Jakarta, TopBusiness – Kinerja Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Jaya tak hanya piawai dalam mengelola bisnisnya, namun begitu Perumda milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini tetap lihai dalam mengucurkan program tanggung jawab sosialnya atau Corporate Social Responsibility (CSR).
Tercatat, sederet program CSR yang merupakan bentuk tanggung jawab Perumda ini sudah dilakukan. Baik itu sebelum era new normal maupun saat new normal atau pandemic seperti saat ini. CSR yang dilakukannya pun menyasar ke semua stakeholder yang merasakan dampak dari aktivitas usahanya itu.
Apalagi seperti disebutkan oleh Direktur Utama Perumda Pasar Jaya, Arief Nasrudin, program CSR yang diusungnya tersebut bisa diukur. Sehingga tidak datang secara sporadis atau aksi CSR itu hanya datang karena adanya musibah.
“Namun salah satunya kenapa kita perlu wujudkan program CSR yang terarah itu, karena merupakan tanggung jawab itu sudah ada dalam diri kami. Makanya kami mengalokasikan dana dari keuntungan kami itu sebesar 2,5% persennya untuk disalurkan sebagai program CSR,” demikian dijelaskan Arief.
Pernyataan Arief tersebut sebagai bagian dari pemaparan program CSR-nya yang begitu komprehensif saat dipresentasikan di depan Dewan Juri TOP CSR Awards 2021, pada Jumat (12/3/2021) lalu yang dilakukan secara virtual.
Perumda Pasar Jaya sendiri menjadi salah satu finalis yang terpilih mengikuti proses penjurian TOP CSR Awards 2021 yang kali ini mengusung tema, ‘Peran Strategis CSR dalam Mendukung Keberlangsungan Bisnis yang Berkelanjutan di masa Kenormalan Baru’. TOP CSR Awards 2021 ini digelar oleh Majalah TopBusiness dengan menggandeng beberapa asosiasi dan konsultan di bidang CSR yang kompeten.
Arief melanjutkan paparannya di depan Dewan Juri. Kala itu, dirinya sangat membanggakan program-program CSR-nya yang memang sudah mengadopsi prinsip Creating Shared Value (CSV). Seperti program pertama, program pendirian Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di pasar-pasar yang dikelolanya.
Program PAUD ini, cerita dia, berawal ketika banyak anak dari pedagang pasar yang bermain di pasarm namun tak terarah dan itu tentu berisiko. Dengan demikian, sebagai proses tanggung jawab perusahaan dengan memikirkan bagaimana caranya mereka bisa tetap terlindungi, meskipun tetap berada di pasar.
“Tentunya program ini bagian dari penyelamatan anak usia dini juga menyelematkan masa depannya, yaitu masa depan manusia dan planet itu sendiri,” terang dia. “Ini merupakan tangung jawab perusahaan yang saya emban yang mengarah ke sustainability. Karena program PAUD ini ada long sustainability-nya. Dan bisa menghasilkan sesuatu yang bisa kita lihat dan bisa kita ukur.”
Program kedua, pemberian bantuan kepada korban banjir di Jakarta. Kegiatan ini diberikan kepada seluruh warga DKI Jakarta yang terdampak banjir, terutama di sekitar pasar. Langkah ini dilakukan tentu berdampak ke perusahaan sebagai peningkatan awareness.
Program ketiga, pemberian bantuan kepada korban kebakaran di Manggarai kepada warga yang menjadi korban dari musibah itu. Program ini juga bisa mendatangkan brand awareness, sehingga mendatangkan reputasi yang baik buat perusahaan.
Program keempat, pemberian mesin potong rumput kepada Unit Pengelola Kawasan Perkampungan Budaya Betawi. Program ini juga sama bisa menguatkan awareness masyarakat terhadap Pasar Jaya.
Dan kelima, program pembagian masker, faces shield, dan hand sanitizer kepada pedagang pasar dan pengunjung pasar. Program ini sangat penting mengingat pasar sendiri sempat menjadi cluster baru penyebaran virus Covid-19.
“Namun dengan program ini kita turut membantu pemerintah. Kita juga mensosialisasikan agar pedagang dan pengunjung pasar mematuhi protocol kesehatan Covid-19. Program ini juga termasuk inisiatif CSR di masa kenormalan baru itu.”

Konsep Baru Pasar
Sebagai salah satu program CSR, sejatinya Perumda Jaya juga sudah dan tengah melakukan penataan pasar menjadi lebih baik. Hal ini tentu sebagai bagain dari tanggung jawab mereka terhadap pedagang, konsumen, dan masyarakat sekitar.
“Makanya, dalam proses CSR itu kenapa revenue kita bisa di-build up karena ada program sustainibility yang kita lakukan. Salah satunya tentang ‘New Concept of Pasar’. Seperti yang dilakukan di Pasar Rumput. Saat ini sudah berbeda. Karena sudah terintegrasi dengan hunian. Jadi pasar tersebut sudah tereformasi dengan baik.”
Dan salah satu yang dilakukannya adalah dengan mereformasi aset dengan mengubah lahan milik Perumda Pasar Jaya yang semula berupa hak pakai lahan (HPL) menjadi hak olah lahan. Hal ini untuk bisa dibangun konsep baru yang nanti diintegrasikan dengan apa pun yang dimilikinya.
Selanjutnya yang saat ini dilakukan adalah konsep baru di Pasar Senen. Pihaknya saat ini sudah melakukan ground breaking dan ditargetkan pada kuartal II-2022 nanti bisa rampung dengan anggaran yang dialokasikan mencapai Rp600 miliar. Pasar ini nantinya akan menjadi sentra UMKM yang modern dan berkualitas. Saat ground breaking di Blok 6, Senen, Jakarta Pusat itu langsung dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.
“Ini pembangunan pasar berbasis hunian di Pasar Senen Blok 6. Ini juga salah satu dari obyek HPL. Dan ini bagian dari program kita juga melakukan reformasi aset di BUMD Perumda Pasar Jaya,” tutur Arief.
Menurutnya, ada banyak manfaat dari program ‘The New Concept of Pasar’ ini, pertama, manfaat lingkungan sekitar, nantinya akan ada escalator ekonomi. Kedua, ikut menguatkan program pemerintah untuk hunian, sebab ada konsep mixing di dalam pasar. Ini juga ada efek sustainability programnya.
“Dan ketiga secara dampak keberhasilan dari proses ini kita siapkan captive market untuk pedagang pasar. Sehingga kemudian dari konvensional bisnis berubah menjadi online bisnis melalui pembangunan infrastruktur tadi.”
Pengelolaan Inflasi dan Sampah
Selanjutnya, tak bisa dipungkiri program pengendalian inflasi dan pengelolaan sampah pasar yang sudah dilakukannya juga merupakan bagian dari program CSR perusahaan. Sebab di situ ada tanggung jawab perusahaan dalam mengendalikan inflasi dan melakukan ketahanan pangan serta menglola sampah pasar dengan baik.
Untuk pengendalian inflasi DKi, bersama stakeholder dinilai sudah berhasil. “Inflasi di Jakarta itu tergolong stabil, ini seperti diakui juga oleh Bank Indonesai (BI). Dan buktinya saat ini kontribusi pengandalian inflasi DKI ke nasioanl sebesar 28%, sebelumnya hanya 19,5%. Artinya, makin tinggi peran pengendalian inflasi membuat supply chain dari food (pangan) itu membaik,” tegas Arief.
Apalagi saat ini, Perumda Pasar Jaya ternyata menjadi perusahaan pertama di DKI dan Indonesia yang memiliki mesin Controlled Atmosphere Storage (CAS) yang bisa memperpanjang usia bawang dan cabai sebagai bagian adri program menjaga inflasi. Selain itu, pihaknya juga sudah membangun 40 titik lumbung pangan di beberapa kelurahan di Jakarta.
Sementara terkait pengelolaan sampah, kendati masih menjadi ‘PR’ besar, namun sebagai bagian dari tanggung jawab perusahaan, pihaknya telah melaksanakan beberapa program inovatif. Seperti melakukan kerja sama dengan produsen plastik agar memasok plastik yang ramah lingkungan.
“Kemarin (belum lama ini) kami juga sudah launching tentang tas untuk belanja, jadi tidak lagi menggunakan kantong plastik. Lalu secara bertahap, per 1 Juli 2020 lalu para pimpinan wilayah baik manager dan kepala pasar agar mengawasi aktivitas pelarangan kantong plastik sekali pakai di area pasarnya.”
Untuk diketahui, selama ini pasar tradisional menghasilkan 600 ton sampah atau sekitar 20 persen kontribusi ke sampah DKI. Dan dengan kebijakan pelarangan kantong sekali pakai ini dilaksanakan maka akan sangat signifikan mengurangi sampah DKI Jakarta.
Selain itu, saat ini pihaknya juga tengah menjalin kerja sama dalam bentuk sinergi BUMD, seperti dengan PT Jakpro dan lain-lain dalam pengembangan sampah berteknologi refuse-derived fuel (RDF). Sehingga ke depan masalah sampah ini bisa diselesaikan dengan baik.
FOTO: Istimewa
