Jakarta, TopBusiness – Lembaga Kajian Nawacita (LKN) siap menjalin kerja sama dengan Universitas Pertahanan (Unhan) untuk membangun bangsa dan mengembangkan pertahanan.
Hal itu mengemuka dalam audiensi jajaran pengurus LKN dengan Rektor Universitas Pertahanan Laksamana Madya TNI Dr Amarulla Oktavian, ST, MSc, DESD, CIQnR, CIQaR di Kampus Universitas Pertahanan, Komplek IPSC Sentul, Bogor, Selasa (3/11/2020).
Hadir dalam audiensi tersebut, Ketua Umum LKN Samsul Hadi, Ketua Divisi Ekonomi Nawacita Sosial Initisatif (NSI) Goenardjoadi Goenawan, Chairman of The Jakarta Consulting Group AB Susanto, Pemimpin Redaksi Majalah TopBusiness M. Lutfi Handayani, serta Warek I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhan Mayjen TNI Dr. Jonni Mahroza, S.I.P., M.Sc.
Dalam audiensi tersebut, Rektor Unhan Amarulla Oktavian mengawali sambutannya dengan menjelaskan mengenai kemajuan Unhan yang baru berdiri pada 2009 itu. Awalnya, universitas di bawah Kementerian Pertahanan ini hanya membuka program strata 2 (S2). Kemudian pada 2017, Unhan membuka program S3 dan tahun ini membuka program S1. Tahun depan, pihaknya berencana membuka politeknik di wilayah-wilayah perbatasan.
“Karena kami konsepnya membangun perbatasan dengan membuka pusat-pusat pendidikan. Konsep kami ke depan adalah membangun bangsa Indonesia ini, untuk mengembangkan pertahanan yang tidak saja bermanfaat bagi tentara tapi juga untuk rakyat banyak,” kata Amarulla.
Menurut dia, banyak sekali produk-produk teknologi yang tadinya hanya digunakan untuk perang, tapi akhirnya menjadi produk yang digunakan untuk rakyat banyak. Dia mencontohkan, handphone dan teknologi internet sebenarnya adalah teknologi militer. Teknologi video call, misalnya, sudah digunakan tentara Amerika Serikat (AS) ketika membebaskan Kuwait tahun 1991. Sebab itu, Unhan juga memiliki fakultas teknologi pertahanan.
“Mudah-mudahan dengan kunjungan Bapak-Bapak dari LKN ini, kami dari Universitas Pertahanan bisa berperan apa, mohon diarahkan saja terutama terkait kegiatan kami dalam pengabdian masyarakat,” ujar Amarulla.
Sementara itu, Ketua LKN Samsul Hadi menjelaskan bahwa kunjungan silaturahim ini diharapkan bisa mendapatkan masukan-masukan terbaik untuk program-program LKN. Lembaga ini didirikan tahun 2014 didasari kenyataan bahwa di Indonesia banyak orang pintar, tapi jalannya masing-masing atau tidak mengerucut pada tujuan nasional.
“Sehingga resultante dari pemerintah boleh dibilang tidak optimal. Kami berusaha mengumpulkan teman-teman itu, ada yang purnawirawan, ada yang pensiunan, profesional. Jadi LKN adalah komunitas independen yang berbasis profesi,” kata dia.
Menurut Samsul, tujuan pendirian LKN ini adalah untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul.
Kolaborasi Program Unhan dengan CSR
Pemimpin Redaksi Majalah TopBusiness yang juga pengurus LKN, M. Lutfi Handayani dalam audiensi tersebut menyampaikan beberapa poin yang bisa ditindaklanjuti dalam kerja sama LKN dengan Unhan. Pertama, terkait rencana Unhan membangun politeknik di wilayah terluar, Majalah TopBusiness bersama LKN beberapa waktu lalu menyelenggarakan kegiatan CSR Awards.
“Kami melihat program membangun pendidikan di wilayah terluar itu bisa disinergikan dengan CSR-CSR perusahaan,” kata Lutfi.
Menurut Lutfi, perusahaan dalam melaksanaan CSR saat ini memiliki panduan yaitu ISO 2600 Social Responsibility. Itu berbeda dengan dahulu yang hanya sifatnya membantu atau membagikan donasi.
“Program Unhan ini bisa dikolaborasikan dengan CSR perusahaan. Caranya dengan kita harus memahami bagimana mereka memprioritaskan anggaran CSR-nya, salah satunya dengan menggunakan ISO 26000 SR,” tutur Lutfi
Poin kedua, kata Lutfi, mengenai pertahanan dalam konteks nonmiliter. Sebagaimana disebutkan dalam peraturan perundangan bahwa setiap warga negara berhak dan wajib melakukan bela negara. Saat ini terdapat indeks mengenai bela negara. Hanya saja, indeks tersebut baru yang terkait institusi atau kelembagaan.
Menurut Lutfi, Kampus Unhan melalui lembaga penelitiannya maupun lembaga di bawahnya bisa merumuskan sebuah indeks untuk mengukur tingkat bela negara seseorang yang bisa digunakan oleh semua kalangan.
“Jadi konsep bela negara yang applicable, bisa diterapkan dalam keseharian. Kalau sudah dirumuskan baru kemudian dibuat aplikasi atau software-nya. Kalau itu bisa dimunculkan dari Unhan akan lebih bagus lagi, jadi tidak hanya slogan ayo bela negara, tapi ada panduan atau caranya,” tutur dia.
