Jakarta, TopBusiness – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (OPMS) memantapkan langkah untuk menjadi perusahaan pionir besi scrap kapal bekas terbesar di Indonesia dengan menggelar aksi korpirasi untuk melepas sahamnya ke pasar modal melalui skema oenawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).
Dengan aksi ini, perseroan melepas sebanyaj 40% saham dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh. Nanatinya, dana hasil IPO ini akan digunakan untuk memperkuat modal kerja dan mendukung strategi bisnis perseroan dalam jangka panjang.
Direktur Utama OPMS Meilyna Widjaja menegaskan, melantainya perseroan di bursa menjadi upaya perusahaan dalam memperkuat bisnis di bidang besi scrap yang mayoritas dari kapal bekas. Industri ini dinilai baru di Indonesia, namun memiliki pangsa pasar yang besar.
“Kami bersyukur bidang usaha yang kami pilih yakni penjualan besi scrap dari hasil pemotongan kapal telah menunjukkan kinerja positif. Hal ini seiring dengan peningkatan kebutuhan besi baja di Indonesia,” kata Meilyna di Jakarta, ditulis Selasa (26/8/2019).
Karena itu, kata dia, pihaknya optimistis, IPO ini merupakan langkah yang paling tepat untuk memperbesar usaha perseroan sekaligus memperkenalkan secara luas akan industri besi scrap kepada industri besi baja di dalam negeri.
Meilyna menjelaskan, industri penunjang yaitu konstruksi dan manufaktur khususnya otomotif merupakan konsumen utama dari logam dasar dan terus bertumbuh. Begitu juga pemerataan pembangunan infrastruktur di luar Pulau Jawa seperti pembangunan infrastruktur transportasi (jalan tol, jembatan, bandara, pelabuhan), power plant, dan bendungan memberikan efek sangat baik bagi sektor logam.
“Kami berharap kehadiran OPMS dapat menjadi warna baru bagi pasar modal di Tanah Air. Dengan komitmen yang tinggi dalam menjalankan bisnis perusahaan, kami bersyukur dapat mengambil bagian terhadap pengadaan bahan baku besi baja di Indonesia,” tegasnya.
Langkah ini sebut dia, sebagai bentuk efisiensi karena dapat mengurangi ketergantungan industri baja terhadap bahan baku impor di tengah proyek pembangunan infrastruktur dalam negeri yang tinggi.
Direktur Keuangan OPMS Alan Priyambodo Krisnamurti menambahkan, secara fundamental bisnis perseroan terus mengalami peningkatan. Hingga April 2019 penjualan tercatat naik 44,2% menjadi Rp 35,2 miliar dari Rp 24,4 miliar pada April 2018. Laba bersih OPMS meningkat drastis menjadi Rp 2,13 miliar pada April 2019 dan total asset tercatat Rp 81,61 miliar.
Disebutkan Alan, peluang pasar di industri besi baja ini sangat besar yang tentunya akan mendukung pertumbuhan bisnis OPMS. Sektor industri pengolahan khususnya logam dasar selalu bertumbuh positif dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.
Untuk tahun 2017 dan 2018 sektor ini bertumbuh 5,87% dan 8,99%. Industri peleburan besi baja di Indonesia terpusat di wilayah pulau Jawa dengan total kapasitas sebesar 12 juta ton. Untuk area Jawa Timur saja terdapat 12 perusahaan peleburan dengan total kapasitas sebesar 2,4 juta ton.
“Sepanjang 2019, OPMS menargetkan menjual 24 ribu ton besi scrap hasil pemotongan dari kapal-kapal bekas. Setahun OPMS memotong sebanyak 8-10 kapal bekas. Kapal bekas yang menjadi target merupakan kapal yang melebihi usia operasional dan tidak bisa diasuransikan lagi yakni kapal berusia di atas 25 tahun,” papar dia.
Dengan fundamental ini, dia melanjutkan, pihaknya ingin terus meningkatkan kapasitas dalam menghasilkan besi scrap untuk memenuhi kebutuhan besi berkualitas di Tanah Air. “Kami akan terus menjaga fundamental bisnis yang tetap positif untuk memberikan manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Alan.
Rencananya, pencatatan atau listing perdana saham OPMS di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini ditargetkan dilakukan pada September 2019. OPMS pun telah menunjuk PT Sinarmas Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek IPO perseroan.
Direktur Sinarmas Sekuritas Kerry Rusli menjelaskan, dalam IPO ini OPMS akan menawarkan sebanyak-banyaknya 400 juta lembar saham baru atau sebesar 40% saham dari modal yang ditempatkan atau disetor penuh. Dengan itu berarti struktur kepemilikan saham perseroan adalah PT Asian Perkasa Indosteel 59,79%, Sukianto Widjaja 0,21%, dan Masyarakat 40%.
Menurut Kerry, bisnis scrap besi bekas yang dijalankan OPMS merupakan bentuk bisnis baru yang masih tergolong usaha kecil dan menengah (UKM) dan sangat berpotensi untuk berkembang lebih baik. Bagi perusahaan pengolahan besi baja, penggunaan besi scrap jauh lebih efisien dan kualitas bahan baku yang lebih terjamin, sehingga produk besi baja yang dihasilkan akan lebih baik.
Selain itu juga OPMS membantu Pemerintah untuk mengurangi impor bahan baku pembuatan baja dari luar negeri.
“Saya optimis, saham IPO OPMS ini sangat menarik untuk investor. Selain pemanfaatan dana IPO yang akan digunakan seluruhnya untuk penguatan modal, model bisnis OPMS sangat baru dan menarik perhatian para investor pasar modal,” kata Kerry.
Penulis: Tomy
