama, tantangan pada akses pendanaan untuk masyarakat miskin,” katanya.
Tantangan selanjutnya, ujar Muliaman, terkait dengan masih rendahnya tingkat kolaborasi bank-bank BUMN dengan pelaku usaha besar untuk menyediakan pendanaan.
“Tantangan ketiga, terkait dengan inovasi pengembangan teknologi dalam upaya mengurangi biaya, misalnya penerapan branchless banking,” ucap Muliaman. (Abdul Aziz)