Jakarta, TopBusiness – Perusahaan baja yang menjalankan usaha-usaha dalam bidang industri peleburan dan penggilingan baja (furnace & steel rolling), PT Gunung Raja Paksi Tbk akan segera mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan bakal menggelar aksi korporasi ini melalui proses pencatatan saham perdana (Initial Public Offering/IPO).
Direktur Utama PT Gunung Raja Paksi Tbk Alouisius Maseimilian menegaskan, pihaknya melihat ada potensi yang besar di industri lantaran dilihat dari pertumbuhan konsumsi baja per kapita dengan adanya pertumbuhan GDP Indonesia.
Selain itu, terdapat konsumsi baja nasional yang meningkat seiring dengan meningkatnya anggaran infrastruktur pemerintah untuk pengembangan sarana infrastruktur seperti jalan tol, pelabuhan, bandar udara, dan rel kereta api.
“Dengan kondisi industri yang positif itu, perseroan gencar melepas sahamnya ke pasar modal pada September 2019 ini,” ujar Alouisius di Jakarta, Selasa (3/9/2019).
Dalam proses IPO ini, kata dia, perseroan berencana melepas jumlah saham sebanyak-banyaknya 1.238.000.000 lembar Saham Biasa Atas Nama dengan nilai nominal Rp500.
“Sementara untuk kisaran harga penawaran saham IPO PT Gunung Raja Paksi Tbk ini adalah antara Rp825-Rp900 per saham,” imbuh dia.
Perseroan telah menunjuk PT Kresna Sekuritas dan PT UOB Kay Hian Sekuritas sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Saham.
Bersamaan dengan IPO ini, perseroan juga akan menerbitkan saham baru dalam rangka pelaksanaan Obligasi Wajib Konversi (OWK) yang akan jatuh tempo pada tanggal 30 September 2019.
Dengan dilaksanakannya konversi OWK bersamaan dengan terjualnya seluruh Saham Yang Ditawarkan dalam IPO ini, persentase kepemilikan masyarakat adalah sebanyak-banyaknya 10,2157 persen dari modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh Perseroan setelah IPO dan pelaksanaan konversi OWK.
Untuk jadwal agenda IPO sendiri, untuk masa penawaran awal (bookbuilding) akan berlangsung pada tanggal 3-5 September 2019, pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan dapat diperoleh pada tanggal 10 September 2019 dan masa penawaran umum (perkiraan) dijadwalkan pada tanggal 12, 13 dan 16 September 2019. Sedangkan, pencatatan perdana saham di BEI diperkirakan dapat dilaksanakan pada tanggal 19 September 2019.
Nantinya, lanjut dia, pnggunaan seluruh dana hasil dari IPO ini, setelah dikurangi biaya-biaya emisi, akan digunakan sekitar 99,52 persen untuk pelunasan utang dalam rangka pembelian asset tetap dan biaya operasinya. “Dan sisanya sekitar 0,48 persen akan digunakan untuk modal kerja,” katanya.
Menurut dia, pemain di industri baja masih memiliki ruang yang sangat luas untuk bertumbuh. Hal ini didasarkan fakta bahwa konsumsi baja per kapita Indonesia yang masih cukup rendah dan kapasitas produksi baja domestik yang masih belum bisa memenuhi permintaan, sehingga membuat Indonesia masih melakukan impor baja.
“Terlebih lagi, harga baja sedang mengalami tren kenaikan signifikan. Maka dari itu, kami memutuskan mengambil langkah besar untuk go public, dimana secara langsung hal-hal tersebut kami yakini akan memberikan peluang besar bagi bisnis perseroan ke depannya,” pungkas dia.
Penulis: Tomy
