Jakarta, TopBusiness – Stabilitas sektor moneter dan keuangan menjadi kunci bagi kebangkitan ekonomi Indonesia dari tekanan pandemi. Pertumbuhan ekonomi akan terus terjaga dan berkelanjutan jika kedua sektor tersebut memberikan dukungan secara optimal. Oleh karena itu, program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang digulirkan pemerintah sejak tahun lalu diharapkan membuat perekonomian bisa lebih stabil meski di saat sulit.
“Dengan adanya stabilitas, pertumbuhan ekonomi akan terus bergerak dalam kecepatan tinggi dan sustain. Dasar bagi BI untuk mengambil kebijakan tentunya melihat perlunya pertumbuhan ekonomi ini terus didorong dengan melihat stabilitasnya saat ini relatif cukup terjaga,” papar Dody Budi Waluyo, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), di Jakarta, dikutip Jumat (4/6/2021).
Dengan melihat stabilitas yang relatif terjaga, dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, BI bisa menetapkan beberapa langkah kebijakan. Pertama, stance kebijakan dalam kondisi moneter yang longgar baik melalui kebijakan suku bunga. Hingga triwulan I-2021 ini suku bunga, kata Dody, telah diturunkan hingga 150 bps. Kemudian BI melakukan ekspansi likuiditas baik melalui koordinasi dengan pemerintah maupun dalam konteks operasi moneter BI.
“Kita juga lakukan kebijakan yang sifatnya di mana nilai tukar diupayakan terus stabil, dalam hal ini termasuk inflasi, juga bagaimana menjaga kecukupan cadangan devisa. Itu yang pertama dalam posisi stance kita hari ini,” jelas dalam virtual seminar LPPI itu.
Selanjutnya, stance kedua dalam tahapan pemulihan ekonomi, adalah mengelola semua risiko yang ada baik yang berasal dari dampak likuiditas yang bertambah, risiko yang berasal dari nilai tukar, risiko kredit yang belum tumbuh, dan risiko karena perubahan suku bunga itu sendiri.
Dan stance ketiga, adalah bahwa bank sentral akan selalu mendukung pertumbuhan ekonomi agar sektor ril bergerak baik dari sisi permintaan maupun penawaran. “Bagaimana kredit bank meningkat seperti halnya sebelum Covid dan bagaimana kita menjaga resiliensi, ketahanan dari sistem keuangan,” jelas Dody.
Dia juga menilai, mobilitas akan terjadi kalau confidence masyarakat terhadap penanggulangan penanganan Covid cukup tinggi. Maka dari itu, dalam hal ini menjadi penting menurutnya adalah, BI dan pemerintah dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan, SSK terus melakukan kebijakan yang sifatnya terkoordinasi, termasuk konteks komunikasinya.
Tren Pemulihan Global
Kunta Wibawa, Staf Ahli Kementerian Keuangan di kesempatan yang sama mengungkapkan bahwa di tahun ini telah terlihat tren pemulihan ekonomi secara global. Ini ditunjukan oleh kinerja belanja yang terus meningkat menandai optmisme global masih tinggi meskipun ada beberapa hal yang perlu diwaspadai.
“Beberapa negara sudah mencatat pertumbuhan positif, dan Indonesia sudah mulai mendekati angka positif. Pasar keuangan stabil, perdagangan global terus membaik dan harga komoditas mulai naik. Tetapi risiko yang memang harus diwaspadai terutama di sisi bagaimana kita mengatasi Covid, karena masih berlanjut. Sebagian besar negara masih negatif pertumbuhannya,” papar Kunta.
Untuk itu, menurutnya, harus ada upaya supaya program vaksin bisa merata di seluruh dunia. Kemudian perlu ada solidaritas dari setiap negara untuk sama-sama melakukan pemulihan global. Untuk Indonesia, lanjutnya, yang perlu diperkuat adalah bagaiman memastikan ekonomi pulih dan pentingnya reformasi saat mengalami kondisi pandemi saat ini.
Kunta mengungkapkan, tahun ini belanja pemerintah sudah meningkat 15 persen. Hal ini menunjukkan bahwa upaya untuk melakukan percepatan belanja sudah dilakukan, dengan harapan bisa menstimulasi pertumbuhan ekonomi.
“Kegiatan produksi swata sudah menguat, konsumsi listrik, industri semen, PPMI, ekspor, impor juga menguat. Maka dengan tren pemulihan dan optimisme yang terjadi meskipun masih harus waspada, kita memproyeksikan sampai akhir tahun kita tumbuh 4,5 hinga 5,3 persen,” ujar dia.
Pertumbuhan tersebut dengan asumsi bahwa konsumsi masyarakat dan pemerintah sudah membaik. Sehingga akan terjadi lonjakan pertumbuhan di kuartal II dan kemudian melandai lagi di kuartal III dan IV.
“Kita sangat optimis karena tahun lalu negatifnya sangat dalam. Sudah banyak yang dilakukan mulai dari respon kebijakan fiskal kita di masa pandemi dari tahun 2020. Dengan memberi stimulus penanganan Covid, lalu reopening kebijakan untuk lakukan stimulus bagi UMKM dan usaha kecil untuk bisa bertahan dan survive,” pungkas Kunta.
FOTO: Istimewa
