Jakarta, TopBusiness – Kinerja semen nasional yang masih penuh tantangan selama pandemi Covid-19 ini. Begitu pun dirasakan oleh PT Semen Padang. Anak usaha dari PT Semen Indonesia (Persero) Tbk atau SIG ini terus menggali strategi untuk bisa menggenjot penjualan saat ini.
Beberapa yang dilakukan adalah seperti memanfaatkan megaproyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) sebagai pasar utamanya, menggenjot pasar ekspor baik itu untuk semen jadi atau semen setengah jadi (klinker), serta memacu penjualan ritel di pasar di Pulau Sumatera bagian utara ini.
Hal ini seperti disampaikan oleh Direktur Keuangan Semen Padang, Tubagus Muhammad Dharury di depan media saat melakukan kunjungan ke pabrik Semen Padang, di Wisma Indarung, Padang, dikutip Jumat (26/11/2021).
“Selama pandemi produksi semen ini salah satu yang bisa dikata kita terbantu dengan adanya Trans Sumatera ini. Tapi pasar ritel tidak berpengaruh (terhadap produksi) di Sumatera,” jelas dia.
Disebutkannya, kapasitas produksi produsen semen tertua ini tak banyak berkurang di sepanjang tahun berjalan ini. “Jadi, salah satu blessing in disguise di Semen Padang ini adalah pembangunan jalan tol Trans Sumatera yang sejak 2019 itu,” lanjutnya.
Namun begitu, lebih jauh disebutkan Tubagus, beberapa proyek yang akan rampung tahun ini tetap menjadi tantangan bagi penjualan Semen Padang.
Untuk itu, pihaknya sudah melakukan banyak antisipasi. Salah satunya menggenjot pasar ekspor, tak hanya untuk produk semen tapi juga klinker. Tercatat, Semen Padang melakukan ekspor klinker ke Asia Selatan seperti Bangladesh. Sedangkan ekspor semen jadi ke Australia
“Antisipasi kami berkordinasi dengan SIG Goup dalam ekspor. Sebagian sudah ekspor semen ke Australia. Jadi itu antisipasi kita mepertahankan kinerja selama pandemic supaya tidak terlalu tertekan,” jelasnya.
PT Semen Padang merupakan pemilik pabrik semen pertama di Asia Tenggara yang didirikan pada 1910. Perseroan efektif memproduksi semen sejak 1913 hingga sekarang.
Kapasitas produksi Semen Padang saat ini mencapai 8,9 juta ton per tahun dari 5 pabrik. Adapun pabrik pertama milik perseroan yaitu Indarung 1 telah berhenti beroperasi pada 1999 dan direncanakan untuk dijadikan museum.
FOTO: TopBusiness
