Jakarta, TopBusiness—Bank Indonesia (BI) memertahankan suku bunga acuan, sesuai dengan perkiraan dan memprioritaskan stabilitas Rupiah di tengah ketidakpastian pasar global.
“Hal ini bukan berarti bahwa bank sentral telah mengubah kebijakan longgar, namun prioritas saat ini adalah bagaimana mempercepat transmisi suku bunga acuan ke suku bunga kredit perbankan,” kata ekonom DBS, Radhika Rao, dalam riset yang diterima kemarin malam oleh wartawan Majalah TopBusiness.
Hal ini didukung pula dengan kebijakan lain untuk mendukung pertumbuhan kredit seperti pelonggaran aturan uang muka untuk kredit mobil, kredit rumah (KPR) dan lain-lain.
Radhika menjelaskan bahwa dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, BI juga terus menyerap pasokan surat utang negara di saat arus masuk dana asing berkurang yang mengakibatkan berkurangnya kepemilikan SUN oleh investor asing. Pembelian SUN oleh BI mencapai Rp101,9 triliun sepanjang tahun ini, di mana seperempatnya melalui pasar primer
Perkiraan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) 2021 diturunkan menjadi 4,1-5,1%, membuatnya lebih dekat dengan perkiraan Ekonom DBS (DBS: 4%).
Pertumbuhan inflasi bakal dipengaruhi oleh efek bulan Ramadan/Idul Fitri dan pembanding yang rendah di tahun lalu tetapi tren inflasi tampaknya tidak menjadi masalah bagi pengambil kebijakan. Suku bunga acuan tampaknya masih akan dipertahankan sampai akhir tahun.
“Untuk obligasi pemerintah Indonesia, tim makro DBS bersikap netral memasuki bulan Mei 2021 dan akan masuk kembali setelah tapi dengan catatan ketika imbal hasil 10 tahun mendekati 7%,” katanya.
