Pemerintah terus menggenjot Sistem Resi Gudang di beberapa daerah. Jumlah komoditas pun diperluas agar bisa disimpan di resi gudang. Asa pun mulai mencuat. Cuma, sayangnya, daya tarik resi gudang belum sepenuhnya terkembang. Padahal, bisa jadi penopang perekonomian.
Siang itu, Minggu, 25 April 2021, Anies Baswedan berkunjung ke Ngawi, Jawa Timur. Dibalut baju dinas warna putih, Gubernur DKI Jakarta tersebut disambut Bupati Ngawi, Ony Anwar dan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Rupanya, kedatangan Anies bukan sekadar untuk melancong, melainkan menjalin kerja sama Sistem Resi Gudang (SRG) di Kabupaten Ngawi.
Dengan kerja sama ini, nantinya PT Food Station Tjipinang Jaya, BUMD asal DKI sekaligus sebagai pengelola SRG menggaet PT Daya Tani Sembada dan Kelompok Tani Sido Rukun di Kecamatan Geneng, di Kabupaten tersebut yang akan menyerap gabah mereka untuk pasokan beras di Ibukota.
Biasanya, kata Anies, saat panen raya gabah kering panen dihargai sangat rendah. Dengan kerja sama SRG ini, Food Station sebagai pengelola akan membantu menjadi stand by buyer, harganya cukup baik. “Sehingga, para petani tak perlu buru-buru menjual gabah mereka di harga rendah,” tutur orang nomor satu di DKI itu. “Tapi menyimpannya terlebih dahulu, meningkatkan kualitas, baru dijual di harga yang stabil.”
Direktur Utama Food Station, Pamrihadi Wiraryo menambahkan, khusus untuk kerja sama dengan Kelompok Tani Sido Rukun itu, merupakan kerja sama yang baru dilakukan. “Kami, Food Station akan menjadi stand by buyer dan menyerap hasil panen Gapoktan Sido Rukun,” ungkap Pamrihadi.
Lantas, apa itu Resi Gudang (RG) dan SRG? Sejatinya, menurut Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan, Indrasari Wisnu Wardhana regulasi mengenai hal ini sudah diatur lama sejak 2006 silam melalui UU No. 9 tahun 2006 tentang SRG sebagaimana diubah dengan UU No. 9 tahun 2011.
Lalu, aturan di bawahnya, PP No. 36 tahun 2007, sebagaimana diubah dengan PP No. 70 tahun 2013, Peraturan Menteri Keuangan No. 171/PMK.05/2009 tentang Skema Subsidi RG, dan Permendag No. 14 tahun 2021 tentang Barang dan Persyaratan Barang yang Dapat Disimpan dalam SRG.
Berdasar regulasi itu, RG (Warehouse Receipt) adalah dokumen atau surat bukti kepemilikan barang yang disimpan di gudang yang diterbitkan oleh pengelola gudang tertentu (yang telah mendapat persetujuan dari Bappebti Kemendag).
Adapun SRG (Warehouse Receipt System) merupakan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan penerbitan, pengalihan penjaminan, dan penyelesaian transaski Resi Gudang.
Kata dia, SRG kini telah menjadi solusi bagi para petani untuk pengendalian stok saat musim panen. “Sebab biasanya, saat itu harga komoditas turun, sehingga SRG ini bisa menjadi skema untuk mitigasi risiko atas fluktuasi harga komoditas yang terjadi,” ungkap Wisnu dalam satu diskusi online, Reaktualisasi Sistem Resi Gudang, baru-baru ini.
Sejauh ini, berdasar Permendag itu, ada 20 komoditas yang bisa disimpan di gudang SRG, yaitu gabah, beras, jagung, kopi, kakao, karet, garam, lada, pala, ikan, bawang merah, rotan, kopra, teh, rumput laut, gambir, timah, ayam karkas beku, gula kristal putih, dan kedelai.
Adapun untuk jumlah gudang SRG sendiri, sejak periode 2009 hingga April 2021 telah ada 123 gudang yang dibangun dan didanai Kemendag dan 83 gudang non Kemendag. Gudang ini tersebar di 105 kabupaten/kota yang tersebar di 25 provinsi.
Selain sebagai instrumen tunda jual atau manajemen stok, SRG juga menjadi instrumen pembiayaan perdagangan dengan jaminan barang (komoditas) yang disimpan di gudang. Sehingga dapat memberikan akses permodalan usaha bagi para pelakunya, terutama bagi petani dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Akan tetapi, sebut dia, salah satu persoalan SRG di tengah pandemi Covid-19 adalah suku bunga kredit yang tinggi di angka 6 persen. Hal ini, menurutnya, cukup membebani para petani dalam menitipkan hasil panennya kepada pemilik gudang SRG. “Suku bunga 6 persen ketinggian dalam kondisi saat ini. Suku bunga itu untuk produk pertanian tidak pas lagi kalau 6 persen. Supaya bisa lebih turun lagi dari 6 persen,” pinta Indra.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian mengalami pertumbuhan signifikan selama pandemi Covid-19 di tengah resesi ekonomi. Sepanjang kuartal I-2021, di saat ekonomi masih terkontraksi -0,74%, sektor pertanian justru tumbuh 2,95% secara year on year (yoy) dan menjadi bantalan resesi. Adapun untuk sub sektor tanaman pangan menyumbang 10,32% secara yoy dari sebelumnya yang -10,29%.
Sementara itu, selama covid-19 ini, data BPS hingga 5 Mei 2021, telah menaikkan angka kemiskinan sampai 27,55 juta (10,19%). Dari angka tersebut, mayoritas orang miskin tinggal di pedesaan (12,04 juta atau 7,88%).
“Mereka (yang masuk angka kemiskinan di pedesaan) itu adalah petani, buruh tani, dan lainnya. Sehingga ada fenomena ruralisasi,” terang ekonom senior INDEF sekaligus guru besar Universitas Lampung, Bustanul Arifin, dalam diskusi yang sama.
Pacu Perekonomian
Pemerintah sendiri, melalui Kemendag terus mendorong penggunaan SRG untuk menggeliatkan perekonomian nasional. Upaya pemerintah tersebut telah ditempuh dengan memperkuat implementasi SRG tahun ini yang meliputi penambahan komoditas yang dapat diresigudangkan, penyempurnaan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) mengenai skema subsidi resi gudang, dan percepatan beroperasinya Lembaga Pelaksanaan Penjaminan SRG.
“SRG di Indonesia akan terus berkembang untuk dimanfaatkan pelaku usaha,” sebut Wakil Menteri Perdagangan, Jerry Sambuaga, belum lama ini. Menurutnya, penggunaan SRG ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani, petambak, nelayan, peternak, dan pelaku usaha mikro kecil lain, terutama yang bergerak di sektor komoditas.
Pemanfaatan SRG juga, kata Wamendag, ditargetkan dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi di daerah, yang juga akan berkontribusi terhadap pemulihan perekonomian nasional (PEN). Peningkatan partisipasi pelaku usaha dan kelembagaan di SRG berdampak langsung terhadap nilai pemanfaatan SRG yang menunjukkan pertumbuhan positif.
Pada 2020 lalu, nilai transaksi resi gudang tercatat mencapai Rp191,2 miliar atau tumbuh 72% dibanding 2019. Nilai pembiayaan dengan jaminan resi gudang juga meningkat 84% dibanding 2019 menjadi senilai Rp117,7 miliar.
“Saya harap implementasi SRG di daerah tak hanya berjalan di gudang SRG dari dana pemerintah, namun semakin luas dengan gudang yang dimiliki pelaku usaha di daerah. Sehingga, manfaat SRG akan semakin luas dinikmati masyarakat,” imbuh Jerry.
Komoditas Unggulan SRG
Bustanul kembali menegaskan, sejauh ini SRG banyak mentransaksikan komoditi gabah, kopi, dan beras. Data selama tiga tahun ini, 2018-2020, untuk komoditi gabah dari 3.047 resi, terdapat volume gabah 89.546,78 ton atau senilai Rp483,02 miliar, dengan pembiayaan mencapai Rp282,42 miliar.
Lalu kopi dengan volume 2.433,63 ton dari 148 resi dengan nilai Rp156,75 miliar dengan kredit mencapai 98,10 miliar. Selanjutnya beras, dengan resi 318, jumlah yang disimpan sebanyak 15.690,39 ton dengan nilai setara Rp136,76 miliar serta pembiayaan sebanyak Rp73,96 miliar.
Menurutnya, agar SRG ini berjalan efektif, perlu ada beberapa hal yang harus digarap. Seperti, komitmen dukungan pemerintah pusat dan daerah. Lalu, sarana dan prasarana gudang SRG yang memadai, adanya sumber daya manusia (SDM) pengelola gudang yang kompeten dan mandiri, akses pada lembaga uji mutu produk, adanya ketersediaan dan akses perbankan serta lembaga keuangan.
“Selanjutnya, perlu juga adanya lembaga penjamin SRG dan adanya kepastian pembeli (stand by buyer), ini yang penting,” katanya.
*Tulisan Ini Sebelumnya Dimuat di E-Magz Majalah TopBusiness Edisi Juli 2021
