Jakarta, TopBusiness – Laju nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini diproyeksi bakal berada di teritori negatif. Hal ini karena sentiment negatif dari neraca perdagangan yang baru saja diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan hasilnya defisit.
Namun begitu, ternyata laju rupiah malah menguat di sesi pagi. Mengutip Bloomberg, rupiah dibuka di posisi Rp14.005 per USD atau menguat tipis 5 poin atau 0,04% dari penutupan kemarin di level Rp14.010 per USD. Bahkan dalam satu jam pertama, rupiah masih level yang sama.
Kondisi tersebut sepertinya berbeda dengan analisa beberapa analis yang memperkirakan laju rupiah bisa ke zona merah lantaran diterjang sentimen defisit neraca dagang. Menurut analis pasar uang dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Reny Eka Putri, neraca perdagangan yang defisit USD 1,33 miliar itu bisa menjadi faktor utama pelemahan rupiah di perdagangan hari ini.
“Karena ekspektasi pelaku pasar neraca perdagangan bisa surplus, ternyata yang diumumkan BPS itu defisit cukup dalam,” tutur dia di Jakarta, Selasa (17/12/2019).
Sentimen itu memang sempat membuat mata uang NKRI itu ditutup melemah pada hari kemarin. Di pasar spot, rupiah ditutup melemah 0,14% ke Rp14.010 per USD. Sementara di kurs tengah Bank Indonesia juga turun 0,16% ke Rp14.004 per USD.
Dengan kondisi tersebut, Reny memprediksi laju mata uang Merah Putih itu berpeluang melanjutkan pelemahan. Terlebih di pekan ini ada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI. Pasalnya, kata dia, jelang akhir tahun itu biasanya permintaan USD bakal meningkat.
Untuk itu, ruang gerak rupiah yang diprediksi Reny bakal berada di rentang Rp 14.030-Rp 14.180 per USD. Namun begitu, pelaku pasar tetap harus mewasapadi segala sentiment yang ada.
Tomy Asyari
