
Jakarta, businessnews.id — Rilis data pengangguran Amerika Serikat pada Mei 2014 yang diperkirakan menunjukkan perbaikan diyakini akan menyeret pelemahan nilai tukar Rupiah dan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan). Kondisi ini perlu disikapi perbankan nasional dengan mewaspadai penyaluran kredit.
Hal tersebut seperti disampaikan Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM), Anthonius Tony Prasetiantono, di Jakarta, Senin (3/2/14).
“Mei itu momentum bagi IHSG untuk turun dan Rupiah melemah, karena pada Mei itu Amerika Serikat akan mengeluarkan data pengangguran yang bagus. Bank harus selektif memberikan kredit. Kartu kredit merupakan salah satu yang berpotensi meledak, karena sejak awal bunganya tinggi dan risikonya juga besar,” papar Tony.
Namun , jelas Tony, secara umum kondisi perbankan di Indonesia lebih memiliki daya tahan yang kuat untuk terimbas dari isu tapering off The Federal Reserve, AS. Karena, rasio kecukupan modal (CAR) perbankan masih kuat dan tingkat kredit bermasalah (NPL) masih sangat rendah. “Untuk kena imbas itu, menurut saya kecil kemungkinannya. Perbankan Indonesia tingkat profitabilitasnya kuat,” imbuhnya.
Selain mewaspadai pencairan kredit, jelas Tony, industri perbankan juga diharapkan untuk meningkatkan CAR. Apabila tantangan global dan domestik semakin kompleks, lanjut dia, bank-bank di Indonesia perlu menempuh langkah konsolidasi dalam upaya memerkuat daya tahan industri. (ABDUL AZIZ/DHI)