Jakarta, TopBusiness – Di tengah berbagai tantangan berat yang dihadapi para pelaku bisnis akibat dampak pandemi covid-19, PT BPR Bank Tulungagung (Perseroda) sepanjang 2020 menorehkan kinerja bisnis yang solid serta prestasi yang membanggakan.
Dari sisi jumlah kredit yang diberikan, aset, pendapatan, dan laba bersih semuanya di atas target yang ada dalam rencana bisnis bank (RBB) tahun 2020. Hanya dana pihak ketiga ketiga (DPK) yang menurun tipis. Bank Tulungagung tahun 2020 dianugerahi penghargaan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk Kategori Sekolah Terbaik dalam Implementasi Program Simple.
Hal itu terungkap dalam sesi presentasi dan wawancara Penjurian TOP BUMD Awards 2021 yang menghadirkan finalis dari PT BPR Bank Tulungagung (Perseroda), akhir pekan lalu. Hadir dalam penjurian ini Direktur PT BPR Bank Tulungagung Suhermin SE dan beberapa staf BPR ini.
Suhermin menjelaskan, tingkat kesehatan Bank Tululungagung pada 2020 cukup baik terutama dilihat dari likuiditas (CAR), LDR, ROA, dan BOPO. Tingkat CAR berada di angka 45,09, LDR sebesar 83,80, ROA 3,60, dan BOPO di angka 78,70.
“Walaupun ada POJK nomer 11 Tahun 2020 agar BPR merestrukturisasi kredit dari debitur yang terdampak covid, Alhamdulillah Bank Tulungagung masih dalam kategori sehat,” kata Suhermin.
Kinerja bisnis Bank Tulungagung tahun 2020 yang berada di atas target awal tahun dan realisasi kinerja 2019. Target kinerja sesuai Rencana Bisnis Bank (RBB) tahun 2020 yang disetujui Dewan Komisaris Bank Tulungagung adalah, untuk Kredit yang Ddiberikan (KYD) Rp 151,55 miliar. Total aset Rp 186,76 miliar, Dana Pihak Ketiga (DPK) Rp 120,49 miliar, serta laba Rp 4,37 miliar. Realisasi atau pencapaiannya untuk KYD sebesar Rp 151,75 miliar, total aset sebesar Rp 187,83 miliar, DPK Rp 120,94 miliar, Laba Rp 4,65 miliar
Dibanding dengan tahun 2019 untuk kinerja kredit tercatat ada pertumbuhan dari Rp 148,91 miliar menjadi Rp 151,75 miliar pada 2020. Pendapatan juga naik dari Rp 27,21 miliar (2019), menjadi Rp 27,95 miliar. Namun, untuk DPK pada 2020 turun menjadi Rp 121,8 miliar dibadingkan pada 2019 sebesar Rp 124,04 miliar.
“Di masa pandemi banyak sekali deposito ditarik nasabah untuk dipindah ke bank umum. Tapi alhamdulillah pada 2021 ini deposito sudah kembali lagi karena sosialisasi dan dukungan pemegang saham dalam hal ini Bupati yang menyatakan bahwa meskipun di masa pandemi BPR tetap bisa bertahan,” kata Suhermin.
Meskipun pendapatan naik, laba Bank Tulungagung sedikit menurun karena adanya program restrukturisasi kredit untuk debitor terdampak covid yang merupakan kebijakan OJK. Restrukturisasi yang diberikan BPR ini antara lain pembebasan biaya bunga, penundaan pembayaran pokok, penundaan pembayaran pokok dan bunga, dan perpanjangan jangka waktu.
Kinerja Bank Tulungagung tertolong karena porsi kredit modal kerja yang mendapat restrukturisasi hanya sekitar 35 persen. Sebagian besar atau 65 persen merupakan kredit multiguna.
Terkait Program Simple yang mendapat penghargaan dari OJK pada 2020, menurut Suhermin, pihaknya dalam program ini aktif melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah SD dan madrasah ibtidaiyah untuk memperkenalkan simpanan pelajar.
Tata Kelola SDM dan Perusahaan
Menurut Suhermin, Bank Tulungagung telah mengeksekusi strategi bisnis yang telah dituangkan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) selaras dengan sistem manajemen SDM yang dibangun. Penempatan pegawai pada posisi yang menuntut tanggung jawab lebih besar harus melalui serangkaian penilaian secara berjenjang mulai dari atasan langsung dan sampai ke level direksi.
“Sebagai contoh, pengisian Kepala Kantor Kas untuk pembukaan Kantor Kas baru sebagaimana yang sudah ditetapkan dalam RBB telah melewati masa penugasan sebagai AO minimal tiga tahun dan memiliki prestasi penjualan kredit yang baik dengan NPL yang terkendali selama periode penilaian, serta direkomendasikan oleh atasan langsung dan finalisasi penilaian di jenjang direksi,” tutur dia.
Manajemen Bank Tulungagung juga berupaya meningkatkan kompetensi SDM, direksi, dan komisaris/pengawas. Peningkatan kompetensi SDM itu menjadi hal penting bagi kemajuan Bank Tulungagung.
“Pelatihan secara in house di lingkungan bank rutin dilakukan, menunjuk pegawai terkait untuk mengikuti pelatihan yang diselenggarakan OJK, Infobank, dan asosiasi seperti Perbarindo dan Perbamida,” kata Suhermin.
Untuk direksi dan komisaris, kata dia, harus mengikuti sertifikasi menjadi suatu kewajiban sebelum menjabat dan termasuk pemeliharaan masa berlaku sertifikasi (surveillance) tersebut. Pihak manajemen juga mengikutkan direksi dan komisaris dalam seminar atau pelatihan yang relevan untuk meng-up date pengetahuan guna merespons kondisi dan situasi bisnis usaha yang cenderung berubah.
Terobosan lain yang dilakukan manajemen Bank Tulungagung di bidang Human Capital adalah mempersiapkan SDM dalam menghadapi perkembangan bisnis dan menjawab tantangan operasional perbankan yang dinamis. Saat ini, pegawai yang dominan di Bank Tulungagung relatif masih muda (kaum milenial) dengan usia 24 tahun sampai 37 tahun.
“Mereka dilakukan pembinaan dan kaderisasi untuk dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan dapat mengisi posisi atau jabatan sesuai dengan perkembangan perusahaan Bank Tulungagung,” kata Suhermin.
Mengenai sistem Manajemen Kinerja di BPR Bank Tulungagung sudah tertuang dalam peraturan perusahaan mulai tahap rekruitmen karyawan sampai dengan pelatihan dan penempatan karyawan sesuai job description.
Pihak manajemen juga melakukan monitoring setiap bulan untuk melihat pencapaian RBB masing-masing karyawan. “Setiap hari senin kita melakukan meeting bersama antara kepala kas dengan direksi, juga kabag untuk melihat pencapaian setiap minggu, tekait deposit, kredit, dan NPL,” ujar Suhermin.
Bank Tulungagung melakukan pengkajian ulang pencapaian RBB setiap bulan dan setiap semester. Pihak manajemen juga memberikan reward kepada karyawan yang berprestasi dan mencapai target berupa hadiah atau promosi jabatan. “Contohnya ada kepala kas yang prestasinya bagus karena kredit, tabungan dan deposito bagus dan NPL terkendali itu bisa kita promosikan sebagai Kasubag,” ucapnya.
Terkait pemanfaatan teknologi informasi (TI), Bank Tulungagung menggunakan Core Banking System (CBS) untuk mempermudah layanan kepada nasabah dan masyarakat. “Kami juga berupaya melakukan perbaikan sistem atau inovasi bisnis sesuai arahan Perbarindo. Kita ada rencana cobranding untuk e-money dan e-cash dengan Bank Mandiri, tapi sampai saat ini kita belum dapat kepastiannya, menunggu kesiapan dari Bank Mandiri,” tutur dia.
Terkait IT ini, kata Suhermin, Bank Tulungagung juga melakukan pengembangan Internet Banking, pengembangan layanan penarikan tunai tanpa kartu atau ATM cardless, serta pengembangan aplikasi mobile banking.
Tata kelola perusahaan yang baik dari Bank Tulungagung ini juga tercermin dari skor penilaian GCG terhadap BPR tersebut dengan nilai komposit 1,86 (Baik).
Adaptasi New Normal
Untuk menghadapi kondisi new normal di masa pandemi covid-19, BPR Bank Tulungagung melakukan berbagai langkah. Pertama, sesuai surat dari Kementerian Kesehatan, Bank Tulungagung melakukan pembersihan dan disinfeksi secara berkala di area kerja dan area publik setiap 4 jam sekali.
“Kami juga menyediakan fasilitas cuci tangan yang memadai dan mudah diakses oleh nasabah,” kata dia.
Selain itu, menurut Suhermin, Bank Tulungagung juga melakukan pengecekan suhu badan bagi seluruh nasabah di pintu masuk. Jika ditemukan pekerja dengan suhu di atas 37,3C (dua kali pemeriksaan dengan jarak 5 menit), tidak diperkenankan masuk dan diminta untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. “Kami juga mewajibkan nasabah menggunakan masker,” ucapnya.
Selain itu, Bank Tulungagung memasang media informasi untuk mengingatkan pekerja, pelaku usaha, nasabah agar mengikuti ketentuan pembatasan jarak fisik dan mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir/handsanitizer serta kedisplinan menggunakan masker.
“Kami juga memberikan tanda khusus yang ditempatkan di lantai area padat pekerja seperti ruang ganti, lift, dan area lain sebagai pembatas jarak antar pekerja. Selain itu, menggunakan pembatas atau partisi misalnya flexy glass di meja atau counter sebagai perlindungan tambahan untuk pekerja (kasir, customer service dan lain-lain),” tutur dia.
Untuk mengurangi tatap muka, Bank Tulungagung mengurangi waktu layanan dan lebih mengarahkan nasabah untuk transaksi lewat transfer rekening bank. “Selama PPKM ini kita mengurangi tatap muka yang biasanya jam operasional mulai pukul 08.00 WIB sampai jam 15.00 WIB, dikurangi jadi dari jam 08.00 WIB sampai jam 13 siang,” ucap dia.
Kontribusi BUMD
Tak hanya mencari laba, Bank Tulungagung sebagai BUMD milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulungagung memberikan kontribusi terhadap pemda dan pembangunan daerah. Kontribusi tersebut antara lain berupa setoran PAD yang berasal dari laba perusahaan.
Sesuai ketentuan, Bank Tulungagung memberikan 55 persen laba untuk disetorkan ke Pemkab Tulungagung dalam bentuk PAD. Sisanya untuk cadangan 20 persen, program tanggung jawab sosial (CSR) 3 persen, Tantiem 4 persen, Jasa Produksi 8 persen, dan Dana Kesejahteraan 10 persen.
Bank Tulungagung juga berkonrtibusi membantu Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dengan menyalurkan kredit UKM dengan bunga murah hanya 0,5 persen per bulan yang bersumber dana dari modal penyertaan.
Kontribusi lainnya adalah memberikan stimulus kepada debitur yang terdampak covid dengan restrukturisasi kredit. “Kami juga memberikan bantuan sembako untuk masyarakat terdampak covid,” ucap Suhermin.
