
Jakarta, businessnews.id —– Ketatnya likuiditas perbankan ditandai dengan loan to deposit ratio (LDR ) yang melewati ambang batas yakni sebesar 92,19 persen. Itu membuat ruang gerak ekspansi perbankan nasional menurun.
“Hal ini perlu dicermati investor saham perbankan,” kata Kepala Ekonom BNI, Ryan Kiryanto, di Jakarta hari ini (24/9/2014).
Ia mengatakan, selain LDR perbankan yang menurun, juga diikuti penurunan rasio keuangan perbankan lainnya yakni NIM (net interest margin), dan peningkatan rasio NPL (non-performing loan).
”Jika Juli tahun lalu NIM masih di 5,4 persen, Juli 2014 turun menjadi 4,2 persen; NPL naik dari 1,87 persen pada Juli 2013 menjadi 2,24 persen per Juli 2014,” Ryan menjelaskan.
Di samping itu return on asset (ROA) pun mengalami koreksi penurunan, di mana Juli 2014 di 3 persen sedangkan Juli 2014 turun ke 2,91 persen.
”Nah, bagi investor saham, ini menjadi perhatian khusus karena ROA-nya turun,” terang dia.
Ia menambahkan, melihat data perbankan yang menunjukkan penurunan, investor akan merombak ulang portofolio investasinya dengan tidak lagi memborong saham perbankan. Namun, sebagian tentunya akan dialihkan ke saham yang lain.
“Tentunya kepada sektor yang memberikan prospek yang lebih baik,” terang dia.
Namun tidak akan terjadi antiklimaks saham perbankan sebab sampai Juli 2014, masih terdapat pertumbuhan laba perbankan sebesar 11 persen, tetapi pertumbuhannya menurun.
“Jika sektor lainnya pertumbuhannya lebih jelek daripada perbankan, maka investornya tetap akan memburu sahamnya perbankan juga,” tutup dia.
Penulis/Peliput: Abdul Aziz
Editor: Achmad Adhito