Mengakselerasikan sektor pariwisata yang mati suri gegara Covid-19, ada resep yang digelontorkan pemerintah atau pun para pemangku kepentingan. Kira-kira seperti apa hasilnya?
Ini memang sedang masa darurat Covid-19 di Indonesia. Namun, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sandiaga Uno, ibarat bergerak ke delapan penjuru angin, demi mengakselerasi pergerakan sektor pariwisata di tanah air ini. Bagi menteri yang dulu populer di kalangan bisnis sebagai konglomerat muda tersebut, membangunkan kembali sektor pariwisata yang mati suri sebagai akibat Covid-19, adalah keniscayaan.
Dan sudah tentu bahwa aktivitas tersebut mesti digelar saksama demi menihilkan risiko penyebaran virus maut tak diundang tersebut. Perhatikan, belum lama ini, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menggandeng Tiket.com demi adanya sentra vaksinasi anti-Covid-19 untuk pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif. Adapun lokasinya di RS St. Carolus, Jakarta Pusat. Kata Sandi, “Program ini menargetkan sebanyak 12.000 vaksinasi dan akan difokuskan untuk pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif,” papar Sandi.
Ditambahkannya, “Sentra vaksin ini akan berlangsung selama 13 hari, ini kita perlu apresiasi.”
Memang bukanlah hal enteng untuk mengakselerasi kembali sektor pariwisata di tanah air ini, yang mati suri sebagai akibat dampak Covid-19. Sejumlah indikator angka memerlihatkan beratnya dampak tersebut.
Kini, marilah beranjak ke data seperti itu. Misalnya data dari Badan Pusat Statistik RI (BPS RI). Nah, pertama, marilah menyibak jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia. Dalam lingkup tersebut, statistik BPS menjelaskan bahwa untuk periode Januari 2021 sampai April 2021, kunjungan wisman sebanyak 511.440. Angka tersebut terkoreksi tajam sebesar 81,78% manakala dibandingkan periode yang sama tahun 2020 yang mencapai 2.807.397 kunjungan.
Ketika kita bandingkan dengan pencapaian tahun 2019—sebelum adanya Covid-19—maka angka kunjungan wisman tersebut lebih njomplang lagi. Lihatlah, pada Januari-April 2019, angka tersebut bisa mencapai 5.031.873. Maka, pencapaian pada Januari-April 2021 yang di 511.440, hanya sekitar 10% dibandingkan periode yang sama 2019, bukan? Dan inilah ilustrasi efek amuk dahsyat Covid-19 ke sektor pariwisata RI.
Walau begitu, ada sedikit perkembangan bagus dalam hal angka lain yang masih terkait dengan sektor pariwisata. Itu persisnya adalah dalam angka penumpang transportasi udara untuk domestik atau pun internasional. Mari kini kembali menyibak data dari BPS RI, lembaga yang berkantor pusat di Pasar Baru (Jakarta Pusat) tersebut.
Penumpang penerbangan domestik di April 2021 tercatat sebanyak 2,79 juta orang; angka ini naik 233% ketika dibandingkan year on year dengan April tahun 2020. Kalau dibandingkan dengan Maret 2021 (month to month), maka ada kenaikan 5,62%.
Bagaimana dengan penerbangan internasional? Begini, di April 2021, ada jumlah penumpang di kisaran 44.000. Angka ini naik sekitar 67,31% ketimbang di April 2020.
Walau begitu, ada satu hal yang perlu disimak ekstra penting. Yakni kalau angka penerbangan domestik atau pun internasional Januari-April 2021, dibandingkan year on year dengan periode yang sama 2020, masih ada kontraksi. Persisnya, untuk penerbangan domestik, ada kontraksi -44,71%. Sedangkan untuk penerbangan internasional, kontraksi itu di -95,06%.
Kemudian, untuk indikator lain yang terkait dengan sektor pariwisata yakni tingkat hunian hotel berbintang, ada kenaikan pada April 2021. Tingkat hunian di April 2021 rata-rata di 34,63% atau naik daripada April 2020 yang di 12,67%.
Sudah pasti bahwa ada banyak data lain terkait kondisi terkini sektor pariwisata, bukan? Serpihan data dari BPS tersebut hanyalah sebagian. Akan tetapi, sedikit-banyak, bisa memberi gambaran ke kita bahwa, saat ini, sektor pariwisata sudah sedikit bergerak—walau belum bisa dikatakan normal.
Terus Melangkah
Dalam alamat Instagram yang dimilikinya, pengamat pariwisata dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Dewi Turgarini, kerap mem-posting sejumlah aktivitas yang cukup intensif. Peraih gelar doktor pariwisata dari Universitas Gadjah Mada tersebut, antara lain, belum lama ini mem-posting perihal aktivitas Sertifikasi Kompetensi Kerja Skema Tour Operation, untuk tahun anggaran 2021.
Aktivitas itu adalah kolaborasi antara Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dengan Lembaga Sertifikasi Profesi Pariwisata dan Spa Indonesia. Sebagai penilai/penguji di program sertifikasi tersebut, Dewi berkata: “Tour operator adalah ujung tombak pariwisata. Alhamdulillah bertemu dengan para pemandu wisata.”
Via alamat Instagram, pengamat pariwisata tersebut pun acap memampangkan daya tarik destinasi wisata di seluruh Indonesia. Antara lain tentang destinasi wisata kreatif di Gunung Kidul (Daerah Istimewa Yogyakarta) yang diresmikan di Februari 2021; beberapa restoran yang menyajikan menu menarik berbasis budaya lokal; dan lain-lain.
Lain pula inisiatif saat Covid-19 yang digelar Jaswita Jabar, sebuah BUMD (badan usaha milik daerah) yang berkantor pusat di Bandung. Direktur Utama Jaswita Jabar, Deni Nurdyana, mengatakan bahwa pihaknya menggelar pertunjukan musik-tari, secara virtual alias melalui internet, saat masa Covid-19. Pun, perusahaan tersebut menggelar tur virtual heritage di di Grand Hotel Preanger, yang merupakan salah satu hotel milik perusahaan tersebut.
Direktur Keuangan dan SDM Jaswita Jabar, Shobirin Hamid, mengatakan bahwa pihaknya bekerja sama dengan perusahaan lain untuk tur virtual bertopik ‘Tour de Bandung’. Skema seperti itu sedang terus dikembangkan oleh unit bisnis Jaswita Jabar. “Saat ini, tur virtual seperti itu memang lebih tertuju ke para adventurer. Kami nantinya juga akan membidik kalangan masyarakat umum,” Shobirin menjelaskan.
Aktivitas seperti itu tentunya melambangkan bahwa para pemangku kepentingan sektor pariwisata di Indonesia, terus mencoba mengakselerasi kembali sektor tersebut, bukan?
Adapun sentakan akselerasi yang terbaru dari Pemerintah Indonesia, sudah tentu ada. Satu di antara itu adalah program Work from Bali (WFB) yang dicanangkan secara cukup intensif. Ada sejumlah pertimbangan jangka panjang untuk program tersebut.
Dalam satu seminar virtual gelaran Liputan6, Sandiaga Uno mengatakan bahwa salah satu pertimbangan WFB adalah: solidaritas. Ekonomi Pulau Bali telah terkontraksi selama empat kuartal akibat Covid-19. Pertumbuhan lapangan kerja pun terkontraksi. Padahal, sebelum Covid-19 ‘beredar’, sumbangsih pariwisata Bali ke devisa nasional, di 30%-an. “Jadi, esensi dari WFB adalah solidaritas dan pemulihan ekonomi Bali,” Sandi berkata.
WFB pun sekaligus menjadi persiapan bila nantinya pembatasan mobilitas dibuka, dan wisatawan mancanegara alias wisman kembali melimpah ruah ke Bali. WFB tak semata-mata untuk Bali, namun juga menjadi semacam ‘dongkrak ganda’ bagi level kepercayaan diri wisatawan domestik. “Maka, selain memicu efek ekonomi berupa naiknya tingkat hunian hotel dan aktivitas berbelanja, WFB juga betujuan mendongkrak level kepercayaan diri masyarakat,” Sandi menegaskan.
Pada kuartal tiga 2021, bila situasi di Bali membaik, maka area tersebut menjadi area pertama yang membuka batasan ke para wisatawan. WFB sejatinya merupakan bagian dari pergeseran ke remote working, dan transformasi tersebut memang dipercepat oleh kelahiran Covid-19.
Walhasil, nantinya WFB bisa berkembang menjadi WFY (Work from Yogyakarta), Work from Lombok (WFL), WFG (Work from Galeri), dan lain-lain. “Work from destination adalah hal baru yang berpihak kepada masyarakat yang membutuhkan. Kita akan all out demi pulihnya pariwisata Bali dan destinasi lainnya,” ucap Sandi lagi.
Perusahaan TI (teknologi informasi) terintegrasi terkemuka yakni Biznet, merespons positif kebijakan WFB; sebelum adanya dampak Covid-19 pun, perusahaan tersebut sudah membuka kantor pusat lain di Bali selain di Jakarta. Kini Biznet terus mengekspansikan jumlah kantor cabang atau pun jaringan layanan internet fiber optik di Bali.
Presiden Direktur Biznet, Adi Kusma, mengatakan bahwa sektor pariwisata di Bali mengalami penurunan sejak pandemi dan sangat banyak resort dan hotel yang terdampak dari segi operasional maupun pekerja. “Bayangkan berapa orang pekerja kehilangan pekerjaannya karena adanya kondisi ini. Adanya program Work from Bali ini menjadi sebuah titik terang bagi kebangkitan sektor pariwisata Bali,” kata dia.
Selain dipilih karena Bali telah memiliki infrastruktur internet yang merata dan memadai, tentunya Biznet menyambut baik program ini. “Dan kami mendukung penuh salah satunya dengan menjalankan proses perluasan jaringan di wilayah Bali, di mana saat ini Biznet sudah mempunyai 15 branch office di Bali dengan 5 branch office baru, dalam pembangunan.”
Selain itu, kata Adi, Biznet menjalin kerja sama dengan lebih banyak hotel, sehingga mereka yang bekerja secara online bisa bekerja dengan nyaman dengan dukungan koneksi internet yang cepat dan stabil.
Pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, berpendapat bahwa ketika nantinya berhasil, program WFB berpotensi sekaligus mengangkat nama RI pada mata dunia internasional. Jadi, berjalannya WFB bukan sekadar persoalan memulihkan pariwisata dan perekonomian Bali. “Partisipasi pun,” Trubus berkata, “tentu perlu ada dalam WFB. Termasuk dalam pengawasannya.”
Papar Trubus pula, WFB merupakan entry point yang tepat untuk menaikkan tingkat kepercayaan diri masyarakat. “Program tersebut dilakukan komprehensif untuk pemulihan ekonomi dan kepercayaan diri publik,” Trubus berkata.
Maka, ketika ‘resep’ pemulihan sektor pariwisata sudah digulirkan oleh Pemerintah RI dan para pemangku kepentingan sementara badai Covid-19 belum raib, bagaimana kira-kira hasilnya? Sudah tentu bahwa kita semua berharap adanya hasil yang sangat baik, bukan?
(Tulisan Ini Sebelumnya Ditampilkan di E-Magz Majalah TopBusiness Edisi Juli 2021)
