
Jakarta — Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap USD ke Rp 12.000-an akhir-akhir iniĀ kurang terkait dengan kebijakan tapering off yang berlangsung di Amerika Serikat per Januari tahun 2014. Tetapi lebih terkait dengan permintaan pasar terhadap USD yang deras di akhir tahun. “Kalau permintaan itu mereda, Rupiah akan kembali menguat di tahun 2014,” kata Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, kepada wartawan usai salat jumat di Jakarta hari ini.
Agus mengatakan, dampak tapering off itu justru lebih halus daripada yang diperkirakan pasar sebelumnya. Sebab, selain dilakukan bertahap, tapering off disosialisasikan jauh hari sebelum dimulai.
Bagi Indonesia, untuk memerbaiki nilai tukar Rupiah, yang perlu dilakukan adalah memerkecil defisit neraca perdagangan yang sudah berlangsung 26 bulan. “Itu harus diminimalkan terlepas dari fakta bahwa belakangan ini defisit tersebut mulai mengecil,” kata Agus.
Ia berkata, “Kita harus mengupayakan agar defisit neraca perdagangan tidak sampai 3 persen dari GDP.”
Impor minyak merupakan satu penyebab nilai impor Indonesia tinggi. Dan di tahun 2014, kondisi tersebut masih berlangsung. Produksi minyak di tahun itu di 800.000-an barel per hari sementara kebutuhan bisa melebihi 1 juta barel per hari, kata Agus.
Mengatasi defisit neraca perdagangan, ia menambahkan, reformasi struktural harus terus dilangsungkan di bidang ekonomi. (ADHITO)