TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Ada Corona, Pertumbuhan Ekonomi Diramal Cuma 4,2%

Busthomi
4 March 2020 | 14:35
rubrik: Ekonomi
Laju Ekonomi RI Kuartal II Melambat

Jakarta, TopBusiness – Penyebaran wabah corona yang masih belum dipastikan kapan bakal meredanya dipastikan oleh banyak pihak berdampak buruk pada perekonomian. Apalagi memang mengingat posisi China sendiri saat inimasih menjadi pemain besar dunia di sektor perdagangan. Sehingga pelemahan ekonomi di negeri Tirai Bambu itu bisa berdampak ke banyak negara termasuk Indonesia.

Menurut ekonom senior Indef, Enny Sri Hartati selama ini struktur ekonomi Indonesia sebelum ada virus corona itu memang ada masalah. Apalagi ditambah dampak corona yang luar biasa ini. Sementara China sendiri menguasai sekitar 16 persen dari GDP dunia.

“China itu adalah pusat dari global supply chain. Dan semua industri itu hampir komponennya itu diproduksi di China. Jadi perlambatan ekonomi di sana akibat corona berdampak ke seluruh dunia. Termasuk Indonesia,” ujar dia di Jakarta, Rabu (4/3/2020).

Dalam hitungan dia, mengacu ke kasus wabah SARS dulu itu, pada saat itu penurunan 1% GDP China ternyata berdampak ke penurunan GDP Indonesia sebesar 0,2% hingga 0,3%. Namun masalahnya, kalkulasi itu dengan catatan saat itu hubungan perdagangan dengan China masih belum besar, hanya belasan persen. Dan sekarang justru konstribusi perdagangan impor dari China ke Indonesia hampir 30%.

“Artinay kalau ada penurunan 1% GDP China bisa jadi penurunan di ekonomi kita sebesar 0,3%-0,4%. Dan banyak yang memprediksi kalau wabah corona ini tak hanya terjadi dalam satu kuartal, yakni di kuartal I-2020 saja, malah lebih dari dua kuartal. Jika begitu, penurunan GDP China hampir 2%, maka dampak ke kita penurunannya bisa sampai 0,6%,” terangnya.

Indef sendiri, kata dia, telah meramal laju perumbuhan ekonomi tahun ini hanya di angka 4,9%. Sehingga tinggal dikurangi angka 0,6% saja sebagai dampak dari bahaya corona itu. “Berarti tinggal 4,2% prediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini. Dan angka itu untuk ekonomi Indonesia itu berat sekali. Jadi kondisinya di saat itu sudah betul-betul daya beli masyarakat dan sebagainya sudah habis-habisan,” terang Enny.

BACA JUGA:   Kinerja Manufaktur RI Diproyeksi Masih Ekspansif di Tengah Risiko Global

Analisa dia itu mengacu pada kondisi industri dalam negeri saat ini yang sangat memiliki ketergantungan terhadap supply chain dunia. Apalagi hampir semua bahan baku itu dari China, seperti kimia, farmasi, karet, dan produk olahan lainnya semua terantung dari pasokan China. Sehingga begitu Tiongkok tak memasok lagi, industri dalam negeri tak berporses lagi. “Dan itu itu kebanyakan manufaktur. Karena selama ini mereka itu tak memiliki buyer stock,” pungkasnya.

Tags: indefpertumbuhan ekonomi
Previous Post

Pertamina EP Cepu Raup Laba US$ 849,5 Juta

Next Post

Kementerian ESDM Fokus ke Kemandirian Energi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR