Jakarta, TopBusiness – Emiten yang bergerak dalam bidang jasa dan perdagangan melalui anak perusahaan, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) memastikan telah mendapat kucuran dana dari Bank HSBC senilai Rp1,5 triliun.
Fasilitas pinjaman tersebut bertenor 36 bulan sejak tanggal perjanjian ditandatangani, yakni pada 20 November 2020. Untuk diketahui, SCMA merupakan induk perusahaan yang mengelola dua televisi nasional papan atas yakni SCTV dan Indosiar.
“Perseroan bersama-sama entitas anak, yakni PT Surya Citra Televisi (SCTV) dan PT Indosiar Visual Mandiri (Indosiar), telah menandatangani perjanjian fasilitas pinjaman dengan PT Bank HSBC Indonesia sebesar Rp1,5 triliun, dengan jangka waktu selama 36 bulan sejak taggal perjanjian,” demikain disampaikan Direktur Utama Surya Citra Media Tbk, Sutanto Hartono dalam keterukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Rabu (25/11/2020)
Menurut Sutranto, fasilitas pinjaman senilai Rp1,5 triliun itu akan digunakan perseroan untuk tujuan umum perseroan dan modal kerja PT Surya Citra Media tersebut.
“Dan dari kejadian ini tak ada dampak berarti. Yakni tidak ada dampak baik yang bersifat material yang merugikan terhadap kegiatan operasional, maupun hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan operasi perseroan,” tutur dia.
Kinerja SCMA sendiri sejatinya mulai alami perlambatan. Hingga kuartal III-2020, perseroan tercatat mengalami penurunan laba bersih sebesar 9,3% menjadi Rp 914 miliar dibandingkan periode sama tahun lalu yang di angka Rp 1,01 triliun secara year on year (yoy).
Penurunan tersebut memang sejalan dengan penurunan pendapatan perseroan sebesar 13,5% menjadi Rp3,58 triliun dari Rp4,14 triliun secara yoy.
Meski demikian, margin kotor perseroan naik dari 51,5% menjadi 56,5%. Begitu juga dengan margin keuntungan bersih (net margin) naik dari 24,3% menjadi 25,5%.
Namun begitu, kendati laba perseroan tercatat melemah, pencapaian laba bersih itu masih lebih tinggi dari ekspektasi. Hal ini lantaran dipengaruhi oleh pulihnya penjualan perseroan bersamaan dengan pengetatan biaya program. Selain itu, perseroan mencatat lonjakan segmen digital mencapai Rp 44,6 miliar.
Peningkatan keuntungan segmen digital ini ditopang oleh lonjakan pelanggan, peningkatan pengiklan pada platform tersebut, dan secara bersamaan terjadi penurunan biaya produksi. Selain itu, perseroan juga mencatatkan normalisasi margin keuntungan, setelah memproduksi sejumlah serial mini dan konten baru.
Foto: Istimewa
