
Jakarta, businessnews.id — Panin Asset Management menilai, penurunan harga minyak dunia yang sempat menyentuh level USD 50 per barel akan menjadi salah satu instrumen pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kami melihat bahwa penurunan harga minyak dunia akan positif bagi perekonomian Indonesia di tahun ini,” ujar Presiden Direktur Panin Asset Management, Winston Sual, di Jakarta (3/2/2015).
Dia memerkirakan, penurunan harga minyak akan berlangsung hingga kurun satu tahun, bahkan dua tahun ke depan. “Namun yang paling penting adalah, bagaimana pemerintah bisa mengelola minyak dengan baik,” ucapnya.
Menurut Winston, pihaknya optimis perekonomian domestik akan lebih baik dibandingkan dengan 2014 yang pertumbuhannya hanya mencapai 5%.
Paling tidak ada tiga dampak dari penurunan minyak tersebut, yakni di struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), di mana akan ada pengalihan subsidi bahan bakar minyak (BBM) ke infrastruktur, turunnya CAD (current account deficit), dan konsumsi rumah tangga.
“Jika [harga minyak] turun sampai USD 68 per barel, ada saving sebesar Rp 290 triliun,” kata dia.
Penulis/Peliput: Abdul Aziz
Ed: Dhi