Jakarta, TopBusiness – PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX) sudah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia. Tercatat dalam perdagangan perdananya, saham tersebut melambung hingga 14,78 persen.
Artinya, saham tersebut naik ke level Rp264 per saham dari harga perdananya di posisi Rp230 per saham. Pada saat listing tersebut, nilai kapitalisasi pasar Digital Mediatama di BEI mencapai Rp 2,05 triliun.
Perseroan menjadi Tbk melalui skema penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) dengan melepas sebanyak 2,69 miliar saham atau setara 35% saham. Dengan aksi korporasi ini, Digital Mediatama meraup dana segar sekitar Rp 618 miliar.
Menurut Direktur Utama DMMX, Budiasto Kusuma, dana hasil IPO ini sebesar 75% akan dipakai untuk modal kerja dan 25% untuk investasi di informasi dan teknologi (IT) dan sumber daya manusia.
“Setelah IPO kami akan fokus memperbanyak gerai ritel modern maupun tradisional,” tutur dia, di gedung BEI, Jakarta, Senin (21/10/2019).
Seperti diketahui, pada tahun ini, perusahaan menargetkan 7.000 gerai ritel modern dan 47.000 gerai tradisional.
Sebelumnya, Komisaris Utama Digital Mediatama Jahja Suryandy menyebut, pihaknya lebih memilih menghimpun pendanaan dari pasar modal ketimbang dari investor lain maupun dari pendanaan yang bersumber dari modal ventura (venture capital).
“Dengan IPO kami memberikan kesempatan kepada publik untuk berpartisipasi,” tegas Jahja.
Menilik dari performa keuangan perseroan, pada kuartal I-2019, DMMX mencatatkan laba bersih sebesar Rp 4,6 miliar, tumbuh 96% dibandingkan periode yang sama tahun 2018. Sementara itu, pendapatan mereka sebesar Rp 33,17 miliar, naik 280,6% dari periode yang sama tahun lalu Rp 8,71 miliar.
Perseroan menunjuk Kresna Sekuritas dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM) sebagai penjamin emisi efek. Adapun, Macquarie Capital Securities Singapore Pte. Ltd. dan SooChow CSSD Capital Markets Asia Pte. Ltd. berperan sebagai agen penjual internasional.
Direktur Utama Kresna Sekuritas, Octavianus Budianto mengklaim bisnis yang dijalankan perseroan belum ada kompetitornya di Indonesia. Sehi gga hal ini me jadi menarik buat investor.
“Saat ini belum ada kompetitor dengan model bisnis yang sama. Makanya saham ini banyak diburu asing dengan komposisi 60% investor asing dan 40% investor domestik,” kata Octavianus.
Penulis: Tomy
