TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Asa Industri Sawit di Tengah Kenaikan Harga ‘Emas Hijau’

Nurdian Akhmad
27 December 2019 | 17:22
rubrik: Business Info
Ultah ke-30, Astra Agro Tanam 30.000 Pohon Mangrove

Petani sawit sedang memetik buah sawit/foto: istimewa

Pelaku industri sawit dalam negeri melihat secercah harapan setelah harga komoditas tersebut menguat dalam tiga bulan terakhir. Berbagai jurus pun disiapkan mereka untuk menghadapi bisnis sawit pada 2020.

Akhir 2019, para produsen minyak sawit mentah (CPO) di Tanah Air terlihat semringah. Betapa tidak, harga komoditas sawit dalam tiga bulan terakhir terus menanjak di pasaran. Pada Jumat  (20/12/2019), harga CPO kontrak pengiriman tiga bulan di Bursa Malaysia Derivatif Exchange menembus RM 2.900/ton, tepatnya berada di level RM 2.913/ton. Bandingkan dengan harga CPO pada Juli 2019 yang sempat jatuh hingga mencapai RM 1.942/ton.

Penguatan harga CPO ini diprediksi sejumlah kalangan akan terus berlanjut hingga semester I 2020. Para pelaku pasar khawatir terhadap risiko dari sisi suplai. Tingkat produksi CPO Indonesia dan Malaysia pada periode Desember 2019-Maret 2020 diramal lebih rendah dari sebelumnya. Padahal di periode tersebut permintaan CPO diprediksi menguat akibat adanya program biodisel B30 di Indonesia dan B20 di Malaysia.

Para trader melihat produksi CPO di kedua negara pada semester pertama 2020 turun 320.000 ton menjadi 30,47 juta metrik ton. Di sisi lain, persediaan pada akhir Maret 2020 bisa turun tajam menjadi 3,5 juta metrik ton.

“Prospek bullish akan berlanjut hingga semester pertama 2020 dengan harga CPO berada di kisaran RM 2.400 hingga RM 2.800 per ton, karena produksi yang rendah dan mandat biodiesel Malaysia dan Indonesia dapat memangkas stok CPO dunia hingga 500 ribu ton,” ujar CEO Grup FGV Haris Fadzilah Hassan seperti dilansir dari Bloomberg, akhir Desember 2019 lalu.

Bagi para pelaku industri, meggeliatnya harga CPO tersebut tentu semakin memantapkan langkah ekspansi bisnis mereka pada 2020 ini. Sejumlah produsen sawit sudah berancang-ancang untuk memperluas kebun sawit dan menggenjot kapasitas produksi pabrik mereka.

BACA JUGA:   Harga Batubara Turun

Sinyal Positif

Sekretaris Perusahan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk Swasti Kartikaningtyas menilai kenaikan harga CPO belakangan ini merupakan sinyalemen positif bagi industri sawit. Terlebih, pemerintah Indonesia berencana menerapkan program campuran bahan bakar biodiesel sebesar 30% atau B30, setelah sebelumnya menjalani program B20. Kebijakan ini berpotensi meningkatkan permintaan komoditas sawit.

“Kami mengharapkan penerapan program B30 diikuti negara lain. Di samping meningkatkan permintaan CPO, kewajiban itu membawa tren untuk menggunakan energi terbarukan,” ujar Swasti

Sinyalemen positif ini diharapkan terus berlanjut dan mendorong permintaan sehingga industri sawit bisa menggeliat kembali. Dari tandan buah sawit segar (TBS), emiten berkode saham SSMS ini menargetkan produksi rata-rata 35 ton per hektare (ha) di tahun 2020 dengan  oil extraction rate  (OER) 25%.

Dengan luas lahan sawit yang mencapai 82.500 ha, manajemen SSMS memperkirakan produksi TBS pada 2020 bisa mencapai 2,88 juta ton. “Sedangkan untuk CPO, kami menargetkan ada peningkatan produksi sekitar 25% dari tahun 2019,” ujar Swasti.

Perluas Kebun

Lain lagi yang akan dilakukan manajemen PT Sampoerna Agro Tbk. Anak usaha Sampoerna Group ini akan mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) Rp 600 miliar pada 2020 ini. Sekitar 66,66% dana itu akan digunakan perseroan untuk belanja aset perkebunan sedangkan sisanya untuk belanja aset tetap.

“Belanja modal kurang lebih sama Rp 600 miliar untuk aset perkebunan dan aset tetap. Aset perkebunan adalah pemeliharaan, belanja pupuk sampai peremajaan. Sementara aset tetap untuk bangunan, infrastruktur berupa jalanan,” kata Head of Investor Relations Sampoerna Agro Michael Kesuma kepada media, pertengahan Desember 2019 lalu.

Tahun 2020 ini, anak usaha Sampoerna itu akan melakukan penanaman kelapa sawit seluas 4.000 hektare dan 4.000 hektare ditanami karet. Strategi utama perseroan dalam 2-3 tahun ke depan ialah memperkuat bisnis hulu.

BACA JUGA:   Ekspor CPO Dilarang, Harga TBS Sawit Anjlok 30 Persen

Menurut Michael, produktivitas adalah kunci utama untuk mengantisipasi volatilitas harga minyak sawit. Pasalnya, dengan penurunan harga yang kerap terjadi, emiten berkode saham SGRO itu bisa mengkompensasinya dengan menambah volume penjualan.

Sementara, PT Astra Agro Lestari Tbk akan menggulirkan mayoritas belanja modal pada 2020 untuk perawatan kebun sawit. Namun, untuk besaran alokasi belanja modal pada tahun ini masih dalam tahap penyelesaian.

“Secara umum tetap belanja terbesar untuk pemeliharaan tanaman yang belum menghasilkan, perawatan infrastruktur dan pabrik, serta fasilitas kerja lainnya,” kata Direktur Utama Astra Agro Lestari Santosa. Tahun 2019 lalu, emiten berkode saham AALI itu menyiapkan belanja modal Rp 1,5 triliun.

Santosa mengatakan evaluasi ulang anggaran perlu dilakukan guna menyesuaikan dengan kondisi pasar minyak sawit. “Kami masih evaluasi ulang kondisi dengan perkembangan terakhir. Sebab, kenaikan harga minyak sawit saat ini kan lebih dipengaruhi faktor ekspektasi produksi yang di luar prediksi akibat musim kering lebih panjang dari perkiraan,” kata dia.

Santosa menambahkan komitmen pemerintah untuk mandatori B30 tahun depan meningkatkan kebutuhan minyak sawit untuk pasar domestik sehingga mengurangi pasokan di pasar global. “Namun secara umum kami berharap kondisi tahun depan lebih baik dibandingkan tahun ini,” ucapnya.

Maksimalkan Utilitas Pabrik

Sedangkan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk telah menyiapkan sejumlah jurus jitu untuk menghadapi bisnis sawit di 2020. Emiten berkode saham UNSP ini akan meningkatkan bisnisnya di upstream maupun downstream.

Investor Relation and Director UNSP Andi W Setianto menyatakan  fokus bisnis di sisi upstream adalah mengembangkan produksi benih unggul kelapa sawit untuk membantu pemerintah mempercepat program revitalisasi kebun sawit dalam negeri.

“Perusahaan sudah menyiapkan belanja modal di 2020 sebesar Rp 100 miliar hingga Rp 150 miliar untuk keperluan upstream,” kata dia.

BACA JUGA:   Pungutan Ekspor CPO Direvisi, Ini Tarif Barunya

Belanja modal tersebut akan digunakan untuk meningkatkan dan mengoptimalkan sistem, seperti manajemen air, usia tanaman, hama, dan lainnya. Selain itu, capex digunakan untuk meningkatkan kualitas infrastruktur baik itu produksi maupun fasilitas pendukung.

Bakrie Plantations juga berencana mengkonversi tanaman karet yang usianya sudah di atas 25 tahun atau masuk kategori tua untuk diganti dengan sawit, tebu, atau tanaman lainnya.  Sedangkan di sisi downstream, perseroan akan meningkatkan utilisasi plant oleokimia yang ada.

“Rencananya bakal dimaksimalkan dari sebelumnya utilisasi produksi acid baru 75% dan alkohol baru 65% akan menjadi 100% di akhir 2020,” ujar Andi.

Andi mengungkapkan masih rendahnya utilisasi di tahun ini karena pabrik baru saja aktif beroperasi di Desember 2018 dan masih memerlukan maintenance di beberapa mesin. Oleh karenanya waktu operasional jadi terbatas. Nantinya di sepanjang 2020, perusahaan akan memaksimalkan waktu operasional sehingga bisa memproduksi 9.000 ton acid per bulan.

Setelah utilisasi mampu 100%, Andi berani memproyeksikan kontribusi oleokimia bisa lebih besar lagi di tahun 2020 yakni 50% secara konsolidasi dari sebelumnya 32%. Adapun sisa 50% lagi akan diisi oleh sawit dan produk turunannya.

Andi berharap dengan adanya kontribusi penjualan yang besar dari product mix ini, Bakrie Sumatera tidak perlu lagi tergantung pada fluktuasi harga CPO. “Ke depan perusahaan akan  mencari product mix lain dengan margin lebih besar sehingga UNSP tidak tergantung lagi sama harga CPO,” tandasnya.

Tags: cpominyak sawit mentah
Previous Post

Akhir Pekan, Indeks Terangkat 9 Poin

Next Post

BEI Suspensi APOL dan APOL-W

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR