Jakata, businessnews.id- PT. Hitay Panas Energi/ perusahaan energi asal Turki menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknoligi (BPPT) untuk mengembangkan pembangkit energi panas bumi untuk menghasilkan listrik dengan kapasitas 300 Megawatt.
Managing Director PT Hitay Panas Energy, Julfi Hadi, mengatakan wilayah yang menjadi target proyek yang akan berlangsung hingga tahun 2019 mendatang berlokasi di Gunung Kembar, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh. Selain itu, proyek yang dilakukan tersebut merupakan upaya untuk mempercepat keinginan pemerintah menuju target pembangkit listrik.
“Target (energi listrik) 300 MW. Dari 100-an dulu supaya fase ini sukses. Kami akan coba pengeboran pertama. Desember tahun depan mulainya. Insya Allah lima sampai enam tahun ke depan mulai operasi,” ujar Julfi disela MoU dengan Kepala BPPT Unggul Priyanto di Jakarta, kemarin.
Menurut Unggul, BPPT berperan melakukan kajian dan meriset mengenai pembangkit panas bumi. Apalagi, potensi energi panas bumi bila dimanfaatkan secara menyeluruh akan menghasilkan sekitar hampir mencapai 29 GW. Sementara Indonesia baru memanfaatkan sekitar 1440 MW. “Energi panas bumi, merupakan energi yang sangat diandalkan di tanah air. Karena sumber energi listrik lainnya, seperti batubara, air dan energi angin, sudah tidak memadai lagi di Indonesia,” jelasnya.
Senada dengan Unggul, Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material (TIEM) Hammam Riza mengatakan, pengembangan lapangan panas bumi memerlukan investasi yang sangat besar dengan resiko kegagalan yang tinggi. Hanya perusahaaan besar dengan permodalan kuat yang mau berinvestasi di bidang energy panas bumi
Di tempat yang sama, HSE & Field Manager PT Hitay Panas Energy, Nurkholis Hariyadi mengatakan kerjasama ini untuk mempercepat pengembangan energi panas bumi di Gunung Kembar, Aceh. “Ahli-ahli di bidang panas bumi tidak terlalu banyak. BPPT mempunyai sumber daya manusia yang kami pandang cukup untuk mengisi kekosongan ini. Karena itu kita jalin sinergi yang baik antara BPPT dan Hitay,” lanjut Nurkholis.
Saat ini di Gunung Kembar sedang diadakan pre-feasibility study yaitu survei geologi, biologi, geofisika dan geokimia yang memerlukan waktu 3-6 bulan. “Setelah itu baru eksplorasi sekitar 3-5 sumur untuk mencari data yang lebih detail lagi. Setelah itu baru dibangun pembangkit tenaga listrik. Keseluruhannya memerlukan waktu sekitar 5 tahun,” kata Nurkholis.
Menurut Nurkholis, untuk membangun pembangkit listrik panas bumi 100 MW memerlukan investasi kurang lebih 400-500 juta USD. Lebih besar daripada minyak dan gas. “Tapi energi panas bumi merupakan renewable energy yang tidak akan pernah habis,” pungkasnya.