
Jakarta, businessnews.id — Beberapa mantan direksi Bank rakyat Indonesia (BRI) tercatat mengisi jabatan direksi bank badan usaha milik negara (BUMN) lainnya. Pengamatan wartawan BusinessNews Indonesia, minimal tiga direksi dari BRI mengisi jajaran direksi Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank Mandiri.
Rapat umum pemegang saham tahunan BNI (Jakarta, 17/3/2015) menyetujui diangkatnya Suprayanti sebagai wakil direktur utama. Dia sebelumnya direktur di BRI.
Kemudian, Rico Rizal Budidarmo yang sebelumnya direktur BRI, menjadi direktur BNI.
Adapun sehari sebelumnya, rapat umum pemegang saham terbatas Bank Mandiri mengangkat Sulaiman Arif sebagai wakil direktur utama. Sebelumnya, dia direktur BRI.
Menurut Deputi Menteri BUMN Bidang Jasa Keuangan, Jasa Keuangan, dan Jasa Lain, Gatot Trihargo, fenomena tersebut merupakan bagian rencana sinergi bank BUMN.
“Bukan hanya rotasi dari Bank BRI ke bank BUMN. Itu bagian dari sinergi,” kata dia.
Direksi Baru BNI
Rapat pemegang saham BNI itu juga menyetujui pengangkatan Achmad Baiquni, yang sebelumnya direktur keuangan, menjadi direktur utama menggantikan Gatot Suwondo.
Selanjutnya, Hery Sidharta yang semula direktur Jamkrindo, menjadi direktur BNI. Adi Sulistyowati, semula general manager network and service BNI, menjadi direktur BNI.
Bob Tyasika Ananta, dari general manager strategic planning BNI, menjadi direktur BNI.
Anggoro Eko Cahyo, dari general manager human capital BNI, menjadi direktur BNI.
Iman Budi Sarjito dari general manager enterprise risk management BNI, menjadi direktur BNI.
Sedangkan Sutanto tetap direktur di BNI.
Jajaran komisaris dijabat oleh Rizal Ramli sebagai komisaris utama; Pradjoto untuk wakil komisaris utama. Komisaris lainnya adalah Anny Ratnawati, Jos Luhukay, Pataniari Siahan, Zulkifli Zaini, Revrisond Baswir, Daniel Sparingga, Ki Agus A. Badarudin.
Deviden
Rapat pemegang saham BNI, juga menyepakati pembagian deviden sebesar Rp 2,696 triliun. Atau 25% dari laba bersih tahun buku 2014 sebesar Rp 10,78 triliun.
“Deviden itu akan dibagikan kepada pemegang saham yang namanya tercatat dalam pemegang saham perseroan,” kata Gatot Suwondo.
Ia menambahkan, rapat juga sepakat bahwa 16,65% atau senilai Rp 1,796 triliun dari laba bersih digunakan untuk cadangan guna mendukung investasi.
Dan sisa laba bersih ditetapkan sebagai laba ditahan.
Sementara tahun buku 2013, BII menyebar deviden sebesar 25% dari laba bersih. Deviden itu senilai Rp 2,716 triliun.
Penulis/Peliput: Abdul Aziz
Ed/Up: Dhi
Ralat:
Di paragraf kedua tulisan ini, tertulis: …”Suprayanti sebagai wakil direktur utama”.
Yang tepat sebagai berikut: …”Suprajarto sebagai wakil direktur utama”.
Maaf untuk kekeliruan tersebut.
(Redaksi)