Jakarta, TopBusiness – Sebagai organisasi kemanusiaan, kiprah Human Initiative tergolong sudah cukup lama. Bagaimana tidak, didirikan sejak tahun 1999, lembagai ini telah menjalankan tugasnya selama 21 tahun. Di kurun waktu tersebut, Human Initiative juga telah melakukan transformasi organisasi.
“Kita melakukan transformasi organisasi di 2018, untuk menjadi lembaga yang lebih agile (lincah). Lalu visi dari organisasi kami adalah menjadi organisasi kemanusiaan dunia terpercaya dalam membangun kemandirian,” ujar Widiyarti Dardjono, General Manager of Organizational Development di Human Initiative dalam sesi wawancara Penjurian Top CSR Awards 2021 yang diadakan Majalah Top Business secara virtual.
Saat ini, Human Initiative telah memiliki 13 cabang di Indonesia, mulai dari Aceh sampai paling timur di Maluku. Selain itu, organisasi ini juga memiliki cabang, yaitu ada di Australia, Korea Selatan, dan juga di London, Inggris.
Human Initiative mempunyai banyak aktivitas usaha, di antaranya riset dan pengembangan. Lalu ada juga pengembangan sistem manajemen mutu. “Kami menerapkan ISO 9001 tahun 2015 untuk memastikan produk dan layanan yang kami lakukan itu memiliki kualitas yang dibutuhkan atau diharapkan oleh customer atau pelanggan kami,” jelas Widyarti.
Adapun aktivitas usaha lainnya mencakup penerapan sistem manajemen kinerja; pengelolaan sumber daya organisasi; pengembangan kapasitas dan kompetensi sumber daya organisasi; pembangunan kemitraan dan kolaborasi dengan pemangku kepentingan; penghimpunan dana sosial kemanusiaan; respon kegawatdaruratan dan pemulihan dampak bencana; penyaluran bantuan tunai dan non tunai; pemberdayaan masyarakat; serta advokasi dan diplomasi kemanusiaan.
Menyinggung soal CSR, dalam kebijakan prosedur penetapan program dan anggarannya, disebutkan bahwa kedua hal tersebut ditetapkan dengan melihat tren potensi dan tantangan pada tahun sebelumnya.
“Jadi, kami lakukan by data, sehingga kami bisa menerapkan di tahun ini atau tahun ke depan itu bisa melakukan program yang seperti apa,” tandas Langga Pratama, National Manager of CSR Partnership di Human Initiative.
Selain itu, penetapan program juga dapat dilihat dari kebutuhan yang terjadi di lapangan/permintaan pemangku kepentingan.
Langga lebih lanjut menyatakan Human Initiative memiliki tiga inisiatif CSR yang mendukung strategi bisnis organisasi, yaitu ada Initiative for Disaster (fokus pada penanganan pra maupun pasca kebencanaan); Initiative for Children (fokus pada perlindungan, pendidikan dan kesejahteraan anak); dan yang ketiga Initiative for Empowerment (fokus pada pemberdayaan masyarakat khususnya di bidang gizi, ketahanan pangan, air bersih, sanitasi, ekonomi, dan pendidikan, dan lain-lain).
Langgan juga menegaskan bahwa dalam menjalankan aktivitasnya, Human Initiative bekerja sama dengan berbagai stakeholder mulai dari private sector, kemudian BUMN dan sebagainya.
Kembali ke soal kebijakan dan strategi CSR, khususnya dalam mendukung bisnis di masa kenormalan baru. Dalam hal ini Human Initiative menggunakan konsep Agility in Pandemic Covid-19, yang di dalamnya mencakup lima hal, antara lain protokol kerja kemanusiaan, stakeholder research, penyesuaian model kerja organiasi, optimalisasi Teknologi Informasi, dan pendekatan tata kelola SDM baru.
Berangkat dari situ, Human Initiative pun memiliki program CSR unggulan di masa pandemi yang tercakup dalam satu konsep bernama Prinsip Perlindungan dan Kehidupan Bermartabat. Seperti diungkap Langga, di dalam konsep ini tercakup lima hal, antara lain Ketahanan Pangan Keluarga; Protokol Pelaksanaan Project; Akuntabilitas agar semua yang dilakkan clear dan transparan; Left No One Behind dalam arti merangkul semuanya dan agar semuanya maju bersama; dan yang terakhir itu ada Cross Cutting Issue: Anak dan Tenaga Medis.
Adopsi CSV dalam CSR
Berkaitan dengan adopsi CSV (Creating Shared Value), Langga memaparkan tiga outcome (sasaran) yang hendak dicapai Human Initiative dalam aktivitas CSR-nya. Pertama, pencegahan penularan pada kelompok risiko tinggi. Program yang dijalankan adalah Mobile Labs yang merupakan laboratorium bergerak dengan standar BSL 2 yang bertujuan untuk membantu pemeriksaan specimen Covid-19.
”(Program) ini sempat kita launching bersama bapak Gubernur DKI Jakarta. Ini Kolaborasi kita dengan NAMA Foundation. Dan ini menggunakan teknologi terkini ada BSL 2-nya. Dengan ini kita bisa membantu menekan penyebaran Covid-19 di negeri kita,” ungkap Langga.
Selain itu, ada juga program distribusi APD, yang dilakukan di sejumlah rumah sakit, baik swasta maupun negeri di berbagai provinsi di Indonesia.
Selanjutnya, pada sasaran kedua, yakni Pembentukan Perilaku GERMAS Masyarakat, Human Initiative juga memaparkan dua program, seperti Bidan Inspiratif yang dilakukan atas kolaborasinya dengan Kimia Farma. ”Jadi, kita memberdayakan Bidan Desa dalam menjalankan perannya sebagai agen perubahan. Ini programnya ada banyak, tetapi focus pada pencegahan stunting dan juga focus pda kelompok 1000 HPK (hari pertama kehidupan),” ungkap Langga.
Di samping Bidan Inspiratif, Human Initiative juga memiliki program Shelter & Latrine, yakni bantuan hunian dan akses sarana MCK yang bermartabat untuk 248 kepala keluarga yang masih menempati tenda pengungsian di Kelurahan Balaroa Kota Palu hingga 1,5 tahun pasca bencana. Pendekatan program menggungakan pendekatan berbasis masyarakat.
Sasaran ketiga yang dibidik Human Initiative dalam CSR-nya adalah Ketahanan Ekonomi dan Ketahanan Pangan Komunitas dengan program CSR Keluarga Multi Penghasilan (KMP) Lampung dan Pemberdayaan Ekonomi berbasis Pesantren.
“Untuk Keluarga Multi Penghasilan (KMP) Lampung, kita mendorong program bagaimana meningkatkan pendapatan keluarga prasejahtera melalui pengkapasitasan dan juga perencanaan dan management usaha, mentoring bisnis serta bantuan modal,” kata Langga.
Sementara pada program Pemberdayaan Ekonomi berbasis Pesantren dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan perekonomian pesantren. ”Kita mendorong adanya beberapa program, baik itu ketahanan pangan dari holtikultura, peternakan dan lain sebagainya sehingga nanti (pesantren) memiliki kemandirian dalam memproduksi pangan sendiri,” tutup Langga.
Penulis: Fauzi

Mantap HI