Jakarta, TopBusiness—Sejak pertengahan April, Indonesia telah memasuki tahap “restricted living” dalam masa pandemi Covid-19 dengan diterapkannya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hal ini tak dapat dihindari berdampak pada perubahan yang cukup besar dalam tradisi dan pola perilaku konsumen dalam menyambut Ramadan dan Idul Fitri, sehingga para pelaku industri perlu menciptakan kembali suasana perayaan besar tahunan ini dengan cara yang berbeda untuk dapat meraih pertumbuhan yang positif.
Demikian menurut Nielsen dalam studi terbarunya mengenai Ramadhan dan Idul Fitri dalam masa “restricted living”.
Indrasena Patmawidjaja, Managing Director Nielsen Connect Indonesia, mengatakan melalui keterangan pers yang diterima kemarin malam oleh Majalah TopBusiness, bahwa setiap tahun di Indonesia ada beberapa tradisi yang dijalankan oleh masyarakat selama Ramadan dan Idul Fitri seperti menyelenggarakan buka puasa bersama dan acara sosial dengan membagikan paket sembako, juga mengirimkan bingkisan hari raya kepada kerabat dan relasi bisnis. Selain itu juga tentunya tradisi mudik, liburan ke luar kota dan berkumpul dengan kerabat di rumah yang populer dengan istilah “open house”.
Tahun ini pandemi Covid-19 menyebabkan perubahan yang sangat signifikan terhadap tradisi-tradisi tersebut dan juga berimbas pada pola konsumsi barang FMCG (fast moving consumer goods).
Tahun 2019 pertumbuhan produk-produk yang termasuk dalam kategori festive seperti sirup, margarin dan minuman ringan bersoda bisa mencapai 300%. Namun tahun ini pertumbuhan produk kategori festive tersebut berada dalam tingkat yang serupa dengan pertumbuhan produk-produk yang terkait dengan Covid-19 seperti vitamin dan tisu basah yang hanya mencapai di atas 20%, bahkan di bawah sabun cuci tangan cair yang pertumbuhannya mencapai di atas 100%.
“Adanya larangan pemerintah untuk mudik juga akan berdampak terhadap pertumbuhan beberapa kategori seperti produk untuk perjalanan, perawatan diri dan kategori impuls. Sementara itu peritel modern di kota-kota kecil harus bergantung pada penduduk setempat, di mana penjualan di toko-toko modern akan turun dibandingkan dengan tahun 2018 dan 2019 karena tahun ini tidak ada pemudik dari kota-kota besar yang mampir berbelanja,” kata Indrasena.
Ilustrasi: Istimewa
