Jakarta, TopBusiness – Sebagai salah satu BPD tertua di Indonesia, PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung (Bank Sumsel Babel) yang telah berdiri sejak tahun 1957, terus berupaya melakukan inovasi dan peningkatan layanan kepada para nasabahnya.
Salah satu inovasi yang terus ditingkatkan adalah pemanfaatan teknologi digital dalam transaksi perbankan di bank Sumsel Babel. Bahkan, Bank Plat Merah tersebut Menginvestasikan dana yang cukup besar untuk transformasi digital untuk mempersiapkan kemajuan teknologi yang pesat dewasa ini.
“Bank Sumsel Babel sangat fokus terhadap transaksi digital bagi nasabah, apalagi di tengah masa pandemi yang mengharuskan social distancing dan minimnya transaksi langsung dengan nasabah. Transformasi digital menjadi bagian dari upaya kami untuk menciptakan kemudahan transaksi dengan menghadirkan transaksi nontunai dan pembayaran secara cashless ,” kata Direktur Utama Bank Sumsel Babel Achmad Syamsudin dalam wawancara penjurian TOP BUMD Awards 2021 yang diselenggarakan Majalah Top Business secara virtual pada Senin, 21 Juni 2021.
Achmad Syamsudin menyebut saat ini Bank Sumsel Babel telah mengimplementasikan beragam teknologi digital baik dalam operasional maupun transaksi perbankannya. Ini seperti inovasi mobile banking, yakni layanan aplikasi perbankan berbasis android dan IoS dengan beragam fitur yang memudahkan transaksi perbankan nasabah Bank Sumsel Babel.
Selain itu ada juga BSB Cash, yakni Uang Elektronik Bank Sumsel Babel yang saat ini sudah bisa digunakan untuk system pembayaran non tunai pada uji KIR di Unit Penguji Kendaraan Bermotor UPTD Pengelola Teknis Perhubungan Kabupaten Bangka Tengah (Bateng).
Yang tebaru, pada Agustus 2020 lalu Bank Sumsel Babel juga mulai mengimplementasikan transaksi nontunai dengan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dari Bank Indonesia. QRIS merupakan jaringan pembayaran yang menggunakan QR Code untuk membantu merchant menerima pembayaran dari semua aplikasi berbasis QR di Indonesia. Pembayaran QRIS dapat dilakukan di seluruh merchant yang dapat menampilkan QRIS sesuai template yang telah dilakukan oleh BI.
“QRIS ini merupakan inovasi Bank Sumsel Babel di tengah pandemi sehingga msyarakat tidak perlu khawatir lagi bertransaksi menggunakan uang tunai lagi karena tinggal scan barcode saja maka pembayaran bisa dilakukan,” terangnya.
Dia menerangkan sudah menjadi keharusan dunia perbankan saat ini untuk dapat bertransformasi menjadikan layanannya lebih simpel, cepat, akurat dan efisien, dengan tetap mengutamakan keamanan bagi nasabahnya.
Ia menjelaskan awalnya Bank Sumsel Babel telah membangun sistem quick response sendiri. Namun dalam perjalanannya, perusahaan menilai sistem tersebut malah menyulitkan nasabah dan merchant. Oleh karena itu, Bank Sumsel Babel pun mengajukan diri untuk bergabung dalam sistem pembayaran QRIS yang dirancang Bank Indonesia.
“Dengan demikian melalui QRIS maka konsumen maupun merchant akan mendapat kemudahan dalam transaksi nontunai,” katanya.
Dia memaparkan penggunaan QRIS sangat menguntungkan karena selain bersifat cashless, QRIS dapat ditransaksikan dari berbagai aplikasi berbasiskan mobile baik yang dikelola oleh lembaga perbankan maupun nonperbankan, karena sifatnya universal dan terintegrasi. Terhadap nasabah tidak dibebani biaya apapun.
Untuk penambahan merchant, lanjut Syamsudin, perusahaan bakal menggandeng sejumlah asosiasi UMKM, seperti asosiasi pempek dan restoran Padang. Menurut dia, UMKM kuliner merupakan sasaran utama dalam pengembangan transaksi QRIS di Sumsel. Perusahaan pun menargetkan dapat menggandeng 2.000 UMKM dari berbagai sektor usaha sebagai merchant QRIS.
“Tapi memang fokusnya di sektor pangan karena ini terbukti mampu bertahan, mau resesi atau tidak resesi, masyarakat tetap butuh makan,” kata Syamsud
Kehadiran QRIS Bank Sumsel Babel ini juga merupakan bentuk komitmen dari Bank Sumsel Babel untuk senantiasa memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi nasabah Bank Sumsel Babel dalam bertransaksi pada pandemi Covid-19. Diharapkan penggunaan layanan QRIS selain ikut menyukseskan program Cashless Sociate juga dapat turut membantu menekan penyebaran Covid-19.
“Kami juga berharap kehadiran QRIS pada aplikasi mobile banking kami ini penetrasi merchant QRIS maupun pengguna QRIS melalui layanan Bank Sumsel Babel Mobile Banking terdapat peningkatan yang signifikan,” ujar Achmad Syamsudin.
Achmad Syamsudin mengakui Bank Sumsel Babel merupakan perbankan yang cukup potensial untuk meningkatkan transaksi nontunai dengan QRIS, terutama untuk segmen pengguna yang berasal dari ASN di lingkungan pemerintah daerah.
Bahkan, kata dia, Bank Sumsel Babel telah merancang ekosistem keuangan digital dengan menggunakan QRIS di lingkungan pemerintah daerah.
“ASN di lingkungan pemerintah provinsi, kabupaten dan kota di Sumsel maupun Babel merupakan nasabah kami, jadi kami sudah dapat segmen pengguna. Nanti, makan siang di kantin kantor bisa bayar pakai QRIS,” kata Syamsudin.
Berperan dalam Pembangunan Daerah
Achmad Syamsudin mengatakan sebagai BPD, Bank Sumsel Babel perlu berperan dalam kemajuan daerah. Salah satunya berkontribusi terhadap pembangunan infrastruktur lewat kucuran kredit. Untuk pemulihan perekonomian di Sumsel dan Babel, bank tersebut juga gencar penyaluran kredit bagi pemerintah daerah untuk digunakan sebagai sumber dana pembangunan infrastruktur.
“Kredit ini sifatnya dana talangan karena sekarang kan dana mereka terpakai untuk penanganan Covid-19,” katanya.
Dia mengemukakan pihaknya pun siap menyalurkan pembiayaan dengan nilai besar kepada pemda. Salah satunya melalui strategi sindikasi dengan BPD lain yang tergabung dalam Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda)
Adapun untuk kucuran bantuan pemulihan ekonomi, terutama UMKM bank Sumsel Babel yang terdampak covid-19 yakni sebesar Rp5 miliar. Besaran bantuan CSR yang disalurkan bank sumsel babel dalam rangka pencegahan dan penanggulangan covid-19 di Sumsel dan Babel yakni sebesar Rp1,5 miliar. Jumlah debitur UMKM bank Sumsel Babel mencapai 17.911 nasabah dengan baki debet mencapai Rp1,6 triliun (dari 14 sektor ekonomi) dengan sektor penyumbang terbesar berasal melalui sektor perdagangan besar, konstruksi, dan pertanian
Khusus untuk sektor pertanian, Bank Sumsel Babel telah membentuk sistem klaster untuk penyaluran KUR di sektor pertanian yang telah mulai di uji coba pada Juli 2020 lalu. Sistem Klaster ini disinyalir merupakan model ideal untuk penyaluran KUR, apalagi mengingat nominal kredit untuk produksi pertanian bagi setiap petani tidak begitu besar. Jika diberikan dalam satu kelompok maka akan lebih efektif, perbankan pun tak perlu menyiapkan banyak SDM untuk mengurus penyaluran kredit. Alur KUR Klaster Pertanian secara umum melibatkan 3 pihak, yakni petani, mitra usaha, dan perbankan.
Kinerja tetap Cemerlang
Meski pandemi, Bank Sumsel Babel mampu menunjukkan kinerja yang tetap apik. Hal itu tampak dari beberapa indikator, seperti aset, dana pihak ketiga (DPK), kredit, hingga laba.
Berdasarkan laporan RUPS yang di hadiri seluruh Pemegang Saham Bank Sumsel Babel tahun buku 2020, bank plat merah tersebut men-catatkan dividen Rp212 Miliar YoY (year on year ) tumbuh 16,72% dari tahun buku 2019 Rp181.5 Miliar. Sementara itu, Laba Tahun 2020 sebesar Rp552 Miliar YoY atau tumbuh 12,78% dibanding Tahun 2019 sebesar Rp489miliar “
Achmad Syamsudin mengatakan, untuk Laba bersih setelah pajak tahun 2020, Bank Sumsel Babel mengalami peningkatan yang cukup baik yakni sebesar 423,6miliar YoY atau tumbuh 16,72% dibandingkan tahun buku 2019 Rp362.9 Miliar.
“Peningkatan Laba ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga 0,27% dan penurunan beban bunga sebesar 6,12% dibanding tahun 2019,” ucap dia. Untuk kinerja selama tahun 2020, Bank Sumsel Babel juga mengalami peningkatan atau pertumbuhan yang cukup baik dibeberapa sektor antara lain Sumsel babel :
- Aset : Rp28.05Triliun YoY tumbuh 0.27% dibanding Tahun 2019 Rp27,98 Triliun
- Kredit :Rp17.54 Triliun YoY tumbuh 5.86% dibanding Tahun 2019 Rp16,57 Triliun
- DPK (Dana Pihak Ketiga) Rp21.10 Triliun YoY menurun 2.89% dibandingTahun2019 Rp21,73 Triliun
Dengan jumlah total pegawai mencapai 3279 orang, Bank Sumsel Babel sampai dengan penghujung tahun 2020 telah memiliki sebanyak 774 jaringan outlet yang tersebar di Provinsi Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung dan DKI Jakarta yang terdiri dari kantor pusat, kantor fungsional, 29 unit Kantor Cabang, 55 unit Kantor Cabang Pembantu, 144 unit Kantor Kas, 61 unit Kantor Payment Point, 466 unit ATM dan 18 unit CDM.
Penulis: Abi Abduljabbar Sidiq
